
...***Kepulangan Abram***...
“Denger! Lain kali matiin dulu, setelah itu di tinggal. Oke?” Dean menatap Zahra yang mengangguk dengan cepat.
“Mau kemana kamu?”
“Ke rumah. Ada orang dari agen jual beli rumah mau datang.” Zahra melanjutkan langkahnya, berjalan menuju mobil.
“Aku anter!”
“Ngak perlu, tetangga ku julid semua. Jangan sampai mereka salah paham.”
Dean seakan tak perduli. Ia menarik tangan Zahra, berjalan menuju mobil hitam miliknya. Zahra bersikeras menolak, bahkan melepaskan cengkraman tangan Dean.
“Dean, jangan gini dong. Aku gak mau jadi bahan gibah orang-orang.”
“Gak akan! Mulan bakal ikut sama kita!”
Zahra di buat tak berkutik kala mendengar nama Mulan. Dua wanita, satu pembantu rumah tangga, dan satu orang pria. Tetangga bisa bergosip apa memangnya?
“Oke, stop! Aku ambil oleh-oleh dulu buat anaknya Mulan!”
Senang, satu kata itu mungkin bisa menggambarkan perasaan Dean yang melepaskan tangan Zahra. Melihat punggung wanita yang berlari kecil naik ke lantai atas.
Tak beberapa lama, dia turun dengan menenteng paper bag super besar. Melihat itu, Dean buru-buru membantunya.
“Kamu bawa apa aja?” tanyanya penasaran dengan isi paper bag.
“Mainan, baju, boneka, banyak lah.”
Jarak dari kos Dania menuju rumah Mulan, ternyata cukup jauh. Terutama, saat mereka menghunakan mobil, yang notaben nya tidak bisa masuk ke jalan tikus dan harus berputar. Perjalanan mereka pun makin membosankan, kala Zahra terus fokus menatap ponselnya.
Keadaan yang sejak tadi hening, tiba-tiba, di pecah oleh permintaan maaf Zahra.
__ADS_1
“Maaf untuk apa?” Dean menoleh sesaat, memperhatikan wajah Zahra yang terlihat tak bersahabat.
“Jangan pernah berharap ... sama aku.”
Sepenggal kata-kata Zahra, mampu membuat jantung Dean berdetak lambat, tapi dengan degupan yang keras. Dia sangat ingin bertanya pada saat itu. Menanyakan banyak hal yang membuat Zahra memutuskan harapannya. Namun, pada akhirnya mulutnya terlalu kelu untuk terbuka.
“Aku gak tau gimana mau bilang sama kamu. Kamu udah terlalu baik, bahkan baiknya kamu udah kelewatan batas. Sampai-sampai aku sendiri bingung.”
Mendengar ucapan Zahra, Dean mencoba mengulur waktu dengan memperlambat laju mobil.
“Perasaan ini, jujur masih ada. Tapi aku gak tau gimana mau mengekspresikannya. Aku masih terlalu takut untuk memulai. Meski aku tahu, kamu bukan tipe orang yang bisa nyakitin aku.”
Perasaan Dean makin rancau. Ia sendiri tak tahu dengan maksud perkataan Zahra. Namun, dia berhasil menangkat inti dari masalah di hati Zahra.
“Aku tau. Aku paham perasaanmu. Semua hal yang aku lakukan, memang bermaksud untuk mengejarmu. Memberikan semua yang terbaik yang aku bisa lakukan. Tapi aku juga gak memaksamu untuk segera datang dan menyambutku.”
Dean menepikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu, menatap Zahra yang matanya sudah basah. Ia mengambil selembar tisu, dan memberikan pada Zahra.
“Aku sanggup menunggumu, entah itu setengah tahun, satu tahun, atau dua tahun. Aku hanya ingin, kamu membiarkan aku menjagamu.”
Senyum Dean bagai perangkap sihir. Perlahan menghipnotis mata, lalu menghipnotis hati. Zahra pun di buat melayang dengan perkataan Dean. Ia bahkan tersenyum tipis.
“Terima kasih, makasih udah baik banget sama aku. Makasih udah mau kasih aku waktu.”
“Always, for you.”
Mereka kembali melanjutkan perjalanan yang hanya tersisa beberapa meter dari rumah Mulan. Zahra sendiri sudah sering datang berkunjung dulunya, namun setelah masalah yang datang beberapa bulan ini, waktu seakan menyita segalanya.
Anak anak Mulan rupanya terlihat senang. Saat lelaki yang mereka panggil Om, datang dengan membawa beberapa cemilan. Tak kalah dari itu, kebahagiaan mereka bertambah saat tahu, Zahra datang dengan banyak hadiah.
“Mau main ke rumah tante Zahra ngak? Setelah itu kita pergi ke Mall.” Ajak Zahra kepada Zea dan Zizan. Adik kakak yang hanya terpaut satu tahun.
Mereka tak langsung mengangguk dan setuju begitu saja. Dan justru menatap Mulan untuk mendapatkan izin.
__ADS_1
“Kamu balik ke rumah, Ra?” Tanya Mulan.
“Iya, nanti ada orang yang mau lihat-lihat kondisi. Gak enak kalau cuma Mbokijum yang di sana.”
“Yakin mau ajak anak-anak? Nanti mereka bikin gaduh lagi.”
“Ada emaknya, mereka mana berani.” Zahra tertawa kecil sembari memandang Mulan.
Setelah merayu sang ibu cukup lama. Akhirnya, Zea dan Zizan pun ikut berkunjung ke rumah Zahra. Rumah besar namun terlihat sederhana, juga menyimpan banyak kenangan.
“Bu Zahra, Ya Allah. Mbokijum kangen loh, tiga minggu ngak pulang-pulang. Kata si Bapak, Mbak Zahra lagi ada bisnis di luar kota ya?” Sapa Mbokujum yang langsung membukakan pintu.
“Bapak, dia pulang? Kapan?”
“Dua hari yang lalu, Bu. Loh, Bapak ngak bilang?”
“Sekarang kemana Bapak? Ada dia bawa apa gitu?”
Mbokijum membutuhkan waktu yang lama untuk mengingat. Zahra yang tak sabar lagi menunggu, langsung pergi ke kamar dan memeriksa. Dean yang khawatir pun, langsung menyusul.
“Stop! Jangan masuk!” Teriak Zahra saat melihat langkah kaki Dean mendekati kamar.
“Kenapa? Kenapa ngak boleh?” Dean berteriak dari luar. Melihat Zahra yang mengacak acak lemari, juga nakas.
Hayoo, kenapa Dean gak boleh masuk ke kamar Zahra?
kalau othor ada di posis Zahra, juga gak mau Dean masuk ke sana, secara kan yaaa ....
Heemmmm..
Dah jangan lupa Vote!
__ADS_1