Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 94


__ADS_3

...***Masalah Abram***...


Dean mencoba untuk relax, memasang wajah bodoh, seakan tidak mengetahui kode yang di berikan Zahra. Ia bersandar di kursi, dengan santai melipat kedua tangannya, sambil menahan senyum malu.


“Hemm. Jadi gimana?” Cletuknya kala Zahra mengakhiri panggilan dari Zia.


“Apa?”


“Aku mau tagih hutang! Udah 7 hari nih!” Dia masih berbicara dengan santai.


Melihat wajah Dean yang pura-pura bodo, Zahra pun meniup kening dengan bibir yang tetap manyun. Dua mata itu fokus memandang Dean yang dirasanya memang menjengkelkan.


“Mau gimana? Bukannya tadi udah jelas?”


“A-aku gak denger apa-apa? Emang, kamu ngomong apa tadi?” Dean masih bersikap pura-pura bodo.


Zahra seakan kehilangan tenaga untuk berdebat dengan Dean. Ia lebih memilih membetulkan posisinya, menarik selimut, dan berusaha untuk tidur. Meski terdengar beberapa kali Dean memanggil nama Zahra, tapi wanita justru menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


“Kamu menghindar lagi, Mee?” Dean mengerutu, berkacak pingang sembari menatap tubuh Zahra yang tertutup selimut.


Matahari perlahan condong ke barat. Menyisakan cahaya yang indah temaram bernama senja. Cakrawala seakan tak risau, meski gelap, perlahan mulai menyelimuti.


Zahra masih di posisi yang sama. Entah, tubuhnya selelah apa. Dia yang tadi berpura-pura menutup mata, sekarang justru benar-benar tertidur. Hingga tak menyadari, Dean sudah pergi keluar, digantikan dengan Intan dan Dania.

__ADS_1


Baru satu jam mereka duduk, dua tangan indah dengan jemari lentik, keluar dari dalam selimut. Zahra menyingkap selimut yang menutupi kepalanya, mata indah dengan bulu lentik, perlahan mengerjap. Melihat dua orang yang duduk di sofa sembari bercengkrama.


“Cari apa? Dia lagi keluar!” Goda Dania melihat mata itu menelisik ke segala sudut.


Bibir tipis itu manyun sembari mendengus jengkel. Dia mengelak dengan cepat, seolah perkataan sahabatnya itu salah. Dania dan Intan justru di buat tertawa sembari tertawa renyah. Melihat sikap Zahra yang menurut mereka lucu.


Tepat pada saat mereka tertawa. Samar-samar suara pintu mereka di ketuk. Intonasi ketukannya tergolong cepat, tetapi pelan. Membuat ketiga orang yang di dalam menoleh ke arah pintu.


“Ya, masuk.” Teriak Dania.


Seoang lelaki berperawakan tinggi, dengan kaos dan celana jeans, tak ketinggalan sepatunya yang terlihat tebal. Dua lesung pipi di wajahnya hadir menyapa mereka dengan ramah.


“Jo? Kamu di Malang?” tanya Zahra penasaran dan kaget akan keberadaan lelaki itu.


“Penyidik?”


“Kasusmu, aku yang menangani.”


Napas Zahra sedikit memanjang, terlihat gugup, juga terkejut. Dia sama sekali tak menyangka, jika Jordhan akan mengambil kasusnya. Kemungkinan untuk saling bertemu, jelas lebih sering.


“Rekaman panggilan, aku sudah menyelidikinya. Gak ada yang aneh, tapi herannya, kadar kalium dalam darahnya cukup tinggi, itu juga terdapat di air mineral yang kamu sodorkan. Sehingga memacu hiperkalemia."


Degh!

__ADS_1


Zahra menelan salivanya. Kaget, juga tak percaya dengan pernyataan yang di ucapkan Jordhan. Dia sendiri cukup yakin, botol air mineral yang dia berikan pada Nindira, jelas masih bersegel.


“Gak mungkin!” Dania bangkit dari kursinya saat mendengar itu. “Aku paham tempramen Zahra memang gak baik, tapi buat nyakitin ibu hamil dan janin, itu gak mungkin!” Ucap Dania yang cukup mengenal sifat Zahra.


“Di rumah sakit mana dia? Dasar uler, belatung!” Dania hendak melangkah keluar. Namun, sebelum kaki kecilnya melangkah lebih jauh, Intan segera memegang tangan wanita itu.


"Sabar dulu, Dan. Kita jangan buat masalah makin panas." Intan mencoba menenangkannya.


“Dia bilang, Abram sudah menalaknya.” Zahra tertunduk sesaat, memandangi kuku ibu jarinya yang saling berpaut. Intan dan Dania saling memandang, sebelum akhirnya menatap Zahra.


“Aku gak memasukkan apa pun ke dalam minumannya. Aku juga kurang paham motif dia apa, dengan melaporkanku. Tapi satu hal yang aku tahu, Abram punya sedikit masalah dengan ketidak suburan. Entah, dari awal, aku sedikit ragu, anak itu milik Abram atau bukan.”


Perkataan Zahra membuat semua orang tercengang. Intan dan Dania pun langsung melonggo. Sudah lama mereka berteman, tapi Zahra mampu menyembunyikan masalah besar ini kepada mereka. Antara kaget, marah, mungkin juga kecewa.


...🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼...


Mohon maaf, belum maksimal untuk Up'nya.


Liat layar lama masih kliyengan 😢😢


Vote, sama sajen jangan lupa.


Siapa tau bisa jadi obat biar othor semangat lagi 🤭🤣

__ADS_1


__ADS_2