Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 63


__ADS_3

...***Keadaan jadi lebih baik***...


“Makasih ya, Mas Dean. Selama bebeapa hari ini udah jagain Zahra. Udah bantuin dia juga,” ucap Bu Ahmed saat Dean mengantarkan mereka ke bandara.


“Jangan sungkan, Tante.” Dean tersenyum, menatap sosok wanita paruh baya yang mungkin sebentar lagi akan menjadi mertuanya.


“Berkas udah aku siapin di map kuning. Tinggal bikin laporan ke KUA sama PA (Pengadilan Agama) Lusa, mungkin aku berangkat ke Malang.” Lanjut Dean menatap Zahra.


“Iya. Besok kalau ada waktu mau langsung urus berkasnya. Selebihnya, aku tinggal kabarin kamu aja kan?”


"Yakin, kamu gugat cerai? Udah tau apa aja yang jadi hak istri saat gugat cerai?" tanya Dean sekali lagi untuk memastikan.


"Iya, aku udah yakin, Mas. Lagi pula, aku masih bisa cari uang sendiri. Aku gak mau lagi berhubungan sama dia, bertemu pun, aku gak mau."


"Oke deh. Save fight, kabarin kalau udah landing."


Mereka saling melambaikan tangan. Dean masih fokus menatap punggung Zahra, yang semakin menjauh dan berbaur dengan penumpang yang lain. Namun, ia melupakan hal penting. Pak Ahmed, masih berdiri di sampingnya.


“Dean!”


Panggilan dari Pak Ahmed seperti palu besar yang langsung mendarat di kepalanya. Dean menoleh, menatap sosok laki-laki bertubuh besar, berdiri tegap dengan wajah serius.


“I-iya, Om.”


Mati aku!


Kok aku bisa lupa, kalau pawangnya belun ikut masuk.

__ADS_1


“Bantu Zahra sampai resmi cerai, setelah itu ... aku tunggu kedatanganmu di rumah!”


Pak Ahmed meninggalkan Dean begitu saja. Membiarkan lelaki itu berpikir lebih lama, tentang maksud dari perkataannya


Aku tunggu kedatanganmu di rumah.


Aku tunggu ... di rumah.


Setelah dia bercerai.


Hingga beberapa detik kemudian.


"WOAH! Aku dapet lampu ijo, seriuan?


Dean berteriak seperti orang gila. Perjuangannya, kini membuahkan hasil. Ke dua orang tua Zahra rupanya sudah memberinya lampu hijau. Sekarang, tinggal membantu Zahra mengurus perceraiannya.


(Ma, anakmu menikah dengan Janda, gak apa-apa,ya!)



Sesampainya mereka di Malang. Dania kembali lebih dulu ke kosnya, sedangkan Zahra mengantar orang tuanya kembali ke rumah.


Jarak dari bandara ke rumah rupanya cukup jauh, sekitar tiga jam di tempuh dengan mobil.


Begitu sampai, beberapa orang terlihat mengerumuni rumah Zahra. Melihat itu, Bu Aed jelas khawatir, takut jika mereka mendapat teror lagi. Hingga, Pak Ahmed turun lebih dulu untuk memastikan keadaan.


“Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, ini ada apa ya?” tanya Pak Ahmed yang baru turun dari mobil.

__ADS_1


“Pak Ahmed baru datang dari Jakarta ya?” Tanya seorang ibu-ibu.


“Mak, kami disini mau minta maaf. Kemarin sudah nuduh si Jahra yang jelek-jelek.” Sahut ibu-ibu yang lain.


“Tenang Pak, rumah Bapak sudah aman sekarang. Pak RT sudah menyuruh para warga yang lain, buat ronda di sekitar rumah. Biar ngak ada yang gangguin Pak Ahmed lagi.” Seorang pria paruh baya ikut berkomentar.


Zahra dan Bu Ahmed pun turun, kala sayup-sayup pembicaraan mereka terdengar dari mobil. Mereka langsung mengucapkan banyak terimakasih, karena sudah mau memahami keadaan Zahra.


Bahkan, tak sedikit orang yang mengumpat tentang Abram.


Meski, kebanyakan orang di kampung seorang ibu-ibu kuno. Namun gaya kekinian mereka tak kalah dengan orang metropolitan. Mereka selalu on time memeriksa berita viral di dunia maya, termasuk, berita tetangganya sendiri.


2 Message by Dean


💌 Sudah sampai rumah belum?


💌 Jangan lupa makan



Dean Said :


Mak, aku mene rabi, karo rondo.


Isek enom, ayu sisan.


Vote jangan sampai lupa.

__ADS_1


Up lanjut besok ya, Othor mau rehat dulu.


__ADS_2