Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 75


__ADS_3

...***Menjaga Perasaan Dia***...


Zahra sesekali menoleh, memandang Dean yang mematung di ambang pintu. Lelaki itu masih terus berteriak memanggil nama Zahra. Juga menanyakan alasan dia tidak di izinkan masuk.


“Jangan masuk. Kalau berani maju satu langkah, aku gak mau mengenalmu lagi!”


Dean sontak terkesiap. Ia pun menutup mulutnya rapat-rapat dan hanya melihat wanita berambut panjang itu sibuk mondar mandir di dalam. Beruntung, Mulan langsung sigap menenangkan situasi. Ia menyuruh Dean menemani Zea dan Zizan bermain, sedangkan dia akan terjun membantu Zahra.


Dia tak bisa berkutik atau mengelak. Ancaman dari Zahra sudah membuat kakinya gemetar. Pada akhirnya, ia memilih mengajak anak-anak Mulan untuk bermain di ruang tamu.


“Ra, kamu tenang dulu ya. Coba bilang, apa yang kamu cari?” Mulan mencoba menenangkan Zahra.


“Aset, surat rumah, surat tanah, BPKB mobil.” Zahra masih sibuk membongkar isi lemari. Sampai pada akhirnya, ia menemukan amplop coklat tempat ia menaruh BPKB mobil.


Buru-buru ia membukanya, mengecek bagian dalam dengan harap harap cemas. Sampai akhirnya, ia menemukan sebuah buku hijau. Barulah ia menghela napas panjang.


Namun, upaya pencarian tak hanya sampai di situ. Dia kembali membongkar isi lemari. Mengeluarkan semua baju-bajunya. Sampai, ia mendapati map merah tebal.


Ia segera membukanya, melihat surat rumah masih ada. Setelah di cek satu persatu, surat tanah yang di beli tahun lalu, tidak ada.


Dia pulang ambil ini? Buat apa?


Zahra bergerak lagi, kali ini meja rias. Ia membuka laci yang ada di bari ke tiga sebelah kanan. Tempat ia menyimpan perhiasan.


Keringatnya menetes, tangannya pun gemetar. Kala melihat satu kotak perhiasannya kosong. Namun, ada perasaan lega yang terpancar di wajahnya. Kala melihat satu set perhiasa hadian dari mertua yang masih utuh.


“Apa yang ilang, Ra?” Mulan menatap wajah Zahra yang sedikit linglung.


“Surat tanah, sama beberapa perhiasan.”


Dia ambil surat tanah, pasti karena surat itu atas namanya. Jadi, dia bisa menjualnya dengan mudah. Tapi, kenapa dia gak ambil semua perhiasan? Kenapa harus di sisain dua kotak?


“Kamu masih sibuk?” Zahra seketika menoleh, menatap Dean yang berdiri di ambang pintu.


“Orang dari agen perumahan udah dateng!” Jawabnya singkat kemudian pergi.


Tak mau membuat tamunya menunggu lama. Zahra pun mengajak Mulan keluar dari kamar yang terlihat seperti kapal pecah. Namun, Mulan tak ikut duduk di antara mereka, ia lebih memilih bermain bersama kedua anaknya di depan televisi.

__ADS_1


“Dia beneran mau pergi?” tanya mulan sambil melirik Dean yang duduk di depannya.


“Kayaknya gitu.” Dean mengangguk. “Mbak, mertuanya memang sebaik apa?”


“Gak tau. Tapi dia pernah bilang, mertuanya pernah kasih satu set perhiasan waktu dia ulang tahun. Mertuanya juga sering kasih uang ke Zahra.”


“Menurut Mbak. Dia juga bisa kasih rumah juga ngak?”


“Kenapa emangnya? Kamu cowok tapi kepo ya?” Sunggut Mulan.


“Aku pernah denger, mamanya mau balik nama rumah ini jadi namanya. Tapi dia nolak.”


“HAH!!!”


