
...***Peringatan***...
Dia terlihat gusar dan masih berusaha menutup pintu. Namun, semakin di dorong, semakin kuat ia mendapat tekanan dari luar. Sampai pada akhirnya, Dean berhasil masuk.
Zahra tak bisa berkata-kata, hanya diam membisu. Tubuhnya pun mendadak mematung saat Dean masuk. Tiba-tiba saja Dean mengangkat tangannya. Zahra berpikir, Dean mungkin akan mencubit pipinya, atau bahkan melakukan hal yang lain. Sehingga, ia menutup matanya rapat-rapat dan menunduk.
Namun siapa yang menyangka?
Dean jutru meletakkan telapak tangannya di kening Zahra. Lalu berkata, “Ngak demam.”
Ucapan dan tindakannya langsung membuat Zahra bereaksi. Ia membuka matanya lalu menatap Dean.
Cuma gitu?
Sepersekian detik kemudian. Sebuah sentilan ringan mendarat di keningnya. Tak sakit, tapi Zahra langsung mengusap-usap keningnya.
“Kenapa bohong?” Dean bersikap santai.
“Apanya?”
Dean menoleh, menatap dua buah surat dari pengadilan agama, yang di tarus Zahra di atas meja. Melihat reaksi Dean, Zahra langsung mengetahui apa yang di bicarakan mantan kekasihnya itu.
“Ah itu ... itu ....” Zahra mencoba berpikir alibi yang pas. Namun sepertinya, otaknya belum bekerja dengan baik. Hingga ....
“Karena aku pengen cepet cerai!” ucapnya dengan cepat dan keras.
__ADS_1
“Prff ... HaHaHa.” Dean tak bisa menahan tawanya.
Bukan karena alasan yang di lontarkan Zahra, tapi karena intonasi bicaranya saat mencari alasan di waktu yang mepet. Mungkin, itulah ciri khas dari mantan kekasihnya, saat mengalami the power of kepepet.
“Kenapa ketawa? Apanya yang lucu?” Zahra berbalik sambil mendengus kesal. “Hemgh ngeselin!” Lalu, duduk di ranjang empuk milik Dania.
Dean meletakkan kantong belanjaan di atas meja, merogoh salah satunya, lalu memberikannya pada Zahra. Ice cream vania yang di kombinasi dengan strawbery, kesukaan Zahra dari zaman SMA. Senyum pun langsung merekah di wajahnya. Ia langsung mengambil dengan gerakan gesit dari tangan Dean. Seakan tak ingin lelaki itu menarik tangannya kembali.
“Tau kenapa aku ngotot pengen nemenin kamu ke sana?” Dean memandang Zahra yang menggeleng dengan cepat. Seakan tak fokus dengan ucapan Dean, dan lebih fokus dengan ice cream di tangannya.
Dean sontak mendekat, mengambil ikat rambut yang terlihat sedikit melorot. Lalu, pelan-pelan menyikap semua rambut Zahra ke belakang dan menggikatnya sembari berkata.
“Aku gak mau lihat orang salah persepsi. Kamu masih muda, berani-beraninya datang ke Pengadilan Agama dan menggugat cerai suami tanpa pengacara?”
Dean mundur selangkah. Menatap hasil tatanan rambutnya dengan seksama.
“Mee, aku lagi ngomong sama kamu.” Dean mulai jengkel.
“Aku tau, Mereka juga sempat mengejekku. Tapi Dania sama Intan langsung skak matt mereka.”
Zahra berbicara dengan santai, tanpa menatap Dean yang moodnya mulai berantakan. Namun, tiba-tiba dia berdiri, menyodorkan ice cream tepat ke mulut Dean.
“Ice cream katanya bisa balikin moodmu. Mau coba?”
Dean masih menatap wajah imut Zahra untuk beberapa saat. Kemudian, mengambil tangan Zahra yang sedang memegang cone ice cream. Menjilat, lalu mengigitnya sedikit.
__ADS_1
Manis sekali, apa ini termasuk ciuman gak langsung?
Baru sebentar ia menelan rasa manis dan dingin yang baru lumer di mulutnya. Tiba-tiba, tangan Zahra melayang dan mendarat di lengannya.
“Ahh!! Kenapa di gigit sih!” Zahra memandangi ice cream yang ada di tangannya telah hilang setengah.
“AW, Mee! Sakit!” Dean mengusap pundaknya.
“Lagian, aku beli banyak! Semua buat kamu!”
“Tapi yang ini gak simetris! Tuh liat! Ini miring!” Gerutunya kesal.
“Ya Allah, Mee. Lagian juga kamu makan habis kan nantinya!”
Dean makin kesal. Tak mau bertambah runyam, ia pun melahap sisa ice cream yang ada di atas cone. Melahapnya sampai habis, dalam satu gigitan.
“Dean Alfian!”
Beberapa pukulan melayang di badan kekarnya. Mukai dari tinjuan, hingga pukulan maut.
"Note buat kalian para kaum adam, jangan pernah, pokoknya jangan pernah mengigit ice cream milik kekasihmu atau istrimu. Jangan pernah! Dean saranin jangan pernah!"
Dapet peringatan dari bang Dean 😅😅
__ADS_1
Kasih Bab ringan2 dulu lah ya.
Tegang terus entar protes 🤭