
...***Cinta Seperti Majnun***...
“Zahra ...”
Suara serak nan berat, khas seorang lelaki, terdengar jelas di telinga Zahra. Membuat wanita itu menoleh, menatap sosok yang tak asing dalam ingatannya.
“De-Dean, kok kamu ....?”
Zahra langsung menerka bebas, membiarkan otak cerdasnya berkelana dan menebak. Mungkin, ini termasuk ulah dari Dania, karena hanya dia yang tau keberadaan Zahra saat itu.
Dania ini, beneran hobi makan temen ya!
Dean dengan santai menepuk pundak Zahra, lalu menggeser tempat duduknya dan menempati kursi Zahra sebelumnya. Tak lupa, ia juga memperkenalkan diri kepada dua orang yang sedang menjadi klien dari Zahra.
“Ketemu lagi kita ya?” Dean tersenyum ramah. “Kita belum kenalan. Aku Dean, calon suami Zahra.” Ia mengulurkan tangan dengan senyum ramah.
Zahra sontak menoleh, menatap Dean yang tersenyum tanpa rasa segan sedikit pun. Jordhan pun hanya menaikkan satu sudut alisnya, lalu dengan santai menjabat tangan Dean.
“Ngaco kamu ya!” Bisik Zahra.
Alih alih menjawab, Dean justru menoleh ke arah Zahra. Lalu menaikkan satu sudut bibirnya sembari menekan hidung wanita itu.
“Ah! Dean!” Teriaknya.
Cemburu, jengkel, kesal. Seluruh perasaan tak nyaman seolah mengerogoti hati Dean saat memandang wajah Jordhan. Seakan akan, ia bertemu seorang rival besar yang mungkin akan melahap Zahra secara utuh.
Namun, berbeda dari Dean, Jordhan justru terlihat santai. Ia bahkan masih menyerutup kopi hitam yang masih hangat.
__ADS_1
“Kayaknya, kita udah harus pergi!” Jordhan berdiri, di ikuti saudari perempuannya yang baru berusia 16 tahun.
“Jangan lupa kesepakatan kita, satu minggu!”
Perkataan terakhir Jordhan menjadi kalimat ambigu di telinga Dean. Ia pun langsung memutar kursi dan menghadap ke arah Zahra.
“Kesepakataan apa?” Tanyanya tanpa basa basi.
“Kamu kenapa sih?” Zahra mencoba untuk bersikap tenang.”
“Ra, aku nungguin jawabanmu udah hampir sebulan. Kamu malah kasih dia satu minggu!” Sunggut Dean jengkel.
“Oh, kamu mau buat desain rumah juga?”
“De-desain apaan? Aku gak mau! Aku maunya kamu jadi istriku!”
Mendengar perkataan itu, Zahra bukannya tersipu malu layaknya gadis pada umumnya. Ia justru tertawa renyah.
Dean terdiam sesaat, memandangi wanita yang di sampingnya itu berdiri dan berkemas.
“Mau kemana?” tanyanya.
“Mau lanjut kerja, nganterin desain ke klien.”
“Oke, aku anterin!” Dean buru-buru berdiri dari kursinya. Melihat sikap posesif Dean, Zahra juga tak bisa menggelak atau menolak. Ia pun dengan sedikit terpaksa duduk patuh di mobil Dean.
Lelaki itu terlihat sabar, menemani Zahra mengantar desain ke sebuah perusahaan. Menunggunya, lalu mengantarnya kembali ke ruko.
__ADS_1
“Ra, aku harus menunggu berapa lama?”
Pertanyaan itu tiba-tiba terdengar begitu jelas di telinga Zahra. Berada di tengah pergantian siang dan malam. Banyak kendaraan yang mengapit mobil mereka, terasa penuh sesak dan berisik. Namun, dalam pendengaran Zahra terasa sunyi.
Setiap kata yang keluar dari mulut Dean, seperti alat penabuh yang di pukulkan di jantungnya.
Zahra terdiam untuk beberapa saat. Ia pun bingung, harus merangkai kata dari bagian yang mana. Karena semua kata yang akan ia ucapkan, mungkin akan terdengar menyakitkan.
“Kalau kamu belum siap, aku akan menunggu sampai bulan depan. Kalau masih belum siap juga, aku akan menunggumu hingga tahun depan.” Perkataan Dean terdengar semakin serius.
“Aku pernah menjadi Majnun, melihatmu bersanding dengan orang lain di pelaminan. Saat itu, aku merasa nasipku mungkin akan sama. Mati sebelum mendapatkan orang yang aku cinta.” Dean membuang napas pendek.
“Tapi saat menyaksikan kisahmu, hatiku teriris. Aku ingin membuatmu bahagia, dengan segala cara yang aku bisa. Mengisi semua kenangan pahit tentang pernikahan, dan mengantinya dengan kenangan yang manis.”
Pikiran Zahra semakin kacau, jelas-jelas ia telah menyusun kata untuk menolak Dean. Atau membuatnya menunggu beberapa tahun lagi. Namun ketika mendengar ucapan Dean, dia menjadi ragu.
“Tujuh hari,” Zahra tertunduk. “Biarkan aku bertanya pada Rab-ku. Tujuh hari lagi, aku akan memberimu jawaban.”
Perlu beberapa menit bagi Dean untuk mengangkat sudut-sudut bibirnya sedikit lebih tinggi. Perkataan Zahra seperti sebuah bom yang baru saja meledak di hatinya. Membuat pikirannya sedikit lebih terbuka dan mulai menyadari hal yang paling penting.
Memang benar, titik tertinggi dalam mencintai dan memiliki, adalah mendapatkan izin dari Tuhan nya.
Bagaiman aku bisa lupa?
7 hari Bang, sabar yee Bang.
__ADS_1
Kembang dongggg
Othor butuh sajen 🤩🤩