Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 54


__ADS_3

...***Harus Ikhlas***...


Banyak hal yang harus mereka ikhlaskan. Zahra harus mengikhlaskan suaminya, Pak Ahmed dan istrinya juga harus mengikhlaskan anaknya bercerai. Sebagai orang tua, keinginan mereka cukup sederhana. Selagi anak mereka bahagia dan tidak menyalahi aturan agama, mereka pun siap untuk pasang badan.


Zahra dan yang lainnya baru selesai solat isya berjamaah, di imami oleh ayahnya, Pak Ahmed. Setelah sekian lama, hatinya kini sudah merasa jauh lebih tenang. Ekspresi wajah bahagianya pun dapat di lihat ke dua orang tuanya.


“Sekarang, kamu mau gimana, Nduk?” tanya sang Ibu membantu Zahra melipat mukena.


“Mau ke rumah mama sama papa. Zahra mau pamit.”


“Buat apa kesana?” Sela Pak Ahmed terlihat masih jengkel.


“Yah! Mulutnya itu loh. Anak mau pamit baik-baik kok! Sekalinya mereka salah, kita mesti punya adab!” Bu Ahmed pun turut berkomentar.


“Sudah-sudah, jadi ribut sih?” Zahra mencoba melerai.


“Yah, nama baik Zahra perlu di perbaiki. Jadi kita perlu ke sana. Ayah jangan marah, ya?” Bujuknya menarik ujung baju sang ayah sembari merengek.


Pak Ahmed hanya bisa menarik napas. Bagaimana pun, nama baik Zahra memang harus di pulihkan sebelum mereka bercerai. Takut, jika mereka kembali nanti, para tetangga akan menggunjing mereka lagi.


“Ya sudahlah, kita ikut maunya kamu.”


Perkataan Pak Ahmed membuat Zahra menghela napas lega. Setidaknya, mereka sudah bersedia ikut ke Bandung untuk bertemu besan.


Masalah cerai, bertemu besan, dan hal-hal yang menyangkut Abram, seakan di lupakan dalam sesaat. Waktu yang mereka habiskan bersama terlihat cukup santai. Setelah makan malam, ayah dan ibu Zahra bercengkrama di balkon sembari menikmati teh. Sedangkan Dania dan Zahra, pamit lebih dulu untuk beristirahat.

__ADS_1


“Kamu ada ide, Ra?” Tanya Dania yang baru keluar dari kamar mandi.


“Ada. Seingatku, Tante Ve bakal pulang ke Bandung saat weekend.”


“Apa hubungannya sama Tante Ve?” Dania sedikit heran. Karena menurutnya, masalah Zahra hanya butuh kehadiran Nindira bukan Tante Ve.


Namun, Zahra tak memberi Dania jawaban. Ia hanya tersenyum licik sambil melirik sahabatnya itu. Lalu, menarik selimut dan pergi tidur.


“Jangan lupa matiin lampu!”


“Ra! Kamu belum jelasin, apa hubungannya sama Tante Ve!” Dania menggerutu. Ia menciba membangunkan Zahra yang sudah menarik selimut lebih dulu.



“Besok, kita harus gimana, Yah? Aku takut jantungan.” Bu Ahmed memandang gelas yang dia pegang.


“Mau gimana lagi, Bu. Ini juga salahku.”


“Yang sudah ya sudah. Mau menyesal gimana, Yah. Namanya qadarullah, sudah jadi takdirnya Allah, gak bisa di salahin.”


Pak Ahmed pun kembali menghela napas panjang. Perkataan istrinya memang benar, apa yang sudah jadi takdir Allah, tidak seharusnya di sesali. Mungkin, dibalik ini semua akan ada nasip baik yang mendatangi putri semata wayang mereka.


“Belum pada tidur nih?” Samar-samar suara Dania terdengar dari belakang, membuat keduanya kompak menoleh.


“Eh, kirain udah tidur. Kami berisik ya?” Bu Ahmed terdengar sungkan.

__ADS_1


“Ngak, Bu. Dania kebetulan haus.” Dania melirik, melihat jam dinding ternyata sudah berada di angka sebelas. “Udah malem loh, Bapak sama Ibu istirahat ya. Zahra bilang, besok kita ke Bandung.”


“Besok?” Pak Ahmed bangkit dari kursinya.


“Iya, Pak. Mumpung libur katanya.”


Sekarang, giliran Bu Ahmed yang menghela napas panjang. Seakan ragu melepaskan beban yang ada di pundaknya. Pak Ahmed seakan mengerti kemauan sang anak. Ia kemudian mendorong istrinya masuk.


“Dingin, ayo tidur!” Ajak Pak Ahmed terus mendorong tubuh sang istri hingga masuk ke kamar mereka. Bu Ahmed pun hanya bisa pasrah saat di dorong begitu saja.


“Sabar ya Pak, Bu. Zahra bentar lagi bahagia, Insya Allah.” Gumam Dania yang kemudian melangkah masuk ke kamar Zahra.



Yang ngira dia PMY


Brati kalian salah.


Visual Nindira yang main di 46 Days, Thai Drama


Bestfriend Baifern.


Tukan Othor kilaf. bilang sorean mau UP


🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2