
...***Bendera Perang Pihak Lawan***...
“Belum ada seminggu, barangmu kenapa tambah banyak?” Tanya Dean saat membantu Zahra mengangkat koper juga barang-barangnya ke mobil.
“Tambah tua tambah cerewet!” Zahra berkacak pinggang, menatap Dean yang sibuk dengan barang bawaanya.
Sesuai dengan keputusan yang di buat Zahra sendiri. Hari itu mereka pindah ke apartemen Dean. Zahra bahkan membayar tunai, uang sewa selama satu minggu. Dean tak bisa menolak, mungkin dengan begitu, dia tetap bisa berada di dekat Zahra.
“Aku masih ada urusan. Kalau butuh apa-apa pesan online aja. Oke!”
“Iya iya, aku tau!”
Zahra langsung merebahkan tubuhnya di sofa, begitu Dean keluar dari pintu. Menarik napas panjang beberapa kali, kemudian menutup mata. Menikmati suasana tenang dan damai, yang hampir sebulan ini tak dia rasakan.
Dia hidup selama 23 tahun. Namun, hanya dalam waktu satu bulan saja, dia banyak mengambil pelajaran hidup. Tentang banyak hal. Patah hati, ikhlas, mengendalikan ego, emosi, menyusun siasat. Dia mempelajari semuanya.
Hidup memang harus banyak di tempa. Untuk melatih seberapa tajam diri ini menghadapi halangan di depan.
Baru sebentar merebahkan diri, tiba-tiba dia teringat sesuatu yang penting. Sirine balas dendamnya sudah menyala. Kini saatnya dia menghubungi orang tuanya dan membawa mereka datang menemui besan.
Namun ...
“Ah ... kok mati sih!?”
Zahra lupa men-carge ponselnya. Hingga ponsel itu kehabisan daya dan mati. Ia buru-buru mencari cas, di tas kecil, di dalam koper, tapi nihil. Di tengah pergulatannya, tiba-tiba saja ia mendengar pintunya di ketuk dengan ritme cepat.
Siapa?
“Mee ... buka pintunya!”
__ADS_1
Suara Dean terdengar jelas. Semakin lama, ketukannya semakin keras, bahkan panggilannya semakin kencang. Zahra buru-buru membuka pintu. Melihat Dean berdiri dengan dada yang kembang kempis seperti baru selesai lari maraton.
“Pon-ponselmu kenapa?”
Satu pertanyaan Dean membuat Zahra melonggo. Baru satu jam yang lalu, dia pergi untuk menyelesaikan urusan. Sekarang, justru kembali dengan pertanyaan konyol?
“Ada apa? Kenapa?” tanya Zahra balik.
Dean masih mengatur napas, lalu berjalan masuk sambil merogoh sakunya. Setelah berhasil menemukan ponsel, ia menghubungi seseorang. Begitu panggilan itu di jawab, Dean langsung menyodorkannya pada Zahra.
Siapa yang dia hubungi?
Zahra sempat melihat nama yang tertera di sana. Rupanya, Dean sedang menghubungi Mulan.
“Ha-halo Assalammualaikum.”
“Waalaikum’mussalam, Ra. Ya Allah, nomer kamu kenapa gak bisa di hubungin sih!?”
“Oke oke, lupain sekarang. Aku perlu ngomong hal penting.” Nada bicara Mulan terdengar serius. Membuat jantung Zahra memacu sedikit lebih cepat.
“Aku ada di rumahmu, sekarang!”
Perkataan Mulan membuat Zahra tersentak kaget, juga heran. Banyak pertanyaan tiba-tiba mampir di kepalanya.
“Nga-ngapain? Wait, wait, rumah mana maksud kamu?” Zahra berpikir sedikit keras, tidak mungkin Mulan datang ke rumahnya. Mulan jelas tahu kalau dia ada di Jakarta, jadi hanya tinggal satu kemungkinan.
“Kerumah orang tua kamu!”
Kenapa?
__ADS_1
Buat apa Mulan pergi ke sana?
“Ra, berita itu viral di sini. Banyak orang salah paham, termasuk orang-orang di kampungmu. Mereka menghardik ayah dan ibu. Selain itu juga ....” perkataan Mulan terpotong sesaat.
“Kenapa? Kenapa sama mereka?”
“Tenang, clam down, oke! Aku sama Intan udah urus masalah di sini. Beberapa teror itu juga sudah di atasai.”
“Te-teror? Sampai segitunya? Kenapa mereka pikir aku perusak? Bukti pernikahan sudah di sebar Dania, kan?” Zahra terlihat panik. Ia berjalan mondar-mandir sembari mengigit kuku jarinya.
“Kamu cek IG aja deh!”
Zahra di buat penasaran dengan apa yang terjadi selama beberapa jam terakhir. Keadaan yang kemarin sempat di balik Dania, bagaimana bisa berbalik arah lagi?
Sebelum mengakhiri panggilan, Dania berpesan pada Intan dan Mulan untuk menjaga orang tuanya. Sembari menunggu dia membelikan mereka tiket untuk ke Jakarta.
Zahra langsung berselancar masuk menjelajah dunia per-Instagram-an untuk memeriksa berita. Lama dia menjelajah, akhirnya ia menemukan beberapa video Nindira.
Rupanya, pihak istri tua sang suami sudah mulai mengangkat bendera perang. Mereka mulai buka suara, memberitahu seluruh netizen tentang pernikahan mereka. Juga, memberitahu bahwa Zahra memang istri ke dua. Namun satu hal yang buat Zahra tak mengerti. Kenapa Nindira tak berkata kalau dirinya juga tahu pernikahan lain suaminya?
Nindira, kamu yang mengangkat bendera lebih dulu. Kamu yang buat orang tuaku terlibat. Kalau begitu, duduklah dengan baik-baik sekarang.
Sesuai dengan tag ya gaes.
Memang ada unsur balas dendan, tapi bukan perang.
Jadi jangan lupa nantikan balas dendam Zahra.
__ADS_1
Dah ah, vote dan hadiah jan sampe lupa.
Pantengin terus, ntar malam othor balik lagi.