Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 59


__ADS_3

...***Baru permulaan***...


...Zahra pov...


Banyak orang yak tak mampu bertahan ditengah retaknya sebuah hubungan. Namun tak sedikit pula yang bertahan. Selain karena anak, apa lagi yang bisa membuat seorang wanita kuat?


Cinta?


Ah ... konyol sekali.


Padahal hidup tak melulu soal cinta.


Pada akhirnya, keputusan terbesar yang aku ambil adalah perceraian. Menjadi janda di usia yang masih muda, apa salahnya? Dari pada terus terjebak dalam pernikahan dengan berbagi bertuan.


Beruntung, pada saat itu aku sempat mengabadikan bekas luka di tangan. Juga beberapa lecet yang aku timbulkan sendiri, karena menggosok bekas menjijikkan itu. Setidaknya, ini bisa jadi bukti kuat kalau mereka tak mau bercerai.


Setelah melihat semua foto itu, Mama langsung berdiri dan bersimpuh. Beberapa kali memohon maaf. Entah, itu maaf untuk apa. Perbuatan anaknya kah? Atau maaf untuk menarik simpati.


Disisi lain, Papa masih bersandar di dinding dengan wajah linglung. Menekuk satu lututnya untuk menyangga tangan.


“Mah, bangun dulu. Jangan begini.”


Pada saat yang sama. Sayup-sayup ucap sapam terdengar dari arah pintu. Suara seorang wanita yang sangat aku kenal.


“Loh, Abang kenapa duduk disini?” Tanya Tante Ve saat melihat kakak kesayangannya itu duduk dengan wajah pucat pasi.


Papa sempat mendongak, melihat Tante Ve beberapa saat. Lalu, ia bangkit berdiri dan menarik tangan Tante Ve, membawanya duduk di sofa.


“Mana suamimu?” Pekik Papa dengan nada tinggi.


“Ma-masih parkir, Bang.” Nadanya terdengar gugup.


Sepertinya, dia bisa menebak dengan baik. Apa yang sedang terjadi di sini. Terutama saat dia menatap ku dan juga orang tuaku.


Tak beberapa lama, seorang lelaki bertubuh sedang, masuk dengan sopan. Namun, bukan penyambutan yang menyapanya, tapi bogem mentah dari papa.

__ADS_1


Melihat suaminya di pukul, tante Ve sontak berdiri dan berteriak. Bahkan, mama pun terlihat terkejut dengan perlakuan Papa terhadap adik iparnya.


“Duduk di sana kalian!” Seru Papa dengan ekspresi marah.


Papa berdiri, di depan adik dan adik iparnya. Lalu mulai mengajukan pertanyaan.


“Kalian tahu siapa dia?” Papa menunjuk ke arahku.


“Is-istri Abram.” Jawab mereka kompak.


“Lalu, siapa Nindira?”


Tante Ve yang sejak tadi menunduk, kini menegakkan kepalanya. Kaget, pasti begitu. Rahasia mereka selama tiga tahun, akhirnya terbongkar. Bukan hanya aku yang mereka bodohi, tapi juga orang tua yang juga kakak mereka sendiri.


“Bang, jangan marah sama Vera. Ini semua salahku. Aku yang salah, Bang.” Om Pras mencoba membela istrinya.


“Kakakku dari dulu sudah suka sama sifat Abram. Jadi, dia coba menjodohkan Abram sama Nindira dari SMA. Abang juga tau, waktu lebaran saat Ibu masih ada. Mas Diram bilang kalau mau nikahin mereka kan? Mas lupa?”


Mendengar penjelasan Om Pras, hatiku makin campur aduk. Menerka-nerka bahwa mereka sebenarnya tahu tentang itu.


“Kakakmu, Dirham, gak bilang langsung sama aku! Siapa yang ngira kalau dia serius?” Elak Papa mencoba membela diri.


“Gimana pun, kalian tetep salah! Kalau Abram udah nikah, kalian harusnya ngomong. Kalian gak tau, malunya kita sama orang tua Zahra?”


“Maaf, Teh. Waktu itu Abram bilang mau talak Nindira sebelum menikah sama Zahra, jadi aku pikir ....” Belum selesai Tante Ve berbicara, Mama sudah menyela lagi.


“Pikir apa? Bisa mikir apa kamu? Sudah menikah, kenapa gampang ngomong talak?”


Aku sudah terlalu lelah, melihat drama keluarga yang makin lama semakin tak tahu arahnya. Sampai akhirnya, aku pun turut angkat bicara.


“Karena Mas Abram ngak cinta, karena dia terpaksa. Ayah Nindira kritis dan memaksa Mas Abram menikah. Seperti itu, yang di bilang Mas Abram padaku,"


Perkataanku sontak membuat mereka semua menoleh ke arahku. Dua pasang mata memandangku iba, sedang dua pasang yang lain memandangku dengan jengkel.


"Bener itu, Pras?" Papa memandang garang wajah adik iparnya.

__ADS_1


"Iya, Bang."


“Oh ... Ya Allah. Ya Allah, astagfirullah.” Mama memegangi kepalanya dan langsung duduk di sofa. Sepertinya, vertigo mama kambuh.


Shock, itu sudah pasti. Anak yang dia banga-bangakan, rupanya bisa bersandiwara dengan baik. Menipu, membodohi, bahkan menyakiti. Papa pun hanya bisa mengepal kuat-kuat ke dua tangannya.


Lagi pula, apa yang harus di sesali. Semua sudah terjadi, nasi juga sudah basi. Istri pertama dari anaknya pun sedang mengandung calon cucu mereka. Harus bagaimana lagi?


Mama pun bersimpuh di kaki Ibu. Terisak-isak memohon ampun. Atas perlakuan anaknya kepadaku, juga pada keluargaku. Atas ketidak tahuan mereka tentang keserakahan sang anak.


Puas melihat itu, aku pun menoleh. Manatap Dania yang berdiri di ambang pintu dengan memegang ponsel.


Iya, dia sedang Live Streaming di Instagram. Memanfaatkan dua juta followersnya, untuk melihat bukti kuat yang ada. Bukti yang bahkan tak bisa di sangkal oleh Abram, bahkan fans Nindira.


Begini, harusnya sudah bisa membersihkan nama baikku kan?


Sudah begini, harusnya Ayah dan Ibu sudah bisa hidup dengan tenangkan?


Tanpa gunjingan, tanpa teror.


Sudah begini, harusnya aku bisa bernapas dengan lega kan? Tanpa rasa sesak yang membuat dadaku tak nyaman.


Diantara banyak wajah, dengan berbagai ekspresi. Mataku justru fokus menatap Dean. Lelaki yang dari awal sudah membantuku. Lelaki yang sudah aku ketusi, bahkan aku abaikan. Namun tak henti-hentinya mengulurkan tangan dan membantuku berdiri.


Senyum manis yang tulus itu, gimana aku balesnya?



Skema hubungannya gini \=>


Keponakan -> ketemu sama Keponakan


Pras/Suami Ve -> punya keponakan (Nindira)


Tante Ve/Adik papa Abram -> punya keponakan (Abram)

__ADS_1


Saurada tak sedarah ya, jadi boleh nikah.


Hari ini othor kurang enak badan. Kalau nanti belum Up, harap maklum yaaa.


__ADS_2