
...***Menunggu Bercerai***...
Zahra masih menjadikan tubuh Dean sebagai samsak tinju. Menyerangnya dari berbagai penjuru. Meski, setiap gerakannya tak ada yang begitu menyakitkan, tapi tetap membuat Dean tak mampu berkutik.
Makin lama, batas kesabaran Dean makin menipis. Ia meraih tangan Zahra, lalu mendorongnya mundur hingga tubuhnya tertahan di dinding. Sorot mata Dean seketika berubah, menjadi mata licik sang rubah yang berhasil menangkap kelinci.
Namun, bukannya melahap buruannya, ia justru mengusap sisa ice cream yang ada di bibir Zahra. “Jangan menantang kesabaranku, Mee. Aku udah nunggu kamu bertahun-tahun. Jangan sampai semuanya lepas kendali.”
Mendengar ancaman dari Dean, Zahra memandang lelaki itu sembari menelan salivanya kasar.
Mereka masih di posisi yang sama, saat Dania dan Intan, tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
“Kalian masih belum selesai?” Tanya Intan.
Zahra buru-buru mendorong tubuh Dean. Lalu, berjalan membuang cone yang isinya sebenarnya masih ada, banyak.
“Ka-kalian dari mana aja?” Tanya Zahra mencoba mencari topik.
“Liat orang pacaran!” Dania terlihat cemberut.
“Iya, pacaran sampe lupa kalau dunia masih milik bersama, dan kita ngak kontrak!” Timpal Intan.
“Cih, ngomong apa sih kalian. Ngak jelas deh!”
Zahra kembali duduk di kasur, pura-pura bermain ponsel hanya untuk mengalihkan perhatian. Namun, dia tak sadar, ponselnya sudah mati karena kehabisan batrai.
Sial ponselku mati. Apes banget hari ini.
Duh Gusti!
Dean mengambil surat dari pengadilan. Mencari tanggal panggilan pertama untuk mereka. Rupanya, panggilan pertama akan di lakukan tiga minggu lagi. Dan itu, hanya berupa mediasi antara pengugat dan tergugat.
Dia merasa, waktu yang di butuhkan pengadilan terlalu lama. Bahkan, ia bisa menebak, kalau proses cerai Zahra setidaknya perlu empat atau mungkin enam bulan. Hingga, hakim memutuskan bahwa mereka telah resmi bercerai.
__ADS_1
"Terlalu lama, terus kapan aku nikahnya?" Guman Dean dalam hati.
“Mungkin ini butuh empat sampai lima bulan, sampai hakim memutuskan kalian resmi bercerai.”
Mendengar penjelasan dari Dean, Zahra sontak menghentikan aktifitas konyolnya. Ia menoleh, menatap Dean yang sedang berdiri sembari membaca isi surat pengugat. Tak hanya Zahra, bahkan Dania, dan Intan terfokus padanya.
“Kenapa bisa selama itu?” Zahra penasaran.
“Tahun lalu, aku bantu artis untuk gugat cerai, dia hanya butuh tiga bulan sampai sidang resmi. Nanti, aku coba hubungi pihak pengadilan.”
Zahra menghela napas panjang, dia tak tahu harus merasa lega atau bersyukur. Dia sangat ingin lepas dari Abram secepat mungkin. Namun, juga tak menaruh harapan kalau sidang mereka bisa berjalan cepat.
“Rencanamu gimana setelah ini, Ra?” Intan bertanya dengan serius. “Masih balik ke rumah itu?”
“Gak tau juga. Mama bilang dia mau di jual.” Zahra sedikit acuh kala membahas masalah kenangan pahit itu.
“Kenapa ngak balik ke rumah?” Dean menyahut, memandang Zahra yang kembali duduk.
“Gak bisa, rumah terlalu jauh dari kota. Belum lagi, jaringan di sana agak buruk. Kerjaanku bisa tertunda.” Jelas Zahra santai.
Rupanya, ide Dania mampu membuat Zahra berpikir sedikit serius. Memang, tidak ada salahnya untuk coba melebarkan sayap. Lagi pula, selama ini Zahra banyak menerima tawaran job desain dari lingkup rumah tangga.
“Ruko ngak terlalu nyaman untuk hunian.” Timpal Dean.
Zahra berpikir kembali. Tiba-tiba, secercah gambaran tentang rumah dan toko, muncul di kepalanya. Ia bergegas mencari selembar kertas dan pena di atas meja. Lalu, mulai mengambar abstrak.
Beberapa menit kemudian, dia memperlihatkan sebuah gambar. “Cari yang model seperti ini! Lantai dua bisa di desain jadi tempat tinggal yang cukup nyaman, gimana?”
Mereka terlihat cukup serius melihat gambar ruko yang di inginkan Zahra.
“Aku pernah lihat mirip begini.” Intan menyahut lebih dulu. “Tapi aku gak paham, ada yang kosong atau engak.”
“Mantul nih, ayo kesana!” Ajak Zahra buru-buru mengambil tas.
__ADS_1
Namun, tiba tiba langkahnya di hadang oleh Dean. Ia kembali menyentil kening Zahra sembari berkata, “Kamu sakit! Duduk yang baik!”
“Si-siapa yang sakit!” Zahra protes sambil mengusap keningnya. Dania, yang berdiri tepat di samping Zahra, tiba-tiba menyolek pantaatnya, memberikan beberaoa kedipan mata yang langsung di pahami Zahra.
“Oh, iya-iya. Aku agak capek!” Sahut Zahra yang langsung mengerti kondisi terkini.
“Duduk di sini baik-baik. Aku yang cari rukonya. Kamu tinggal cek di WhatsApp!” Dean berjalan keluar dengan langkah santai.
“Naik apa? Ngak dianter?” Teriak Zahra menyusul Dean, namun hanya sampai di ambang pintu.
Dean tak menoleh, ia berlajan begitu saja sambil melampaikan tangan. “Ojek online. Kalian gak perlu turun, buka kunci mobilnya dari atas!”
Zahra langsung menghela napas lega, melihat punggung Dean yang perlahan turun.
“Dasar, diktator!” umpatnya lirih.
"Mee, aku bisa denger umpatanmu dengan jelas!" Teriaknya sedikit kencang, hingga dapat masuk di indra pendengaran Zahra.
ARGH!!!
Zahra mengacak-acak rambutnya sambil berjalan masuk ke kamar.
Bantuin Zahra pindahan dulu lah yaa.
Setelah itu bantu mereka di persidangan.
Lanjut lagi nanti malam.
Kalau gak Up, brati besok pagi 😅
Jangan lupa Like, Vote, Hadiah.
__ADS_1
Sarangeo♡♡♡♡♡♡