Teriakan Mulan yang cukup keras, membuat Zahra dan beberapa orang di depan menoleh ke arahnya. Ada rasa tidak percaya, juga terkejut. Dua hal yang mungkin bisa menggambarkan keadaan Mulan.


“Zahra gak gila kan? Bisa-bisanya dia nolak?” Bisik Mulan pelan. “Tapi bisa aja sih, dia gak mau ada kenangan di rumah ini.”


Mulan kembali melihat Zahra dan dua orang wanita yang sedang mengobrol dengan serius. Sesekali ia berpikir, tentang Zahra yang selama ini dia lihat sebagai wanita kaya yang sedikit tamak. Namun, kenyataan justru sebaliknya.


“Gimana, Ra?” Tanya Mulan saat Zahra menghampiri mereka.


“Clear, mereka kasih harga bersih sekitar 1 M. Aku jual plus isinya. Mama juga setuju.”


“Terus, kamu tinggal di ruko?”


“Iya, aku minta waktu seminggu buat pindah. Lumayan lah buat berbenah dikit-dikit.”


“Terus, yang tadi gimana? Kamu ngak bilang sama mama mertua?”


Zahra melirik Dean, memandingi dia yang fokus bermain dengan Zea dan Zizan. Tiba-tiba dia teringat, akan bentakan dan ucapan kasar yang tadi sempat ia lontarkan.


“Tanah itu memang dia yang beli sendiri, untuk perhiasan, anggap aja aku lagi ngamal sama orang butuh.”


Setelah berbenah kamar yang berantakan, juga menyimpan beberapa asetnya di tempat yang aman. Zahra mengajak mereka semua pergi ke Mall untuk jalan-jalan, sekaligus menemui Pak Rudi.


Ketemu aja dulu, soal di pakai atau engak, kan bisa belakangan, pikir Zahra.

__ADS_1


Begitu mobil sampai di tempat parkir, Zea dan Zizan terlihat tidak sabar. Ia ingin segera turun dan mengajak ibunya ke wahana bermain. Zahra pun segera mengambil kartu Time Zone dari dompet.


“Bawa ini! Udah ada saldonya kok!” Zahra menyodorkan kartu.


“Ayo Bunda, ayo!” Rengek Zea dan Zizan.


“Iya, iya. Aku tunggu di sana deh ya, nanti call aja!”


Mulan pun segera mengajak dua anak-anaknya pergi lebih dulu. Melihat temannya yang begitu sabar dan telaten, membuat Zahra takjub.


“Mulan hebat banget. Bisa handel dua anak gitu.”


Zahra berharap mendengar respon dari Dean. Namun lelaki itu justru cuek dan asik dengan ponselnya. Tak tahan dengan sikap acuh Dean, Zahra menarik tangan Dean dan menghentikan langkahnya.


“Kamu kenapa sih?” Zahra sedikit nyolot. Namun, bukannya jawaban yang dia dapat, sikap Dean justru terlihat makin acuh.


“Marah? Marah aku larang masuk ke kamar?”


“Ini, ini salah satu alasan aku gak mau kamu anter ke rumah. Karna aku ngehargai kamu, ngehargai perasaan kamu!” Lanjut Zahra.


Zahra sudah pasrah, saat semua perkataan dan tindakannya untuk menghargai perasaan Dean, justru membuat lelaki itu semakin acuh dan dingin.


Namun tiba-tiba. Dean mengangkat tangannya dan menggusap ubun-ubun Zahra sambil tersenyum.


“Makasih, udah jaga perasaanku. Dengan begini, aku bisa tahu, seberapa berharganya aku untukmu.”


Speechless. Zahra hanya terbengong dengan bibir yang sedikit terbuka dan napas yang memburu.


“Dean Alfian! Kamu hobi ngerjain aku ya!"



Jeng Jeng Jeng ....


Bang Dean kagak bisa romantis dikit gitu yaaa.


Ribut mulu sama Zahra 🤣

__ADS_1


__ADS_2