
...****Semua masih demi dia****...
Abram melangkah masuk, tangannya mendorong daun pintu yang di buka sedikit oleh Zahra. Matanya mulai menelisik, mengamati setiap sudut yang ada di sana. Zahra tak bisa menggelak atau mengusir Abram, sehingga memilih untuk membiarkannya masuk.
“A-ada apa?” tanya Zahra mencengram kuat daun pintu.
“Kita perlu bicara!”
Abram berjalan masuk, lalu duduk di sofa. Matanya fokus sesaat, melihat bekas bungkus makanan cepat saji di atas meja. Lalu berpindah melihat koper yang berserakan di lantai.
“Kamu pulang hari ini?”
“Iya, sebentar lagi berangkat.”
Zahra masih berdiri di dekat pintu. Berbicara dengan jarak sedikit jauh dari suaminya.
“Duduk sebentar bisa? Aku mau ngomong.”
Zahra merambat pelan di dinding, berjalan perlahan, mencoba lebih dekat, tapi masih dengan jarak aman. Sepertinya, trauma kejadian malam itu masih menghantuinya. Melihat Zahra gemetar takut, Abram mencoba meminta maaf lebih dulu.
“Maaf, Bee. Aku memang bodoh, aku gak bisa kontrol emosiku dengan baik. Aku minta maaf.”
Zahra tersentak kaget mendengarnya. Melihat Abram meminta maaf dengan begitu tulus, mengingatkan dia akan tahun-tahun indah yang mereka jalani. Abram tampak kembali ke sifatnya dulu, menurut Zahra.
“Mas gak hanya mau ngomong soal ini kan?” Zahra menebak-nebak.
“Mas memang mau minta maaf sama kamu, Bee. Ngak tau harus kasih kamu penjelasan apa lagi. Tapi posisi mas serba salah. Kamu tau kan, Bee. Mas dituntut untuk bertindak adil. Selama ini, mas juga penuhi semua kebutuhan kamu.”
__ADS_1
Mata yang sempat sayu, mendengar permintaan maaf Abram. Kini berubah dengan cepat. Manik mata itu menatap tajam ke arah Abram.
“Yang nuntut Mas buat adil siapa? Bukan aku kan, Mas? Aku gak maksa buat begitu. Aku juga cari jalan tercepat buat bantu Mas, supanya ngak kebeban tanggung jawab. Juga gak merasa terus di tuntut.”
Abram menelan salivanya kasar. Penjelasan istri mudanya memang benar. Semenjak Zahra tahu tentang istri tua, Abram selalu merasa di tuntut untuk adil. Merasa tanggung jawabnya berlipat tiga kali.
“Sumpah mati, Mas sayang banget sama kamu. Mas ngak mau pisah, ngak mau cerai.”
Telinganya sudah cukup panas mendengar kalimat-kalimat seperti itu. Hatinya terlanjur mati, perasaan cintanya terlanjur pupus. Padahal, dia selalu senang saat Abram mengucapkan kalimat seperti iti. Namun sekarang, terdengar menjijikan baginya.
Cinta ...
Bilang cinta tapi bisa menggauli wanita lain sampai hamil. Munafik!
“Ngak bisa, Mas. Aku gak bisa berbagi. Kamu jelas tahu prinsipku sejak awal bukan?” Zahra membuang muka, tangannya merayap bersiap membuka pintu kamar. Dia mengambil ancang-ancang, bila nanti Abram bertindak nekat.
“Mas tahu? Gak ada orang yang mati karena di tipu! Karena itu cuma menghancurkan hatimu, mentalitasmu! Sampai-sampai membuat orang berlari dan membenturkan kepalanya di tembok. Aku mempercayaimu saat itu ....”
Abram tertunduk sesaat. Sesal seakan menumpuk selembar demi selembar, sampai dia tak menyangka, semakin lama semakin tinggi. Hingga dia tidak bisa melihat ke depan dan berjalan dengan baik.
Dia tiba-tiba bangkit berdiri, lalu berjalan mendekat. Tangan Zahra cepat-cepat membuka pintu. Namun saat dia melihat tatap mata Abram yang sendu, kecurigaannya berkurang.
“Baik, tapi ... mas minta satu hal.”
“A-apa?”
“Tolong, jelaskan yang sebenarnya terjadi. Berita viral kemarin sudah buat Nindira stress. Please, ya Bee. Dia lagi hamil muda, dia gak bisa stress.”
__ADS_1
Setiap kata-kata Abram seperti racun yang di sebar sedikit demi sedikit. Zahra mengira Abram benar-benar datang dan meminta maaf dengan tulus. Tapi kenyataanya, dia memang lebih mementingkan istri tuanya.
Zahra berpikir sedikit lebih lama. Menatap sorot pandang Abram yang terlihat cukup serius.
“Kamu mau aku membersihkan namanya? Mengaku bahwa aku memang yang ke dua? Sebagai perusak rumah tangga orang, begitu Mas?”
“Maunya aku yang di hujat habis-habisan begitu kan? Mentang-metang aku gak hamil, aku gak akan strss, begitu kan?”
Abram membisu tak mampu menjawab cercaan pertanyaan dari istri mudanya.
“Dengar baik-baik, Mas! Aku, gak mau cerai darimu!” Zahra menatap tajam memandang wajah sang suami.
“Tiga kali kamu menalakku, sepuluh, seratus atau bahkan ribuan kali. Aku, gak akan cerai!”
Zahra melangkah menuju pintu, membukanya dengan sekuat tenaga. Meluapkan segala kekesalannya di tempat yang salah.
“Kamu bisa pulang, Mas!”
Gak jadi cerai?
Kawal sampai cerai gak nih???
Vote jangan lupa.
Bantu Othor bertahan di rank 200 ya 😊😊
__ADS_1