Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 103


__ADS_3

...****Perjuangan Jordhan****...


Hari ini, matahari terlihat cukup bersemangat. Terik panasnya bahkan sudah terasa meski waktu masih menunjukkan pukul 9 pagi. Jordhan baru selesai menikmati sepotong roti dan kopi, sembari menunggu hasil tes DNA yang hanya tinggal beberapa jam lagi.


Dia masih memegang paper cup, sembari melihat ponsel dan mengirimkan beberapa pesan kepada salah satu rekannya yang menjaga Zahra. Bertanya tentang kabar dan kondisi wanita itu. Sembari berharap, Zahra akan baik-baik saja.


📳 "Dia baru selesai sarapan. Gak usah khawatir."


Pesan balasan yang baru saja dia baca, rupanya mampu melegakan hatinya. Terlebih, rekannya juga mengirimkan foto Zahra.


Matahari sudah berada di atas ubun-ubun. Hanya tinggal dua jam lagi sebelum hasil tes DNA keluar. Namun, tiba-tiba ponsel Jordhan berdering.


"Pak Jo, lagi dimana?" tanya salah seorang rekan yang membantu memantau Zahra.


"Di rumah sakit tempat korban, kenapa?"


"Pak, mending balik sekarang deh. Ada orang Polda mau bawa Zahra, Pak Gun lagi coba nego."


Mata yang setengah terbuka itu, tiba-tiba terbelalak. Kasus Zahra sebenarnya terbilang kasus ringan yangbtidak perlu sampai naik ke Polda. Lantas, kenapa orang polda bisa turut campur?


"Kenapa mereka ikut campur?"


"Jangankan kamu, Pak Gun aja bingung. Mungkin korban punya backing orang dalam. Buruan kesini aja deh kalau kamu udah ada bukti!" Cetusnya langsung mengakhiri panggilan.


Raut wajah Jordhan berubah seketika. Marah, emosi, itu sudah pasti. Dia bahkan memukul-mukul stir kemudi untuk melampiaskan emosinya. Belum puas dengan tindakannya, ia buru-buru turun dari mobil. Lalu, berjalan ke ruang perawatan Nindira.


Tanpa permisi, tanpa salam, atau bahkan ketukan pintu. Jordhan menerobos masui begitu saja ke dalam ruangan VVIP tempat Nindira di rawat. Tepat pada saat itu, terlihat Om Pras sedang duduk di sofa sembari bermain ponsel. Lelaki itu lantas berdiri, kala melihat Jordhan masuk dengan raut wajah merah penuh emosi, dengan tangan yang mengepal kuat.


"Hei, siapa kamu? Masuk sembarangan!" ucapnya sembari menghentikan Jordhan. "Kamu gak tau kalau ini rumah sakit!"

__ADS_1


Jordhan seakan tak memperdulikan ucapan Pras. Ia bahkan mendorong tubuh lelaki itu, lalu berjalan mendekati Zahra yang berbaring diranjang. Pras terus berteriak, mencoba menghentikan lelaki yang dianggapnya lancang. Kesal dengan ocehan Pras, Jordhan menunjukkan kartu anggota, dan membuat Pras membungkam mulutnya.


Jordhan meninggikan satu sudut bibirnya, lalu membungkuk dan berbisik. "Gak perduli siapa yang jadi backing mu. Aku pasti akan membuat dia bebas dan mengubah statusmu!"


Perkataan singkat dan padat, membuat emosi Nindira meluap. Dia bahkan sempat melempar bantalnya ke tembok, begitu Jordhan meninggalkan ruangan.


Jordhan berjalan di antara lorong kamar inap, sesekali mengambil napas panjang untuk membuat perasaannya lebih baik. Setelah rasa jengkel dan amarahnya perlahan redam, ia mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.


"Kapan hasilnya keluar?"


"Kalian bekerja dengan bagus. Aku masih di rumah sakit, sebentar lagi ke sana!"


Dua sudut bibirnya terangkat, dengan mata tajam yang melihat ke arah jendela kaca. Memandangi burung-burung yang kebetulan melintas. Tiba-tiba saja, ia menutup mata, mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Seperti merayakan kemenangan yang akan dia capai sebentar lagi.


