
...***Bertemu lagi***...
“Ra, Dean barusan landing. Mau jemput ngak?” Ucapan Dania tanpa ancang ancang, membuat Zahra sempat hilang fokus saat mengemudi.
“Ha-ah? Landing?” Serunya kaget.
“Kenapa kaget gitu sih, Ra?” Dania menoleh, menatap wajah Zahra yang terlihat gugup.
“Mati aku! Nia, aku lupa!” Teriaknya sembari memarkirkan mobil di pinggir jalan.
“Lupa apaan sih, Ra. Jangan heboh deh ya!” Sahut Intan dari belakang.
Zahra menepuk-nepuk keningnya, lalu menunduk, menaruhnya di stir kemudi. “Dean kemaren bilang, mau anterin aku ke Pengadilan Agama.”
Jawaban yang di tunggu-tunggu Intan dan Dania, rupanya hanya sebatas masalah sepele. Dania yang kesal, sontak menepuk pundak Zahra sembari mengumpat.
“Rese ya, Ra! Aku sampe kaget, ku kira ada masalah besar apa gitu?”
“Tau nih, bikin kaget aja hobinya!” Timpal Intan.
Zahra pun menegakkan tubuhnya kembali. Menatap Dania sembari memanyunkan bibirnya. “Kalian gak tau sih? Dean bisa seheboh apa kalau tau aku berangkat sendiri.”
“Ya udah sih, tinggal bilang aja kalau kamu pengennya cepet-cepet cerai. Gak bakal marah juga.” Jawab Intan santai.
Jawaban dari Intan dan Mulan, rupanya tak bisa membuat hatinya lega. Zahra tetap saja takut, kalau Dean mungkin akan memarahinya. Karena dia paling tidak suka dengan orang yang mengingkari janji.
Pada akhirnya, Zahra memutuskan kembali ke kos Dania lebih dulu. Sedangkan mereka berdua menjemput Dean di bandara, dengan mengendarai mobil Zahra. Dan tentu saja, Intan yang mengambil alih kemudi.
Waktu yang pas, begitu Dean keluar dari pintu kedatangan, mobil putih milik Zahra sudah berhenti di depannya. Dean sempat tersenyum saat melihat mobil yang biasa Zahra pakai, datang menjemputnya.
Namun, saat ia membuka pintu. ZONK!
Zahra tak ada di dalam, dan hanya ada dua wanita yang selama bertahun-tahun menemani mantan kekasihnya.
__ADS_1
Raut wajah kesal, tertera dengan jelas. Ia bahkan melempar tas ranselnya ke kursi belakang dengan kasar, setelah menaruh koper di belakang.
“Mana dia?” Tanya Dean tanpa basa basi.
Intan dan Dania saling memandang. Raut wajah mereka terlihat bingung saat mendapat pertanyaan dari Dean.
“Zahra bilang agak kurang enak badan, jadinya istirahat di kos.”
“Sakit! Sakit apa? Kenapa ngak kerumah sakit?” Dean terlihat panik.
“Aahh ... haha ... Itu - cuma kecapekan aja kali. Kemarin dia bersih-bersih rumah kan, ya.” Timpal Intan gugup.
Dean pun melipat kedua tangannya, lalu bersandar sembari menatap tajam ke arah mereka berdua.
Mobil berjalan keluar dari bandara. Sekitar setengah perjalanan, Dean meminta untuk berputar arah. Dia tidak ingin pulang ke rumah untuk saat ini.
“A-apa! Ke kos ku!” Teriak Dania terkejut dengan permintaan Dean.
Dania pun melirik Intan. Berusaha memikirkan cara agar Dean tidak ke kosnya. Mengingat, Zahra sudah memberi mereka mandat untuk tidak membiarkan Dean ke sana.
“Mampus gue! Gimana nih?” Batin Dania.
“Tan, mampir ke mini mart depan sebentar!” Seru Dean menepuk pundak Intan.
Intan berpikir, mungkin itu akan jadi sebuah kesempatan yang bagus untuk mereka. Setelah Dean turun dan masuk ke dalam mini mart, Intan pun langsung menyusun siasat.
“Dan, Dania, kita tinggal aja gimana?” Seru Intan bicara pada Dania yang sibuk dengan ponselnya.
“Ngawur idemu itu!” Sahutnya. “Kemana sih nih bocah, telfon ngak di angkat-angkat!” Gerutunya kesal menatap layar ponsel.
“Terus gimana dong? Zahra bilang ....”
“Stttt!! Stop! Aku lagi coba call dia ini loh!”
__ADS_1
Namun, sekeras apa pun dia mencoba menghubungi Zahra, tak satu pun panggilannya yang mendapat jawaban. Dania yang sudah cukup kesal, akhirnya pasrah dengan keadaan.
“Ah, udahlah! Mereka yang punya urusan, kita yang ribet!” Dania mendengus, memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Tepat pada saat itu, Dean kembali, dengan dua kantong belanjaan yang terlihat cukup berat dan banyak. Intan pun kembali melajukan mobil hingga sampai ke kos Dania.
“Nunggu apa? Ayo turun!” Ajak Dean.
Kesempatan kabur benar-benar lenyap. Kini tak ada alasan lagi bagi mereka untuk mengelak. Dania pun turun lebih dulu, disusul Intan yang baru saja mematikan mesin mobil.
Perlahan menaiki tangga langkah demi langkah. Sampai pada akhirnya, berdirilah mereka di depan pintu dan mengetuknya. Selesai mengetuk, Dean mendorong mereka ke samping dan mengambil alih posisi.
Berdiri tegap di depan pintu, sampai akhirnya ...
KLAK
Zahra membuka pintu sembari menguap. Perlu beberapa detik, sampai wanita itu sadar, yang berdiri di hadapan mereka bukan Dania atau Intan.
“De-Dean!” Zahra yang terkejut, sontak menutup pintunya kembali. Namun hidupnya tak beruntung, Dean lebih cepat dan kuat dari yang dia duga.
“Kamu mau menghindar, Mee?
Harusnya bab ini up semalam.
Karena othor tiba-tiba dapet kabar duka, jadi kurang fokus buat lanjut 🤧
Maafkan kalau agak berantakan 😔
Votenya jangan lupa. Hadiahnya juga di tunggu.
Happy Weekend buat semua 👋👋
__ADS_1