
...****Hari perceraian di Jakarta****...
Cuaca di Ibu Kota Jakarta saat ini tergolong cerah dengan sedikit awan. Semua orang berlalu lalang dengan kesibukannya masing-masing. Hari mereka berjalan tampak seperti biasanya. Namun, berbeda dengan salah satu rumah di tengah kota besar itu.
Beberapa orang terlihat memakai kerudung putih, berjalan hilir mudik mendatangi satu rumah yang tergolong cukup mewah. Raut kesedihan terpancar cukup jelas di wajah mereka.
Seorang wanita dengan perut yang membuncit, meraih ponsel di atas meja. Terlihat ia mencari kontak yang di beri nama ‘suami’, dan cepat-cepat menghubunginya.
“Sayang, papa ... papa udah pergi!” Isak tangisnya terdengar cukup jelas di telinga pria yang berusia 30 tahunan itu.
“Kamu cepetan pulang ya! Cepet pulang!” Lanjutnya dengan air mata yang mengucur cukup deras.
Alih-alih mendapat perhatian, atau kata-kata penyemangat. Lelaki itu hanya berkata satu kata, lalu segera mengakhiri panggilan begitu saja. Membuat hati wanita itu terasa semakin teriris.
Sudah satu bulan lamanya, Abram berada di kota Malang untuk menghadiri sidang cerainya. Sesekali ia menghubungi Nindira untuk bertanya kabar, juga keadaan janin dalam perutnya. Selebihnya, ia mengabaikan panggilan wanita yang menyangdang gelar istri pertama selama 3 tahun lebih.
Abram baru saja mendapatkan hasil putusan sidang perceraiannya. Ketika baru sampai di mobil, ponselnya berdering. Ia menggira, panggilan istrinya hanya akan menanyakan hasil sidang. Namun, siapa yang menduga jika itu adalah kabar duka.
Beberapa wartawan mulai mengelilingi rumah Nindiria. Bahkan tak sedikit orang yang mewawancari tetangga. Menanyakan sebab kematian, bahkan tak sungkan menanyakan keberadaan Abram yang di ketahui sedang menjalani sidang cerai.
__ADS_1
“Saya kurang tau ya, anaknya juga udah lama ngak keliatan. Sekalinya kerumah, cuma sebentar. Saya juga ngak tau kalau udah nikah.” Ujar salah satu tetangga saat di wawancara tentang hubungan Nindira dan Abram.
“Ngak kelihatan tuh suaminya di dalam. Ngak tau juga dia tau atau engak kalau mertuanya udah meninggal.” Lanjut seorang ibu-ibu yang baru keluar dari rumah.
Tak beberapa lama, bunyi sirine mobil jenazah, terdengar nyaring. Memecah kerumunan wartawan yang coba menggorek informasi dari tetangga. Mereka langsung membuka jalan, tak lupa dengan kamera yang menyala.
Nindira tak terlihat keluar rumah untuk menyambut jenazah. Hanya terlihat Tanye Ve yang datang dengan mobil di belakang, dan Om Pras yang membantu menggotong keranda masuk ke dalam rumah.
“Dira yang sabar, yang tabah.” Tanye Ve memeluk Nindira dengan erat. Mengusap air mata keponakan suaminya dengan lembut.
Tante Ve atau pun Om Pras, nyatanya tak mau memberanikan diri untuk bertanya keberadaan Abram. Meski mereka marah dengan sikap Abram kala itu, nyatanya mereka masih memantau berita perceraian Abram. Sehingga secara tidak langsung, mereka tahu jika hari ini adalah perceraian Abram.
“Sudah petang, suami Nindira tak kunjung terlihat”
Sebuah highlight berita menjadi trending topik. Banyak yang mengucapkan bela sungkawa, juga dukungan. Namun, banyak juga yang menggunjing mereka.
“highlight berita gitu banget sih? Ngak menghargai keluarga yang berduka!” Tulis salah satu netizen di kolong komentar.
“Menurut gue, itu karma buat si dia. Dulu menyudutkan istri muda, seakan-akan dia istri yang terdzolimi. Padahal, dia juga yang nipu semua orang.” Balas yang lain.
__ADS_1
Berita dengan highlight tersebut masih cukup ramai. Bahkan komentar pun mencapai ratusan ribu. Banyak di antara berita itu seolah membicarakan karma. Sebab akibat telah berkata ambigu, hingga membuat Zahra terdampak dan di cap sebagai perebut suami orang.
Bahkan, berita tentang Abram yang mengabaikan Nindira, bertahan hampir dua minggu. Banyak orang yang ternyata engan menaruh simpati pada mereka yang berduka.
“Kamu kenapa ngak langsung pulang sih?” Nindira terdengar kesal saat melihat Abram yang baru pulang ke esokan harinya.
“Aku gak dapet tiket kemarin.” Jawabnya enteng sambil berjalan masuk ke dalam.
“Gak dapet tiket? Hallo! Kamu bisa kan call aku?” Nindira tertatih mengikuti langkah panjang Abram, masuk ke dalm kamar.
“Nindira, cukup ya!” Bentak Abram. Nindira diam mematung, mendengar bentakan Abram. Sedangkan lelaki itu, tanpa rasa bersalah, berbaring di tempat tidur dan memejamkan mata.
Ini flash back ya gaes, posisi waktu Abram sidang cerai sama Zahra.
Bab selanjutnya makin seru.
Jadi VOTE jangan sampe lupa ♡♡♡♡
__ADS_1