
...***Mediasi Perceraian***...
Seminggu sudah sejak Zahra secara resmi tinggal di ruko. Meski kantornya belum resmi di buka. Namun beberapa kali ia terlihat menyapa tamu untuk menanyakan desain. Meski ia masih menerima Job, tapi tak semua dia kerjakan. Zahra lebih memilih klien yang memang sudah kenal. Hal itu di lakukan agar ia dapat fokus mengurus perceraiannya.
Pagi itu, Dean sudah berdiri di depan rukonya dengan jas hitam. Berdiri dengan bersandar kap mobil, dan sesekali melihat arloji. Raut wajahnya terlihat cemas, ia bahkan menghela napas beberapa kali.
Namun, wajahnya seketika berubah saat melihat Zahra keluar bersama dengan Dania dan Mulan.
“Kenapa wajahmu?” Tanya Mulan yang menyadari raut wajah Dean terlihat masam.
“Kurang tidur!”
Dean tak mau basa basi. Ia langsung tancap gas begitu mereka semua masuk ke dalam mobil. Jalanan kota Malang cukup sengang saat itu, takdir seakan mempermulus keputusan Zahra dalam langkah.
Zahra terlihat beberapa kali menggambil napas panjang. Bahkan, tangannya pun basah dan dingin. Dania yang duduk di sebelahnya pun mencoba menghiburnya dengan beberapa berita di sosial media.
“Aku kemaren sempat lihat berita, dia di blacklist dari dunia model. Bahkan, ada salah satu produk yang langsung ngeluarin dia dari Brand Ambasador.”
“Oh ya? Terus gimana?” Timpa Mulan.
“Berita kehamilannya juga tersebar dong. Kemarin waktu di rumah sakit, mereka di kepung wartawan. Tapi ya gitu deh, gak ada tanggapan.”
__ADS_1
“Bakal gak hadir di sidang nih?” Mulan melihat ke belakang. Menatap Zahra yang seakan acuh tak perduli.
Dua orang itu masih saling bergosip, berharap Zahra ikut berkomentar. Namun, wanita yang akan menyandang status Janda, justru tak tertarik. Ia lebih memilih menatap ke luar jendela. Melihat cakrawala cerah dengan sedikit awan.
Perjalanan mereka tak memakan waktu lama. Setengah jam perjalanan, sudah cukup untuk menemani mereka hingga sampai di tempat pengadilan agama.
Dari luar, terlihat beberapa orang berkumpul di beberapa tempat. Mereka langsung dapat menebak, saat melihat apa yang orang-orang itu bawa. Dean yang cemas, langsung mengambil topi dan memakaikan di kepala Zahra.
“Nunduk aja nanti.”
Namun, Zahra justru melepas topinya dan tersenyum. “Ngak perlu. Aku bisa.”
Mereka pun turun. Zahra yang saat itu hanya di dampingi Dean dari samping. Langsung di serbu oleh wartawan.
“Mbak, hari ini agendanya apa?”
“Pendapatnya sedikit dong, Mbak. Tentang hubungan Mbak Zahra sama Mbak Model.”
Ya. Mereka lebih suka menyamarkan nama seorang artis atau publik figur, dan tak suka menyamarkan nama orang biasa. Seakan orang biasa tak akan bisa kena hujat di masyarakat.
Zahra tidak lari, bahkan marah. Ia justru berbalik dan menatap semua wartawan dengan senyum yang menawan. Sangat menawan sampai beberapa wartawan pria memandangnya dengan kagum.
__ADS_1
“Agenda hari ini hanya mediasi. Untuk hubungan ku dengan dia, kami gak saling kenal sebelumnya. Bahkan sampai detik ini, saya pun gak mengenal istri pertama suami saya.” Terang Zahra.
“Jadi, Mbak Zahra sudah mengugat cerai suaminya?”
“Benar, saya menggugat cerai suami saya. Bukan hanya karena penipuan atas statusnya yang perjaka, tapi juga banyak hal.”
“Sudah dulu, ya. Sudah jamnya. Nanti bisa tanya-tanya lagi. Terima kasih.” Dean menyerobot. Mencoba menghentikan media menggorek lebih banyak. Dean langsung membawa Zahra masuk kedalam begitu ada sedikit celah.
Tak beberapa lama setelah mereka masuk. Abram terlihat datang dengan pengacaranya. Wartawan langsung menyerbu, tapi tak satu jawaban pun bisa mereka dapat dari mulut Abram.
Akhirnya, dua pasang mata itu saling bertemu. Setelah hampir sebulan lamanya, mereka tak saling berjumpa atau pun bertanya tentang kabar. Dua orang yang dulu pernah begitu dekat, kini menjadi asing.
Bahkan, Zahra terlihat membuang muka saat di tatap oleh Abram.
“Sebegitu benci kah?” Gumam Abram dalam hati.
Seorang petugas akhirnya memanggil nama mereka untuk masuk ke sebuah ruangan. Dua orang itu akhirnya masuk, dengan di dampingi pengacara masing-masing.
Mbak Zahra auranya bahagia 😅
__ADS_1
Yang nungguin karma, harap bersabar yaa.
Karma gak se-instan itu.