Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 95


__ADS_3

Zahra Pov


Masalah itu sudah bertahun-tahun aku sembunyikan sebaik mungkin. Bahkan dia sendiri tidak tahu tentang ketidak suburannya. Semua itu demi apa? Demi menutup rapat masalah yang mungkin menjadi aib keluarga. Baik itu untuk dia, atau aku sendiri, juga keluarga pastinya.


Tentu saja, aku ragu saat dia mengatakan Nindira hamil. Namun, masih saja mencoba berpikir realistis. Terutama saat wanita itu bersujud dan mengatakan rasa cintanya yang besar pada Abram. Mungkin, itu sebuah keajaiban, atau hasil dari 10 persen kemungkinan yang di bicarakan dokter.


“Ka-kamu serius, Ra?” Dania berjalan mendekat, seolah tak percaya dengan ucapanku barusan.


Aku sendiri lupa, kapan tepatnya datang ke poli kandungan untuk periksa. Mungkin sekitar tahun lalu.


“Saat itu aku iseng aja, cek ke dokter. Dokter saran untuk cek HSG, tiga hari setelah haidku clear. Dia kasih aku surat rujukan untuk cek spperma juga.” Jelasku mencoba mengingat.


Aku terlalu takut, takut di talak, takut di bilang gak subur. Jadi, aku cek semuanya diam-diam tanpa dia tahu. Mengajaknya bermain di siang hari, dan mengambil beberapa tetes. Lalu membawanya ke lab.


Mengingat hal-hal itu, bulu kuduku sedikit merinding. Terutama saat dokter menjelaskan masalah ketidak suburannya. Namun dia masih punya peluang 10 persen untuk mempunyai anak.


“Aku gak mau ini jadi tuduhan tak berdasar. Tapi kalau bisa di cek lagi ....”

__ADS_1


“Bisa. Kita bisa cek untuk memastikan. Selain itu, aku juga perlu rekam medis dari rumah sakit tempat dia sering cek kehamilan.”


Jordhan berjalan mendekat beberapa langkah ke arahku. Tatapannya penuh percaya diri, seakan memberi tahu, kalau aku tidak bersalah. Dia begitu percaya padaku.


“Tenang saja, aku akan membalik keadaan. Istirahatlah yang baik,” ucapnya di akhiri senyum manis yang memperlihatkan dua cekungan di pipi. Lalu, setelah itu dia pergi.


Dania dan Intan langsung mendekat, duduk di samping dengan tatapan penuh selidik. Satu-persatu pertanyaan keluar dari mulut wanita berhijab bernama Intan, Dania tentunya tak kalah heboh dari Intan.


“Kenapa kamu nutupin masalah kek gini sih?” Dania memandangku sinis.


“Jangan paksa aku cerita lagi, please.” Pintaku memohon penuh harap.


Dua orang itu saling memandang sebelum akhirnya mengangguk dan meminta maaf. Bukan aku tak mau cerita, aku hanya tak sanggup. Menceritakan hal yang sudah aku putuskan untuk di lupakan dan di kubur dalam-dalam. Banyak hal yang harus aku pertimbangkan saat itu. Bahkan keluargaku sendiri saja tidak tahu.


“Oke oke, sekarang makan dulu. Biar cepet pulih.” Intan mengambil kantong putih di atas meja, mengambil box makanan, lalu membukanya.


Harum semerbak tercium cukup jelas. Meski asap tak mengebul saat Intan membuka tutup, tapi makanannya masih sedikit hangat saat tempatnya ku pegang.

__ADS_1


“Siapa yang beli?” Tanyaku.


“Akulah! Memang kamu berharap siapa sih, Ra?”


Kenapa, saat Dania berkata seperti itu, aku tidak begitu percaya?


Meski kami sudah dekat cukup lama, tapi Dania tak pernah tahu makanan yang aku suka dan yang tidak aku suka. Entah kenapa, aku merasa Dean yang memberinya perintah untuk memesan semua ini.


Benar, hanya lelaki itu yang paling paham. Bawang goreng yang paling aku tidak suka.


“Gak ada.”



Up lanjut agak malam.


Vote jangan lupa ♡♡♡♡♡

__ADS_1


__ADS_2