
...******Katakan padaku ... Dean******...
Hidup bisa sebercanda apa?
Dipermainkan dan dibodohi suami sendiri selama dua tahun lebih. Tanpa pernah tahu, dia lah yang selingkuhan.
“Kamu becanda kan? Kalian lagi nipu aku kan? Iya kan?”
Dua sudut bibir Zahra sedikit terangkat. Tertawa, atau meninggis? Rasanya tak ada bedanya. Setegar apa dia berusaha menutupi. Tatapan mata kosong dan basah, tidak bisa ia elak.
“Sadar, Ra! Itu kenyataan.”
Dania berusaha menenangkan perasaan sahabatnya. Dia tahu dengan baik, tempramen Zahra tidak akan mudah bila sudah mengamuk. Benar saja, Zahra langsung menepis tangan Dania.
“Ngak, ngak. Gimana mungkin aku jadi yang ke dua? Jelas aku yang pertama. Iya ... aku yang pertama!” Zahra tertawa. Tertawa cukup kencang, seolah tidak ingin di dahului oleh dunia.
Dunia Zahra, kebanyakan di isi oleh Abram. Hampir setiap menit dia habiskan bersamanya. Bahkan saat dinas, mereka masih berhubungan lewat Vidio Call. Jadi, kapan Abram akan bersama istri tuanya?
Hati Zahra tak berbentuk lagi. Separuh dunianya runtuh berceceran. Semua kenangan tiba-tiba terlintas, membuat kepalanya semakin pening.
Dean hanya bisa melihat Zahra yang bagai mayat hidup. Melihatnya tertawa dalam tangis seperti orang gila. Saat itu dia baru saja sadar, mantan yang masih di sayanginya itu, ternyata begitu mencintai sang suami. Lelaki yang justru membuat hidup wanitanya kesayangannya hancur bagai debu.
Langit di atas sejak tadi cerah, kini di kepung awan gelap. Kilat beberapa kali menyambar di langit, tanpa gemuruh petir. Seperti melampiaskan seluruh amarah tanpa suara.
Dean perlahan berdiri, mencoba berbicara dengan Zahra. Menenangkan pikirannya agar stabil dan tidak berbuat konyol.
“Kamu bilang bakal siapin mental, mana?”
Zahra menatap Dean tajam. Melihat wajah lelaki yang beberapa tahun ini tak terlihat. Nampak seperti seorang mantan, sedang menertawakannya, dan memandangnya sebagai si Dunggu. Dia mendorong tubuh Dean, berteriak seperti orang gila.
“Mental? Mental apa? Kamu lagi ketawain aku kan? Iya kan? Zahra sudah kalah, dia ditipu suami sendiri ... hahaha ....”
Mendengar itu Dean naik pitam. Ia mencengkram kuat pundak Zahra. “Lihat! Lihat aku!”
Suara berat khas seorang pria, terdengar jelas di telinga Zahra. Setiap kata bagai sihir, membuat seluruh tubuh Zahra diam sejenak.
“Sekalipun dunia di depanmu runtuh. Sekalipun zaman ini berakhir, ingat ini baik-baik! Tetaplah hidup! Tetap sadar!” Perkataan Dean terdengar berat meski di ucapkan pelan.
__ADS_1
“Hidup dan bahagia, untuk orang di sekitarmu! Untuk mereka yang menyayangimu. Meski runtuhan itu melukaimu, menggores hati dan jiwamu, tetap hidup. Oke!”
Bibir Zahra bergetar mendengar perkataan Dean. Lelaki itu, dari dulu selalu bisa menenangkan pikirannya. Meski pada akhirnya Zahra menangis tersedu-sedu dalam pelukannya. Rengekannya terdengar begitu pilu, bahkan saat sampai di telinga Mbokijum.
Puas menangis di pelukan Dean. Zahra menggusap matanya, lalu pergi begitu saja masuk ke dalam kamar. Dean terkesiap, berdiri mematung tanpa bisa bergerak. Dania yang cemas, segera menyusul Zahra ke kamar.
“Ra, kamu mau ngapain? Buat apa koper itu?”
Satu persatu Zahra mengeluarkan bajunya dari lemari. Memasukkannya ke dalam koper tanpa melipatnya. Dania bertanya lagi, tetapi Zahra tak kunjung mendapat jawaban. Jengkel karena di abaikan, Dania menarik tangan Zahra.
