Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 78


__ADS_3

Zahra Pov


Ada cahaya terang, yang cukup menusuk mata. Membuat kepala tiba-tiba terasa pusing. Hingga, menyadari kalau aku di tempat yang asing. Namun dengan dekorasi yang terlihat familiar di mata.


Rasa-rasanya ...


Kemarin aku ketiduran di meja.


Kenapa bisa di sini?


Menelisik, menatap dekorasi sekitar yang tertata rapih. Juga wallpaper yang ku pikir, aku sendiri yang memasangnya.


Ngak mungkin kan aku pindah sendiri?


Kaki mulai turun. Berjalan di atas lantai yang terasa dingin. Meraih handel pintu dan membukanya. Betapa terkejutnya, saat melihat ruangan yang terlihat rapih.


Lantai yang bersih bahkan tanpa debu, beberapa perabot bahkan sudah di letakkan di tempat yang aku inginkan. Segera aku berlari ke kamar mandi. Mendapati ruangan kecil itu terlihat bersih dan segar. Beberapa tanaman hijau menjalar membuat ruangan terlihat hidup.


Pertanyaannya ....


Siapa yang ngerjain?


Aku kah?


Ngak mungkin! Jelas-jelas aku tidur nyenyak semalam. Bahkan sampai mimpi pun ngak mau mampir.


Lalu ...


Dania dan Intan?


Jelas ngak mungkin lagi! Mereka mana ngerti tata letak dekorasi yang pas. Selera mereka itu ... agak mengenaskan.


Tak mau basa basi dan menebak-nebak. Mungkin aku bisa langsung turun ke bawah. Melihat, barang kali ada manusia atau sesuatu yang supra natural, yang tiba-tiba mau bantuin calon Janda Muda.


Hahaha!

__ADS_1


Ngayal!


Melihat semua benda di lantai bawah tertata dengan rapih. Bahkan debu pun seperti engan menempel di lantai atau meja. Benar-benar super rapih. Penempatan letaknya pun sesuai dengan desain.


Wuah!


Pikiranku jadi makin kacau. Halu ku makin ketinggian. Ngak mungkin kalau aku ngerjain ini semua dengan mata tertutup kan?


Sleepwalking?


Malah makin konyol nih!


Setelah menelisik segala sudut. Tiba-tiba saja mataku menangkan sosok manusia, yang nampak tertidur di atas sofa dengan tellanjang dada.


Oh, Ya Allah, mataku!


Mana badannya bagus lagi!


Dari jarak beberapa langkah. Aku bisa menebak dengan jelas, jika lelaki yang tidur di atas sofa adalah Dean. Banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Salah satunya, adalah alasan keberadaannya disini. Selain itu, aku juga memikirkan banyak kemungkinan.


“Hei! Dean! Bangun!” Kataku sambil berusaha membangunkan dia.


Cup!


Bibir kita saling bertemu. Aku yang cukup terkejut, langsung mendorongnya dan mundur ke belakang dengan cepat. Begitu panik dan kaget, sampai tak sadar, di belakangku ada meja kayu yang sangat kokoh.


Duk!


“AAWW!”


Jeritanku tak dapat terkontrol. Saat punggungku menatap pinggiran meja yang kuat. Sakit seketika menjalar, bahkan membuat mataku basah.


Dean pun langsung bangkit dari tidurnya, ia datang menghampiriku dan mengusap-usap punggung.


“Kamu kenapa sih? Ceroboh banget!”

__ADS_1


Makiannya membuat air mataku bertambah deras. Bahkan napasku tiba-tiba sengal tak beraturan.


“Udah-udah jangan nangis. Nanti sakitnya tambah parah!” Bujuknya seperti menenangkan anak PAUD.


Dia pun membantuku berdiri dan duduk di sofa. Lalu, tanpa pamit atau aba-aba, ia berlalu pergi menaiki tangga. Aku tak bisa menebak jalan pikirannya, punggungku masih terlalu sakit, bahkan bicara pun seperti beban.


Tak lama, dia kembali turun. Dengan mangkuk berisi es batu, juga ada kain putih yang entah untuk apa. Aku tak terlalu memperhatikan langkahnya, hingga tanpa ku sadari, dia sudah berdiri sembari menyodorkan dua bungkus ice cream.


Aku masih fokus membuka bungkus ice, saat melihat dia membungkus es batu dengan kain putih. Lalu, ia membalik tubuhku, hendak membuka baju yang ku kenakan dari belakanh.


“Mau ngapain?” Ucapku berusaha menghentikannya.


“Di kompres biar ngak sakit. Pasti memar itu."


Pikiranku makin rancau. Niatnya sih baik, mau mengobati, tapi timeing pas sekali. Aku pun mengambil bungkus es dari tangannya.


“Aku bisa sendiri.”


Berusaha mengurus diri sendiri, belajar untuk mandiri. Namun kenyataannya tidak semudah realita. Benar, contohnya pada saat ini.


Aku malah terlihat konyol di depannya. Berusaha meletakkan es batu di punggung dengan tangan kiri, namun tak sampai. Lewat samping atau atas, pun sama-sama tak sampai.


Pada akhirnya, ia mengambil alih. Karena aku tak mau dia melihat tubuhku, akhirnya ia menyuruhku duduk di hadapannya. Dia menutup mata, sambil memiringkan tubuhnya sedikit ke kanan, dan pelan-pelan, meletakkan es itu di punggung.


“Udah pas?” tanyanya lembut.


“Kurang ke atas.”


“Sedikit lagi. Sebelah kanan.”


Es yang di balut kain itu perlahan naik, mencari tempat yang sakit, sesuai dengan intruksi dariku. Sekarang, posisi kita seperti sedang memeluk satu sama lain, namun tanpa menyentuh. Membuat jantungku, seperti genderang yang menggumandangkan perang.



Sabar-Sabar yee bang 😅

__ADS_1


Vote, Like jangan sampe lupa.


Sajennya apa lagi 😏😏


__ADS_2