
...***Bertemu lagi***...
Zahra mati kutu. Dia tidak bisa berandai lebih jauh lagi, membayangkannya saja tidak berani. Pembicaraan mereka berhenti sampai di situ. Zahra membisu, seakan tak perduli. Memilih bungkam, mungkin terasa lebih nyaman, daripada berdebat dengan Dean dan hubungan mereka menjadi rengang.
Dean pun seakan pasrah dengan keadaan. Dia tahu, mencintai istri orang sudah pasti salah. Namun, cinta dan suka bukan perasaan yang mudah di kendalikan. Dia hanya punya dua pilihan, maju atau mundur.
Selesai membeli charger, mereka memutuskan untuk kembali. Dean mencoba menawarkan makanan, tapi Zahra menolak. Banyak alasan yang dia sampaikan, tapi sekali pun tak membuat Dean percaya.
“Mau marah sama aku, marah aja. Jangan gedein gengs gitu!”
Zahra menghela napas panjang. Perkataan Dean memang ada benarnya. Namun, kepala Zahra masih sekeras batu. Entah, apa yang membuatnya segan sampai ke tahap itu.
Dean langsung kembali usai mengantar Zahra. Dia bahkan tidak turun dari mobil. Hanya mengantarkannya sampai ke lobi. Membiarkan Zahra naik sendiri. Meski begitu, pandang mata Dean masih fokus melihat punggung Zahra hingga ia masuk ke dalam lift.
...Zahra Pov...
Seperti orang bodoh. Jelas-jelas aku tahu dia lagi lihatin aku masuk ke dalam lift. Jelas-jelas tahu kalau dia masih care, sama seperti dulu. Kenapa? Kenapa aku jadi linglung?
Lift baru saja berhenti di lantai dua puluh. Lantai yang paling istimewa dari yang lain. Baru berjalan beberapa langkah ke arah kamar, perutku berbunyi. Sudah bisa di tebak dengan baik, aku, lapar.
Alih-alih duduk manis dan pesan makanan lewat ojek online. Aku lebih tertarik untuk turun. Mengingat, ada sebuah mini market di sudut apartemen yang kelihatannya lengkap. Akhirnya, balik badan dan kembali turun.
Di antara dua lift yang berjejer. Salah satu terbuka tak lama setelah aku memencet tombol. Dari dalam, aku melihat seorang pria. Pria tak asing yang beberapa hari membantuku di kantor polisi.
“Jor-dhan ....”
Dia yang sejak tadi sibuk bermain ponsel, akhirnya menegakkan kepalanya.
“Eh, kita ketemu lagi.”
“Iya. Kamu tinggal di sini?” tanya ku yang cukup penasaran. Kenapa ada kebetulan yang terlalu sering seperti ini?
“Oh, temenku ada di lantai dua puluh lima. Kebetulan, aku ada urusan.” Jawabnya singkat. “Kamu?”
__ADS_1
“A-aku sewa, iya, sewa. Urusanku kemaren belum selesai, jadi ... yah gitu deh.”
“Sama suamimu, belum selesai?”
Degh!
Aku, melupakan sesuatu yang penting. Benar-benar gak menyangka, dia masih ingat tentang itu. Sekarang, cuma bisa nyengir kuda. Alih-alih menjawab, aku lebih pilih options yang ke dua. Diam membisu, bersikap bodo amat!
Pintu lift sudah terbuka. Aku melangkah lebih dulu, dan berpamitan padanya. Tapi tiba-tiba ....
“Aku duluan ya, mau beli sesuatu.”
“Mau makan gak?”
Pertanyaan atau ajakan? Aku langsung menoleh ke belakang, menatap simpul senyum yang terukir. Sepertinya, dia bukan orang jahat. Tapi, ajakan makan itu ....
“Aku dengar bunyi perutmu tadi. Kebetulan aku mau makan ketoprak di depan. Kamu udah pernah makan?”
Bibirku ingin mengumpat kasar, tanganku ingin memukul kepala dengan keras. Tiang mana tiang! Aku mau membenturkan diri. Harga diriku ... ah.
“Ke-ketoprak?”
Mau, engak, mau, engak. Gimana dong?
Sebenernya laper, mau masak juga butuh waktu.
Ikut aja lah, lagi pula jalan depan cukup ramai. Cukup teriak aja kalau dia macam-macam.
Pada akhirnya, aku memilih mengikutinya. Dengan jarak satu meter tentunya.
“Pedas atau engak?” Tanyanya padaku saat memesan makanan.
“Sedang aja.”
“Satu kek biasa, yang satunya sedang ya Mang.”
Dari logatnya, aku bisa tebak kalau dia sudah lama tinggal di sini. Merantau, itu mungkin. Dari banyak artikel yang aku baca, hampir setengah orang Jakarta adalah perantauan. Mungkin, dia juga termasuk.
__ADS_1
“Kamu, asli orang Jakarta?” tanyaku dirundung penasaran.
“Mama asli Betawi, kalau papa dari Surabaya. Aku merantau di sini.”
“Merantau?”
“Iya, aslinya wong Suroboyo.” (Orang Surabaya)
Seperti yang ada dalam tebakanku.
Cukup lama kami mengobrol, sampai tak terasa, hari sudah semakin sore. Dari awal aku berniat mentraktirnya, tapi saat berada di depan penjual, kami berdebat. Dia menolak dengan telak, terlebih lagi, Abang penjual itu juga membelanya.
“Kali ini aku yang bayar, ice cream yang ada di sana.” Dia menunjuk ke arah mini market. “Kamu yang bayar, gimana?”
Permintaan receh seperti itu, mana bisa aku menolak. Akhirnya kami pun pergi ke mini market. Saat berjalan, aku merasa sedikit aneh. Banyak mata yang melirih, bahkan tak segan-segan menunjuk ke arah kami.
Apa aku terlihat aneh?
Pikirku begitu, tapi saat berjalan masuk ke dalam mini market, aku tak sengaja mendengar perkataan kasar dari seorang wanita.
“Sekali pun sah, tetap saja dia merebut suami orang. Itu cuma status aja.”
Tanganku gemetar, moodku seketika hilang. Aku sangat ingin, sangat-sangat ingin. Menarik tangan wanita itu, menyuruhnya duduk, lalu menceritakan sebuah perjalanan panjang yang gak berujung.
Siapa yang korban sebenarnya?
Siapa yang salah sebenarnya?
Aku kah?
...☘☘☘☘☘☘☘☘☘...
Udah like belum?
Udah kasih othor kembang? Kopi?
Belom??
__ADS_1
Buruan!! Mumpung Gratis!