“Zahra Ammera! Sadar, Ra! Sadar! Eling ....”
Teriakan yang begitu keras membuat Dean khawatir, dan menerobos masuk untuk melihat keadaan. Kamar besar itu terlihat rapi di setiap sudut, tapi berantakan di satu sisi. Baju-baju Zahra berserakan, sebagian jatuh saat ia mengambilnya dari lemari.
Dania menatap Zahra penuh kekhawatiran. Melihat sahabatnya seperti orang gila yang kesurupan. Bertindak sesukanya tanpa bisa di kendalikan. Jelas-jelas tadi sudah merasa tenang.
“Ngomong sama aku, kamu mau kemana?” Dania mencoba berbicara lembut dengan Zahra.
“A-aku ... mau ke Jakarta. Aku harus ngomong langsung sama dia. Aku mau tanya, mau tanya banyak hal, Nia ....” Air matanya kembali tumpah.
Dania tak mampu mendengar ucapan sahabatnya. Satu persatu kata bagai sebilah pedang dengan dua mata yang sama-sama tajam. Mengiris dibagian tengan dan melukai dua sisi. Menyakitkan ... perih.
Zahra melihat Dean, lalu berlari ke arahnya seperti orang gila. Mencengkram ke dua tangannya dengan kuku-kuku lentik nan tajam.
“Dean ... Dean ...” teriaknya
“Ngomong sama aku. Kenapa pria dengan mudahnya jatuh cinta? Dengan mudah membagi hati untuk dua orang. Kenapa? Apa mereka gak bisa mengakhiri yang satu sebelum mulai dengan yang baru. Coba jelasin! Jelasin sama aku! Kamu pria kan? Kamu pasti punya pemikiran seperti itu juga.”
Dean tak mampu berkata-kata. Bibirnya terlalu rekat untuk memberikan jawaban pada seorang wanita yang patah hati. Tubuhnya menerima setiap pukulan ringan dari Zahra, menahan setiap tindakan gila yang dia lakukan untuk melampiaskan rasa kecewa di hati. Sesekali ia menatap Zahra, sesekali menatap Dania yang mengusap air mata.
...Salah, Ra. Kamu salah....
...Kalau semua lelaki seperti yang kau tuduhkan. Aku mungkin sudah menikah dan bahagia sekarang. Atau ... ...
...minimal punya pacar dan move on dari kamu....
...Di antara kita, siapa yang sebenarnya kejam?...
__ADS_1
...Kamu yang meninggalkanku begitu saja?...
...Atau suamimu yang ternyata sudah menikah lebih dulu sebelum menikahimu?...
...Sekarang, kita berdiri di posisi yang sama, Ra. ...
...Di permainkan cinta dan ditertawakan kesetiaan....
...Ironis bukan?...
“Nia ... kamu mau temenin aku ngak?” tanya Dania begitu keadaannya sudah tenang.
“Kemana, Ra? Kamu mau pulang ke rumah ayah?”
Zahra menggeleng pelan. “Ke Jakarta. Aku mau tanya sama dia.” Pandangan yang sejak tadi lurus ke depan, kini berubah arah. Ia menatap Dania dengan penuh keyakinan.
“Kamu mau berangkat kapan?”
“Malam ini, bisa?”
Dua pasang mata saling menatap. Di mata Zahra, ada rasa percaya diri, tapi di mata Dania, justru ada rasa khawatir. Bimbang, kala ia menolak ajakan Zahra, takutnya dia akan bertindak nekat. Namun jika dia berangkat, rasa takutnya juga tidak berubah.
“Oke. Aku packing sekarang!”
Mental Healty setiap wanita berbeda-beda.
Entah itu menangis sendirian di kamar mandi sambil nyalain shower. Entah itu teriak-teriak seperti orang kesetanan. Atau tetap tegar dan memilih bermain cantik.
Gak ada yang salah, karena tingkat mengatasi stres atau tekanan batin, setiap orang itu berbeda.
Jangan lupa dukung terus author, caranya gampang banget. Cuma Like, Vote dan jadikan Favorit.
Yang kepo ngamuknya Zahra, cus main ke IG othor
KayKha_Kay .... jangan lupa di pollow!!!
__ADS_1