
...****Karena aku, mencintaimu****...
Zahra mengangkat kepalanya perlahan, menatap Dania dengan wajah pucat. Tubuhnya penuh memar, beberapa bekas cakaran terlihat di banyak tempat. Dia berusaha sangat keras, menggosok bekas sentuhan dari Abram, hingga membuat tubuhnya lecet.
Dania tak kuasa, melihat setiap centi tubuh mulus temannya itu lecet karena di gosok dengan kuat. Pedih, matanya tiba-tiba berkaca. Dia buru-buru membawa tubuh Zahra keluar dari kamar mandi.
“Ayo, Ra. Ayo keluar!”
Zahra kembali meringgis kesakitan, saat kedua kakinya melangkah. Ada gesekan kasar yang terjadi di area sensitifnya yang bengkak. Namun, dia menyembunyikan sebaik mungkin dari sahabat baiknya, takut jika dia khawatir.
“Pelan, Ra. Duduk sini dulu.”
Dania membawa Zahra duduk di pinggir ranjang. Dia bergerak cepat, mengambil baju Zahra dan membantunya memakai baju. Tepat saat Zahra mengangkat kaki untuk memakai ****** *****, ia merintih kesakitan.
Dania tahu dengan baik, Zahra sedang menyembunyikan rasa sakit yang menghujam tubuhnya. Ia tak kuasa, dan memilih leluar untuk membuatkannya teh panas. Baru keluar pintu, tangis Dania pecah. Membayangkan jutaan rasa sakit yang di alami Zahra.
Sinar mentari terlihat di ufuk timur. Sinar yang baru setengah naik, memancarkan kegagahan sang surya. Hiruk pikuk kota Jakarta, sudah mulai terlihat dari lantai kamar mereka. Bunyi klakson, asap kendaraan yang mengepul. Dunia masih terus berjalan seperti biasanya. Seolah tak perduli dengan satu hati yang patah.
Zahra masih duduk di posisi yang sama, menatap ke arah jendela, dengan tirai tipis berwarna putih. Tirai yang entah sejak kapan ia singkap. Teh yang di sajikm Dania bahkan telah dingin dan tak tersentuh sedikit pun.
“Ra, kamu makan ya.” Ajak Dania yang baru saja turun mengambil bubur hangat dari aplikasi delivery food.
Dia di abaikan lagi. Bahkan dia tak tahu, entah sahabat baiknya itu mendengar ucapannya atau tidak. Namun kali ini, dia tak perduli soal penolakan. Ia membuka tutup bubur, terlihat asapnya di sana masih mengepul pekat. Mengambilnya sesendok, meniupnya sesaat, lalu menyuruh Zahra membuka mulut.
__ADS_1
“Buka mulutnya, Ra. Ayo makan sedikit.”
Zahra menggeleng pelan. Dania tetap menyodorkan sendok, tak mau mengendorkan lengannya sedikitpun.
“Demi aku, Ra. Demi temen-temen yang lain. Demi ayah, demi ibu.”
Zahra masih gigih menggeleng. Dia tetap berusaha, membujuk, merayu, demi Zahra membuka mulutnya. Sampai pada saat pintunya di ketuk.
Dania terlihat putus asa, ia meletakkan sendok dan mangkuk di atas meja. Kemudian pergi mengintip dari lubang kecil yang ada di depan pintu. Memastikan kalau yang datang bukan Abram.
“Gimana dia?” tanya Dean.
“Kacau. Aku gak tau lagi mau ngapain. Dia udah kek orang gila. Tangan, leher, seluruh tubuhnya penuh luka.”
Dean mengintip dari ujung pintu. Melihat punggung Zahra yang duduk menghadap ke jendela.
Lelaki itu menghela napas, lalu masuk ke kamar. Mengambil mangkuk bubur dan mengangkat sendok ke depan mulut Zahra.
“Buka mulutnya, Mee.”
Zahra diam tak merespon. Matanya lurus ke depan, seperti fokus, padahal tidak. Semangat Dean masih sama seperti Dania. Ia terus membujuk tanpa memindahkan sendok dari depan mulutnya.
“Ayah dan ibu udah tua, cuma kamu anak mereka. Kalau kamu kenapa-kenapa, ayah sama ibu gimana?”
Pandangan mata Zahra berubah arah. Ia menatap Dean. Tatapannya terlihat sayu, matanya pun bengkak. Perlahan, ia membuka mulut. Dean cepat-cepat memasukkan sendok ke mulut Zahra.
__ADS_1
Muluhnya mengunyah dengan baik, tatapannya masih fokus tertuju ke arah Dean. Tiba-tiba, bulir air keluar, menetes membasahi pipinya. Dean bergerak cepat, menghapus air mata Zahra dengan tangannya.
“Jangan menangis, jangan.”
“Aku terlihat lucu kan? Dimatamu, aku begitu konyol dan menyedihkan, iya kan?”
Dean menggeleng, “Ngak, ngak!”
“Lihat!” Zahra berdiri dari duduknya. “Seluruh dunia lagi ngetawain aku sekarang. Kamu juga kan? Iya kan?”
Dean meletakkan bubur di atas ranjang, lalu berdiri. Tanpa ancang-ancang dan persiapan. Ia mencium bibir Zahra. Kecupan demi kecupan lembut, mencoba meredam amarah Zahra.
Bulir air mata Zahra jatuh semakin cepat. Tak bisa ia pungkiri, ciuman Dean selalu bisa menenangkan hatinya. Setiap sentuhannya lembut, kecupannya pun selalu bisa mengalir mengikuti alur.
“Hatiku sakit, melihatmu di perlakukan kasar oleh suamimu. Itu bukan iba atau rasa kasihan. Alasannya masih sama seperti dulu, karena aku mencintaimu.”
Wahh, Zahra selingkuh juga nih?
Gimana donggg??
Vote. Jangan lupa Vote!
Hari ini up agak lambat ya gaes.
__ADS_1
Othor ada acara, semoga malem masih sempat up lagi.
Vote, pokoknya Vote!