Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 28


__ADS_3

“Kamu mau gugat cerai aku, Bee? Ngak, aku gak mau.” Nada bicara Abram terdegar santai. Namun urat-urat lehernya meregang dengan jelas.


“Ngak akan! Aku gak akan pernah menceraikan kamu!” Sunggut Abram menegaskan ucapannya.


Zahra menghela napas panjang, lalu berdiri sambil berkata, “Ngak mau cerai? Itu urusanmu. Kita bertemu di pengadilan secepatnya.”


Saat Zahra hendak pergi. Abram buru-buru mencekal tangannya, mencengkram kuat sembari memohon. “Jangan Bee, aku beneran sayang sama kamu.”


“Sayang? Kamu sayang sama aku?”


Abram mengangguk cepat. Namun, ketika Zahra mengajukan permintaan, ekspresi Abram berubah.


“Kalau begitu, talak dia setelah melahirkan!”


Memilih antara dua wanita, yang selama ini telah mengisi hidupnya, membuatnya berwarna, dan indah. Salah satu keputusan terberat dari dua istri, adalah memilih salah satu. Begitu, yang di rasakan Abram. Melihat suaminya terdiam, Zahra pun melanjutkan ucapannya.


“Ngak sanggup? Ngak bisa?”


“Bu-bukan. Aku cuma mikir nasip anaknya nanti, Bee.”


“Aku istrimu kan? Aku juga bisa jadi ibu.” Zahra menepis cengkraman tangan Abram. “Bilang saja kalau kamu gak mau talak dia!” Nadanya terdengar kasar dan penuh kecewa.

__ADS_1


“Hahaha aku hampir lupa. Kalau kamu talak dia, kamu gak akan bisa punya anak lagi. Aku kan MAN-DUL!" Zahra seolah mempertegas kata 'mandul'. Membuat Abram seketika melayangkan tangannya.


PLAK!


Tanpa ancang-ancang, dia menampar istrinya, untuk pertama kali, dengan sangat keras. Melihat Zahra di perlakukan kasar. Dean langsung melayangkan bogem mentah ke wajah Abram. Membuat lelaki itu jatuh tersungkur menghantam sofa.


“Berengsek Lo!”


Dean berjalan ke arah Zahra. Melihatnya memegangi wajah yang baru saja menerima tanda dari sang suami. Perlahan, Dean membuka tangan yang menempel di pipi.


Darah segar keluar dari sudut bibirnya. Membuat amarah Dean memuncak dan ingin menghajar Abram sekali lagi. Namun, tangannya yang mengepal, di pegang oleh Zahra.


“Cukup!” Ucapnya.


Zahra menepis kakinya, berusaha melepas tangan Abram yang bergelayutan. “Lepas!” Nada pertamanya terdengar lirih. Saat Abram tak kunjung melepas, nadanya meninggi, setengah berteriak.


“Jangan buat aku makin nekat. Lepas!"


Seketika, Abram melepaskan kaki Zahra. Ada perasaan takut saat mendengar ancaman istri mudanya. Pada akhirnya, ia hanya bisa membiarkan istrinya pergi dengan Dean dan Dania. Menatap punggung sang istri dari jauh dan di ikuti lelaki lain, hati Abram terasa teriris.


Ia buru-buru bangkit, ingin mengejar. Namun, Tante Ve berteriak dari dalam. Membuat Abram berbalik haluan dan masuk ke kamar.

__ADS_1


Dean membantu Zahra masuk ke mobil dengan hati-hati. Melihat bekas tanda tangan dari sang Suami, hati Dean terasa medongkol. Ia bahkan sempat melayangkan tinjunya ke tembok secara diam-diam usai membantu Zahra masuk mobil.


“Aku ke warung depan dulu beli es batu. Jaga Zahra bentar.” ucap Dania dan langsung pergi.


Dean masuk ke mobil, duduk di kursi kemudi, dan menatap Zahra dari kaca tengah. Zahra terlihat murung, bibirnya mengatup rapat-rapat, manik matanya tak bergerak, fokus ke satu titik. Sesekali air matanya menetes, namun cepat-cepat di usap.


“Dean ... Bisa antar aku ke rumah sakit ngak?”


Perkataan Zahra membuat Dean menoleh ke belakang. Melihat Zahra tertunduk sambil menekan-nekan ujung jarinya. Sama seperti dulu, ketika Zahra terlihat binggung dengan masalahnya.


“Aku mau visum!”



Visum?


Kira-kira buat apa Zahra visum?


Tebak menebak dulu lah ya


Jangan lupa Vote, Like, sama sajen.

__ADS_1


Othor ngepet agak maleman yeee.


__ADS_2