Tidak menunda terlalu lama, Jordhan segera pergi ke ruang Lab untuk mendapatkan hasil. Dengan perasaan cemas, berharap dugaan Zahra selama ini benar.


"Gimana?" tanyanya begitu seorang lelaki keliar dengan selembar hasil lab.


"Yeah! Sudah bisa kutebak!" seru Jordhan yang terlihat bahagia.


Mengingat kondisi tidak lagi memungkinkan untuk mengukur waktu, apa lagi merayakan kemenangan. Jordhan buru-buru kembali ke Polsek untuk menyerahkan berkas. Dia bahkan sempat menghubungi salah satu rekannya, memastikan bahwa Zahra masih ada di dalam pengawasan mereka.


"Aku bawa banyak bukti. Dia gak bersalau, jangan sampai mereka bawa dia. Tahan sebentar, oke!"


"Pengacaranya juga keberatan, karna bukti belum lengkap. Mereka juka masih berbincang."


"Bagus, dia berguna juga ternyata." Jordhan mengakhiri panggilan dan cepat-cepat masuk ke mobil. Dia menyetir dengan perasaan bangga, dengan adanya bukti yang ada di tangan, dia dapat membebaskan Zahra sesuai dengan janjinya.


Namun, ada sedikit kendala yang harus dia hadapi begitu sampai di kantor. Parkiran mobil rupanya penuh, hingga akhirnya, dia harus memarkirkan mobilnya di seberang jalan.

__ADS_1


Jam dinding menunjukkan pukul 1 siang. Kendaraan di depan Polres terlihat cukup sengang, meski beberapa kali terlintas mobil dan motor yang melaju sedikit kencang. Jordhan keluar dari mobil dengan seulas senyum yang masih terukir, raut wajahnya bahkan terlihat bersinar. Meski pagi tadi, dia hanya mencuci muka di toilet rumah sakit.


Tiba-tiba saja ....


Zahra di bawa oleh dua orang berbadan besar, masuk ke dalam kantor Pak Gun. Di sana, dia di sambut dua orang pria juga seorang wanita dari Polda. Raut wajah gugup, cemas, dan khawatir, tak lagi bisa dia sembunyikan. Dean yang juga berada di ruangan itu, langsung mencoba menenangkannya. Bahkan, anggota berseragam yang membawanya, juga menenangkannya.


Tak beberapa lama usai dia masuk. Jordhan datang dengan pakaian kucel. Celana jeans yang dia pakai bahkan terlihat robek di bagian lutut.


"Maaf, Pak. Saya datang bawa beberapa bukti!" seru Jordhan dengan napas sedikit sengal.


Jordhan menaruh berkas-berkas di atas meja, sambil melihat dua orang dari Polda saling memandang.


"Flash disc itu isinya rekaman CCTV dari rumah yang ada di depan ruko. Meski gambar tak begitu jelas, tapi cukup untuk menjadi bukti bahwa tersangka sebenarnya di jebak." Wajah Jordhan terlihat pucat, dengan napas yang semakin sengal.


"Berkas yang paling atas, hasil pemeriksaan suami korban. Yang kedua, berisi laporan tes DNA, antara janin yang di kandung korban dengan suami korban. Tiga bukti itu cukup, membuktikan bahwa praduga korban salah, juga membantah bukti dari korban, kan?"


Telinga Jordhan mulai berdenging, napasnya semakin sesak, seluruh persendiannya mendadak lemas. Setelah menyerahkan bukti, serta memberikan beberapa patah kata, tubuhnya terasa makin berat. Hingga tiba-tiba, dia terbatuk beberapa kali, lalu ambruk.


Orang-orang yang duduk, sontak berdiri menghampiri Jordhan, begitu juga Zahra dan Dean.


"Jo ... hei!" Teriak Pak Gun yang terkejut.


Mata pria berlesung pipi itu masih setengah terbuka, dengan suara berat yang serak, dia mencoba berbicara. "Pastikan dia bebas, bantu dia kalau dia mau menuntut balik."


"Bawa ke rumah sakit, cepat bawa!"



udah Vote belum?

__ADS_1


udah kasih hadiah belum?


Buruan!! Mumpung gratis 😌😌


__ADS_2