Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 101


__ADS_3

...***Tes DNA***...


Dean berusaha sekeras mungkin untuk bernegosiasi dengan beberapa petugas. Jordhan pun tak mau kalah, dia terluhat mondar mandir, menemui pimpinannya, untuk menyerahkan beberapa bukti yang menguatkan ketidak bersalahan Zahra.


"Pak, kita juga perlu memastikan hal ini. Perlu juga menyelidiki korban. Jangan sampai, kita kecolongan!" Urat-urat leher Jordhan terlihat jelas, kala berbicara dengan atasannya.


"Memang, apa yang kamu curigai?"


"Sesuai hasil kertas itu. Aku gak yakin kalau itu anak suami sirihnya. Selain itu, terdakwa dulu pernag menyumbangkan darahnya. Banyak hal janggal kalau dia mencoba melukai janin dengan motif cemburu atau balas dendam."


Pak Gun, yang tak lain adalah atasan Jordhan, serta orang yang memberi perintah penangkapan, mengangguk-angguk kala mendengar penjelasan Jordhan. Hal yang di katakan anak buahnya, ternyata cukup masuk akal saat dirincikan per-adegan.


"Perlu tes DNA buat buktiin dia gak bersalah, Jo."


"Iya, aku tahu, Pak. Hanya saja, pengadilan ngak mungkin menyetujui itu."


"Jalan satu-satunya hanya bisa meminta suaminya. Kakau dia mau, bakalan mudah untuk kita."


Penjelasan Pak Gun berhasil membuat otak Jordhan bekerja lagi untuk mencari cara. Hingga, sebuah ide muncul dalam pikirannya.

__ADS_1


"Aku punya cara. Kita cuma perlu bukti tes DNA itu saja kan, Pak?"


Pak Gun menatap mata anak buahnya yang bersinar, seolah baru saja mendapatkan sebuah ide brilian yang entah apa itu. Alih-alih bertanya, dia justru menyinggung tentang perasaan Jordhan.


"Kamu bantu dia bisa dapat apa sih, Jo?" Pak Gun meraih cangkir kopi, menyeruputnya sedikit dan meletakkannya kembali.


"Denger masalah begini, langsung minta ayahmu buat mindahin kamu ke sini. Gak taunya di tolak kan?" lanjutnya.


Mendengar Pak Gun membahas pengorbanannya, Jordhan hanya menaikkan satu sudut bibirnya sambil mendengus. "Gak masalah sih, Pak. Toh, cinta gak harus memiliki kan. Hahaha." Tawanya terdengar lepas, seakan menggambarkan keikhlasan hatinya.


Pak Gun tak tak lagi berbicara, dia hanya diam melihat Jordhan tertawa dengan lepas. Anak dari sahabat baiknya itu, tak terlihat raut wajah yang kesal atau kecewa, meski cintanya tak terbalas. Mungkin, itu adalah salah satu sifat dari sahabatnya. Terus menolong orang, meski tak berbalas.


Cakrawala masih terang, meski matahari sudah masuk ke peradapan, dan hanya meninggalkan secercah sinar yang bernama senja. Jordhan keluar dari ruangan Pak Gun dengan senyum yang lebar, memperlihatkan dua lesung pipi yang membuat banyak gadis jatuh hati.


"Iya, rumah sakit itu, tolong ya." ucap Jordhan berbicara dengan temannya melalui sambungan telefon.


Tepat saat dia mengakhiri panggilan, mobil yang dia kendarai, telah sampai di tempat parkir rumah sakit. Dia buru-buru turun, dengan seorang lelaki yang menyusulnya turun, dan berjalan di sampingnya.


"Baru aku tau, ada penyidik yang begitu gigih membela terdakwa," cetus lelaki yang berjalan di samping Jordhan.

__ADS_1


"Kenapa, kamu gak terima? Wanita yang udah disia-siain, malah dapet bantuan dari penyidik sepertiku?" Sindir Jordhan.


Abram mendecis, tapi wajahnya tak terlihat seperti orang yang kesal atau jengkel. Lelaki itu seolah tenang, bahkan ada raut wajah lega yang tergambar samar-samar. Jordhan mengajaknya masuk ke sebuah ruangan, dengan dua orang berpakaian biru yang memegang jarum suntik.


"Nindira bukan orang yang polos, dia selicik ular. Kamu harus perhatikan timing pas ambil sampel janinnya," ucap Abram santai saat petugas mengambil darah untuk di tes DNA.


Jordhan terkejut sesaat. Pikirannya berjalan cepat, mencoba menerka dan menebak banyak hal. Memang, ada perasaan janggal yang dia rasakan saat mengajak Abram pergi ke rumah sakit. Dia sendiri tak bisa menebak, kenapa lelaki yang dulu tempramental, bisa gampang di ajak tanpa ancaman?


"Sudah tau gitu, kenapa malah buang berlian demi kerikil?" Jordhan melipat kedua tangannya, bersandar ke tembok sembari menunggu pembelaan Abram. Namun, dia justru melihat Abram tertawa.


"Aku tebak, kamu pasti udah di tolak dia, kan?"



Nah loh, kenapa si Abram gampang banget di ajak Bang Jo tes DNA?


Jangan-jangan, dia juga tempe kalau yang di perut Nindira bukan anaknya??


Hemmmm .....

__ADS_1


Vote jangan sampe lupa. Sajennya apa lagi. Othor mau nyari wangsit dulu.


Kalau cukup, langsung UP lagi 🤣🤣


__ADS_2