Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 92


__ADS_3

...****Apa ini permainan Nindira?****...


Beberapa darah yang menetes di keramik putih, seakan membawa trauma besar bagi Zahra. Dadanya seakan sesaak, kepalanya pun semakin pening, dan pada akhirnya, ia jatuh pingsan. Beruntung, Intan cepat menangkap tubuh wanita yang sejak tadi sudah terlihat pucat.


“Ra, Zahra!” Teriaknya menepuk-nepuk pipi Zahra.


Intan meletakkan tangannya di kening, dan leher Zahra. Merasakan tubuh wanita itu sangat panas, Intan segera memanggil taksi online untuk membawanya ke rumah sakit.


Butuh tiga jam sejak dia jatuh pingsan, untuk perlahan terbangun. Melihat tangannya terhubung dengan infus, dia hanya bisa menghela napas panjang. Mungkin, Zahra sudah menebaknya sejak awal.


Bola mata indah berwarna coklat, mulai menelisik menatap sekitar. Ruangan yang tak begitu luas, dengan satu tempat tidur, sofa kecil, dan juga nakas. Zahra bisa langsung menebak, jika itu ruangan VIP yang hanya di tempati satu pasien.


Dari penjuru ruang yang tak begitu luas, ia hanya bisa melihat Intan. Wanita itu sedang duduk bersandar di tembok, dengan mata yang terpaku pada layar ponsel. Seketika, pikirannya mulai menerka, tentang keberadaan Dean, yang tadi mengantar Nindira.


Zahra memencet sebuah tombol, yang langsung terhubung dengan tempat tidurnya. Saat bagian atas bed bergerak naik, Intan langsung menoleh.


“Ra, udah bangun?” Intan segera berdiri, lalu mendekati Zahra. “Mau minum? Laper ngak?” Lanjutnya.


“Minum aja, Tan. Tolong ya.”


Wanita cantik dengan hijab segi empat itu, langsung menuang air ke dalam gelas, dan memberikannya pada Zahra.


“Dean masih jaga Nindira?” Zahra mengambil gelas yang di sodorkan Intan.


“Iya. Kamu jangan salah paham, wanita ulet itu gak ada keluarga di sini. Jadi dokter suruh Dean jaga-jaga di sana kalau dia butuh konfirmasi untuk tindakan.” Jelas Intan yang hanya di balas anggukan oleh Zahra.

__ADS_1


“Dean udah on the way ke sini juga kok. Dia bilang mau nagih hutang 7 hari!” Satu sudut bibir Intan terangkat, sembari melirik Zahra, dan menggodanya.


Sontak, Zahra yang sedang minum pun tersedak oleh air, hingga membuatnya terbatuk-batuk. Baru sebentar mereka bercanda. Dua pasang telinga itu mendengar suara ketukan dari luar.


Apa itu dia?


Dua orang pria berbadan besar, yang satu memakai kaos, sedang satunya memakai jaket kulit. Mereka berdua berjalan masuk dengan santai, membuat Zahra dan Intan terheran, karena wajah mereka yang asing.


“Ibu, Zahra?” Tanya salah seorang dengan nada ramah.


“I-iya. Bapak, siapa ya?” Zahra bertanya dengan wajah heran.


“Gimana, Bu? Sudah membaik? Masih pusing?” Tanya pria yang sama lagi.


“Sudah lebih baik. Bapak-bapak ini, siapa ya?”


Zahra meremas kuat-kuat ujung selimutnya. Pikirannya mulai merancau, memikirkan banyak hal yang mungkin terjadi. Termasuk tindakan yang di lakukan Dean saat membawa Nindira.


Jelas bukan Dean yang membuat laporan. Iya, kan?


Zahra tertunduk, dan bertanya tanpa menatap lawan bicaranya. “Boleh saya bertanya? Apa ibu Nindira yang membuat laporan?”


“Emm ... sebenarnya itu kuasa hukum Ibu Nindira. Kami mohon untuk kerja samanya ya, Bu.”


Zahra menarik napas panjang, sebelum akhirnya, ia menegakkan kepalanya. Menatap tajam melihat dua orang yang berdiri di hadapannya.

__ADS_1


“Baik, sebentar lagi pengacara saya datang. Bisa tunggu sebentar?”


Mereka saling memandang satu sama lain selama beberapa saat. Tepat di saat itu, Dean masuk dengan menenteng paper bag.


“Nah, dia datang.” Zahra tersenyum, menatap Dean yang baru saja datang.


“A-ada apa? Bapak-bapak ini ...?”


Dua orang itu berbalik, menatap seorang lelaki yang berdiri di belakang mereka. Melihat Dean, dua orang itu buru-buru mengulurkan tangan dan mengajaknya berjabat tangan. Mereka saling memperkenalkan diri terlebig dahulu, setelah itu memberi tahu maksud kedatangan mereka.


“Ibu Zahra berstatus sebagai saksi. Jadi kami hanya memeriksanya sebagai saksi.” Jelas salah seorang dari mereka.


Dean melirik, menatap Zahra yang tertunduk di ranjang. Mungkin, wanita itu sedang takut. Entah karena Dean yang mungkin akan memarahinya. Atau statusnya yang mungkin akan berubah.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Nindira main licik lagi?


Gak usah cemas, bab selanjutnya othor kasih kejutan yang luar biasa.


Othor lagi Vertigo+darah rendah ....


Heemmm nikmatnya. Liat hp malah makin berkunang-kunang 😔😔


Jadi buat yang komen, moon maap belum bisa balesin. 🙏🏻

__ADS_1


Othor ucapin terimakasih untuk dukungan kalian selama ini.


Bab selanjutnya meluncur agak siangan, ya.


__ADS_2