Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 56


__ADS_3

...***Lampu kuning dari Ibu Zahra***...


Dalam rumah tangganya yang kacau, dia tak sepenuhnya salah. Dia menjadi istri ke dua tanpa diketahui. Di pandang sebagai perusak kebahagian Abram dan Nindira. Namun, jatuh cinta pada seorang lelaki sebelum resmi bercerai, itu salah. Begitu pikir Pak Ahmed.


“Nak, Ayah gak larang kamu berhubungan dengan siapa pun. Dengan kondisi pernikahanmu yang sekarang, gak ada alasan bagimu buat suka pria lain. Setidaknya, akhiri dulu yang lama.”


Zahra masih tertunduk. Dia jelas mengerti arah pembicaraan yang sedang di tuju sang ayah. Bagaimana pun dia tak bisa menyangkal tentang perasaan suka yang ternyata masih tertinggal.


“Kalau dia menodai pernikahanmu, kamu juga jangan menodainya. Ya, Nak?”


Yang di katakan Ayah jelas benar. Setidaknya untuk saat ini, aku harus mengontrol perasaanku dengan baik.


“Zahra ngerti, Yah. Dean nganter kita sebagai pengacara, kok. Hanya untuk jaga-jaga saja.”


“Ayah cuma kasih tau kamu.”


Baru sebentar pembicaraan serius mereka. Daru luar terdengar pintu di ketuk. Zahra bisa menebak, yang datang saat itu adalah Dean.


“Assalammualaikum, Om, Tante.” Sapanya dengan ramah. Dean baru masuk beberapa langkah, tapi suasana sudah terasa tak ramah.


“Mau berangkat sekarang?” Tanyanya mencoba keluar dari situasi yang nampak rumit.


Pak Ahmed terlihat berdiri dari kursi, lalu bergu dengan alasan berganti baju. Sedangkan Bu Ahmed, ia beralasan ingin ke kamar mandi lebih dulu.

__ADS_1


“Ada apa? Apa ada masalah?” tanya Dean seakan mengerti suasana.


“Maaf, aku sudah cerita soal Mas Abram. Sepertinya ....” Zahra terlihat sulit menjelaskan suasana yang terjadi.


“Emm ... mereka agak sulit menerima orang baru. I’m sory, i’m so sory, Dean. Barang kali sikap ayah sama ibu agak kasar.”


Dean tersenyum melihat sikap Zahra. Setelah bertahun-tahun lamanya, dia akhirnya bisa melihat sikap polos Zahra.


“It’s oke. Aku paham kok, kalau aku jadi seorang orang tua, mungkin sikapku akan gitu juga.”


Belum lama mereka berbicara. Pah Ahmed dan istrinya keluar dari kamar. Suasana yang sempat sedikit mencair, kini kembali padat. Dean seperti tak punya celah untuk masuk ke dalam hati orang tua Zahra.


“Ayo, berangkat!” Ajak Pak Ahmed yang keluar lebih dulu, di susul istrinya dan kemudian mereka bertiga.


Zahra dan Dania, mencoba mencairkan suasana dengan bercengkrama. Pembahasan tentang masa sekolah, rupanya bisa menjadi pencair suasana. Dean pun sesekali menyahut kala Dania bercerita tentang guru-guru kesayangan mereka.


Sampai titik dimana Pak Ahmed bertanya.


“Kamu udah bilang suamimu kalau mau ke Bandung, Ra?”


Suasana berubah beku kembali dalam sekejap. Dean tau dengan betul, penekanan kata ‘suami’ seolah menjadi pembatas hubungan diantara dia dan Zahra. Namun, hal yang tak di duga-duga datang dari istri Pak Ahmed.


“Pak Ahmed ... WA dari Mbak Sri, udah di balas? Uang kopi di tagih terus loh.”

__ADS_1


Pak Ahmed pun menelan salivanya kasar. “Ya sudah toh, Buk. Itu kopi jaman kapan?”


Dania yang duduk di sebelah Zahra, rupanya cukup penasaran. Ia pun mencolek paha Zahra sembari berkedip. Mengisyaratkan mode gibah yang tiba-tiba menyala.


“Mantan Ayah zaman sekolah dulu. Pas banget, kapan hari Ayah gak sengaja singah ke warungnya, pesen kopi.” Bisik Zahra di telinga Dania dengan lirih.


Dania pun tak bisa menahan tawanya, kala mendengar gosip yang bisa membuat ayah sahabatnya itu tak berkutik. Pak Ahmed, adalah sosok yang dia kenal sebagai ayah yang tegas dan garang. Namun, siapa yang menyangka kalau Pak Ahmed rupanya tipe yang takut istri.


“Khemm ... kamu nyetirnya liat ke depan!” Pak Ahmed menepuk pundak Dean beberapa kali.


“Pak Ahmed!” Panggil sang istri dari bangku belakang.


“Iya, iya, ini diam!” Seru Pak Ahmed sembari membetulkan posisi duduknya yang di rasa kurang pas.



Banyak yang jadi tim emaknya Zahra pasti nih 🤭🤭


Hari ini sampai sini dulu lah.


Besok kita lanjut lagi.


Vote jangan sampe lupa.

__ADS_1


Apalagi Like sama sajen.


__ADS_2