
...****Panggilan Terabaikan****...
Sudah jam sepuluh pagi, tapi mata Zahra masih menutup rapat. Setelah di selidik, rupanya dia tak bisa tidur semalam. Ia begadang dengan laptop juga kertas-kertas yang di gunakan untuk mendesain.
Sampai saat dimana telinganya sayup-sayup mendengar bunyi ponsel yang berdering. Tangan dengan jemari lentik itu keluar dari selimut berwarna peach. Merogoh bawah bantal, juga area terdekatnya, hingga ia menyentuh benda pipih yang masih saja berbunyi.
“Hallo assalammualaikum.” Zahra bicara dengan mata yang masih tertutup.
“Waalaikum’mussalam, dengan Mbak Zahra?”
“Iya, ini siapa?”
“Saya Pak Rudi, Mbak.
Mendengar identitas dari si penelfon, Zahra seketika tersentak kaget, dan langsung bangun dari tidurnya.
“Pak, Pak Rudi? Iya, Pak, kenapa ya?”
“Gini, Mbak Zahra kapan ada waktu ya? Kemaren Bu Syam telfon saya soal stand toko yang di Malang Square.”
Zahra langsung menepuk keningnya. Ia lupa, kalau kemarin mama mertuanya menawarkan sebuah stand di Malang Square.
“Emm, gini Pak. Saya masih repot, kalau ada waktu saya kabari lagi ya.” Zahra berusaha menghindar.
“Oke oke, Mbak. Kabarin aja ya Mbak.”
Tak lama setelah Zahra menghela napas lega, juga setelah telfon dengan Pak Rudi di akhiri. Ponselnya berdering lagi. Kali ini, nomer tidak di kenal kembali menyapa ponselnya.
“Masih pagi loh ini! Siapa lagi sih?” Gumalnya jengkel.
“Hallo selamat siang, apa ini dengan Ibu Zahra Ameera?” Suara seorang wanita yang terdengar cukup merdu, menyapa telinga Zahra.
“Selamat siang. Iya benar, ini dengan siapa ya?”
__ADS_1
“Saya Amel, Bu. Dari agen perumahan. Sebelumnya saya di hubungi Ibu Syam untuk menjual rumah. Hari ini, apa Bu Zahra ada waktu?”
Zahra terdiam sejenak, ia melirik jam dinding besar yang ada di depannya. Lalu, mulai menghitung waktu.
“Kalau sore ini, gimana? Sekitar jam tiga atau jam empat,” ucap Zahra.
“Baik, Bu. Nanti saya kabari kalau jalan. Terima kasih atas waktunya ya, Bu.”
Zahra langsung melempar ponselnya ke kasur, dan menarik selimutnya kembali. Sepersekian detik setelah ia menutup mata. Ponselnya kembali berdering.
“Siapa lagi nih, woi!!” Pekiknya jengkel.
Ia meraih ponsel, melihat nama Dean tertera di sana. Saat itu, Zahra sangat ingin men-silent ponselnya, atau mematikannya. Namun, pikirannya menerka banyak kemungkinan.
“Assalammualaikum, Mee.”
“Waalaikum’mussalam.”
“Baru bangun?”
“Aku bisa tebak. Semalam begadang demi desain ruko, baru tidur setelah subuh, dan sekarang, ngebangkong.” Lanjut Dean.
“Udah tau gitu, masih telfon pagi-pagi.” Sunggu Zahra.
“Mana yang pagi, sejak kapan setengah 12 ini pagi?”
Mata Zahra kini terbelalak, ia kembali menatao jam dinding. Jam panjang dan jarum pendek masih di tempat yang sama seperti tadi, sedang jarum detiknya tidak bergerak.
Lalu, pandangannya berpindah dengan cepat, menatap ponsel. Melihat angka 11.25 yang cukup besar dan jelas.
“Astagfirullah, jamnya mati!”
Zahra melempar ponsel, lalu bergegas ke kamar mandi. Melupakan ponsel yang masih terhubung dengan Dean.
__ADS_1
“Halo, Mee ... hallo?”
“Kamu ninggalin HP mu gitu aja? Mee ... hallo!”
“Jangan bilang kamu lupa kalau aku masih telfon?”
“Zahra Ameera!!”
“Liat kalau ketemu nanti, ya!”
Zahra pun sepertinya lupa, bahkan saat di kamar mandi, dia tidak kepikiran sama sekali. Saat ganti baju, bahkan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Sampai saat dia turun ke bawah, sembari menenteng tas juga memainkan kunci mobil.
"De-Dean?"
Matanya langsung fokus, menatap Dean yang bersandar di mobil putih miliknya.
"Satu jam, dua puluh tiga menit." Dean menghampiri Zahra yang mematung di ujung tangga.
"Pertama kalinya setelah bertahun-tahun ya, Mee. Aku bisa menghubungimu selama ini." Dean menunjukkan ponsel yang masih terhubung panggilan.
Zahra cukup terkejut, saat melihat panggilan itu rupanya masih berlangsung. Mulutnya mengangga cukup lebar, namun ia menutup dengan tangannya cepat-cepat.
Zahra kurang ajar emg bang
besok-besok kalau udah resmi jadi bini, nitip tampolin dia yee bang!!
gak sopan sama si ganteng 🤣🤣
Udah gak usah Up Up mulu!
VOTE nya itu lo jan sampe lupa.
__ADS_1
Atau paling ngak, kembang kek sekebon,
kopi juga boleh nih, mumpung masih pagi 😆😆