
...*****Istri Pertama Mas Abram******...
Dari luar, rumah Tante Ve terlihat cukup besar dan luas. Banyak pohon kecil dan bunga-bunga koleksinya di taman depan. Dia memang sangat menyukai tanaman. Hampir semua sudut rumah, selalu ada pot atau vas bungga.
Baru saja masuk ke ruang tamu. Zahra sudah di buat terkejut oleh banyak hal. Parfum ruangan sangat mirip dengan parfum yang di sukai Abram. Bahkan, tatak letak hiasan dinding, sofa, bahkan nakas di sudut ruang, terlihat sama seperti rumahnya. Mengingat, saat Zahra dulu menikahi Abram, semua perabotan sudah tertata rapi.
Dari banyak hal aneh yang ada di rumah Tante Ve. Pandangan Zahra justru langsung tertuju ke arah pigora, yang di gantung dengan rapih di tembok.
Zahra mengepal kedua tangannya kuat-kuat. Hingga kuku-kukunya menancap kuat di telapak tangan. Raut wajahnya pun, seketika berubah drastis. Beberapa kali terlihat mengambil napas cepat. Berusaha menahan perasaan kesal, jengkel, dan marah.
“Duduk dulu, Kak.”
Dania buru-buru menenangkan Zahra. Takut jika emosinya langsung meluap dan membuat rumah itu bak kapal pecah.
“Duduk dulu, Ra. Ayo!” Bisik Dania.
Zahra menyeka mata yang sedikit basah. Lalu duduk di atas sofa empuk yang cukup nyaman. Melihat dua tamu itu duduk, wanita berambut panjang segera memanggil pembantu, dan menyuruhnya membuat teh.
“Mbak ini, apanya Tante Ve ya? Kok aku gak pernah tau.” Tanya Zahra mulai megorek informasi.
“Tante Ve itu bibiku, Kak.”
“Bibi? Masih saudara begitu?”
“Emm ... suami Tante Ve, itu pamanku, Mbak.” Dia mengambil teh dari nampan yang baru di bawa seorang ibu-ibu. Lalu, menarunya di atas meja.
“Dan kebetulan juga, dia tante suamiku.”
Degh!
__ADS_1
Jadi dia istri pertama suamiku?
Tinggi, putih, dan cantik. Lalu, kenapa dia menikah lagi denganku?
Wanita secantik ini, kenapa di duakan?
Zahra menelan salivanya kuat-kuat. Sesekali mengigit bibir bawahnya, meluapkan emosi yang tidak tahu harus di salurkan kemana lagi.
“Oh ... Mbak ini nikah sama saudara jauh toh ceritanya?” Seru Dania yang langsung menangkap hubungan di antara mereka.
Perasaan Zahra semakin acak-acakan kala mendengar itu. Dia merasa telah di tipu mentah-mentah oleh suaminya sendiri. Bahkan, tante yang di anggapnya baik dan ramah itu, justru diam-diam menabur bubuk mesiu.
Dia sudah tidak tahan. Amarah dan kecewanya sudah membumbung menjadi satu. Cepat-cepat dia berdiri, lalu mengajak Dania untuk pulang.
Dania tak bisa menolak permintaan Zahra dan langsunh mencari alasan.
Dua orang itu cukup terkejut saat melihat Zahra berdiri tegap.
“Za ....”
Perkataan Abram tercekat oleh kedatangan istri pertamanya. Wanita itu langsung menyambut tangan sang suami dengan mesra.
“Sayang ....”
Zahra menelan salivanya kuat-kuat. Mendengar panggilan mesra itu, keluar dari mulut istri lain sang suami. Napasnya makin memburu saat Abram hanya diam mematung tak bersuara. Bahkan, Tante Ve pun juga hanya diam.
“Za ... Zahra, kapan kamu datang?” Tante Ve terdengar gugup.
__ADS_1
“Bukannya aku tadi telfon Tante ya? Mau minta bungga.” Zahra mencoba tegar. Meski sesekali menyeka air matanya.
“Bu-bunga? Tapi tadi ....” ucapan tante Ve tercekat, tak mampu untuk mencari alasan yang bisa membuat Zahra yakin.
“Te, aku buru-buru, suamiku bilang mau pulang. Aku pilih bunganya besok aja ya?”
Zahra tersenyum licik memandang Abram. Lalu memakai kaca mata hitam dan pergi. Meninggalkan dua orang yang takut setengah mati, dan seorang wanita yang tidak tahu apa-apa.
“Ra, kamu mau kemana?”
Teriakan Dania tak di gubris. Zahra terus berjalan menuju mobil, lalu membuka pintu belakang dan mengambil sebilah pisau. Pisau tajam dengan ujung yang runcing, yang di ambil dari apartemen. Dia menyembunyikannya di antara tubuh dan tas kecil.
Pada awalnya, dia ingin pergi secepat mungkin dari sana. Meninggalkan segala rasa sakit yang membuat dadanya semakin sesak. Namun saat dia melangkah keluar rumah, pikirannya berubah.
Dania tak mampu mencegah. Beberapa kali menyeret Zahra, tangannya di tepis begitu saja. Melihat Zahra tak jadi naik mobil, Dean mencoba berteriak dan meningatkannya. Namun, Zahra menulikan telinganya.
“Kamu mau ngapain, Mee?”
“Mee ... jangan konyol, Mee!”
Zahra kembali masuk ke pekarangan rumah Tante Ve. Melihat pintu yang masih terbuka sedikit, Zahra nekat masuk begitu saja. Melihat dua orang itu justru sedang duduk dan mengobrol, amarah Zahra meledak.
Ia mengangkat pisaunya tinggi-tinggi, lalu melemparkannya ke arah mereka. Abram yang terkejut, langsung memeluk istri pertamanya dan melindunginya dengan baik. Memastikan agar pisau yang di lempar Zahra tidak membuat istrinya terluka.
Lanjut gak??
Vote dulu yaaaa
__ADS_1
Biar othor seneng, trus semangat berangkat ngepet
😁😁