Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 81


__ADS_3

...***Mediasi Gagal***...


Seorang pria, dengan perawakan tubuh besar dan kekar. Menyapa mereka dengan ramah. Lalu, menyuruh mereka untuk duduk berhadapan, dengan pengacara yang duduk di sisi kanan. Dean langsung menarik kursi, membatu kliennya duduk.


“Bagaimana kabarnya, Ibu, Bapak?” Tanya pria itu, yang di jawab kompak ke dua belak pihak.


“Perkenalkan, saya Mike, hakim yang akan membantu jalannya mediasi.


Abram dan pengacaranya terlihat terkejut. Saat mendengar kalau yang duduk di sana adalah hakim, bukan mediator yang di tunjuk. Wajah Abram bahkan semakin kecut, saat menatap senyum sinis dari Istri Mudanya.


Hakim Mike melipat ke dua tangannya di atas berkas yang ada di meja. Lalu menghela napas panjang dan bertanya pada Zahra.


“Dia menipu saya, menipu keluarga saya dengan statusnya. Dia bahkan menyiksa saya, memaksa saya berhubungan dengan kasar.”


Zahra berbicara dengan santai, tapi amarhnya terlihat dengan jelas. Sedangkan Abram, ia justru menunduk. Hakim lantas bertanya alasan Abram yang telah menipu Zahra.


“Saya hanya kasihan. Ayahnya kritis saat itu. Tapi saya mencintai Zahra.”


“Stop bilang cinta!” Zahra berdiri. “Kamu maksa aku terus donor untuk dia, saat aku udah lemah. Petugas bahkan memberitahu mu tentang itu! Jangan bilang cinta hanya untuk menutupi kejahatanmu ya!”


Dean berusaha menenangkan Zahra dengan menarik tangannya. Namun, zahra justru menapik tangan Dean. Beruntung, hakim bisa menenangkannya dengan baik.


“Benar itu?” Tanya Hakim.


Pengacara Abram membantu kliennya membela diri. Alasan kemanusiaan menjadi tameng yang cukup hebat. Namun, Dean membalik ke adaan dengan cepat.

__ADS_1


“Oh, jadi Bapak rela juga menyumbangkan jantungnya demi orang lain? Kebetulan, di dearah sebelah ada seorang pria dengan dua anak sedang membutuhkan jantung.”


Pengacara Abram pun tak dapat membela diri lagi. Membuat Dean tersenyum dengan puas.


“Bu, Zahra tetap meneruskan perceraian ini? Apa nanti tidak menyesal?” Tanya Hakim Mike mencoba meyakinkan Zahra tentang tindakannya.


“Yang aku sesali bukan perceraian, bukan pula perpisahan. Tapi, kenapa aku harus mencintai orang seperti dia? Mempermainkan wanita, menjadikan wanita budak s’ex di atas pernikahan tanpa mempertimbangkan mental dan pisikologis. Selingkuh, menikah lagi secara diam-diam atau terang-terangan. Kenapa? Kenapa harus ada lelaki seperti itu? Padahal, dia juga lahir dari rahim seorang wanita. Jika dia bisa menghargai ibunya, kenapa tidak bisa menghargai istrinya?”


Perkataan Zahra sontak membuat semua pria yang duduk di sama fokus menatap ke arahnya. Hakim Mike pun di buat tak berkutik, hingga akhirnya. Ia menerima gugatan cerai dari Zahra.


Mediasi telah gagal, tanggal persidangan perceraian pun akan di lakukan satu bulan kemudian, terhitung pada hari ini. Pengacara Abram hanya bisa menggeleng kepala.


Abram keluar lebih dulu. Saat membuka pintu, betapa terkejutnya ia. Melihat sosok wanita yang telah melahirkannya, dia angsung bersujud dan memintaa ampun denganQ terisak-isak.


“Mah, maafin Abram ya, Ma.”


“Mama kok di sini?” Tanya Zahra kaget saat melihat mertuanya datang.


“Gimana hasilnya, Nak?”


“Mediasinya gagal, Ma. Gugatan Zahra di terima pengadilan.”


“Kamu bahagia, Nak?”


Pertanyaan mertua Zahra membuat lidah wanita itu kelu. Ia tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan dari mertuanya.

__ADS_1


“Zahra harus gimana, Ma?”


“Zahra harus bahagia. Bahagia ya, Nak. Mama gak masalah kalau kamu gak bisa rujuk. Asal Zahra bahagia, anak mama bahagia.”


Zahra mengangguk, lalu membawa mama mertuanya pergi dari sana. Melewati seorang lelaki yang masih bersimpuh di depan pintu.


Apa ini cukup?


Sudah cukup?


Abram rupanya tak berhenti sampai di situ. Ia mengejar ibunya yang lebih memilih menggandeng tangan Zahra dan pergi, dari pada memperdulikan anaknya.


“Mah, tunggu!” Pekiknya. “Ma, maafin Abram. Abram bakal lakuin apa pun yang Mama mau. Menalak Nindira, Abram pun mau asal Mama maafin Abram!”


Perkataan anak lelakinya, membuatnya berhenti dan menoleh. Manatap Abram yang matanya basah, dan wajah memelas. Bukannya iba atau kasihan, ia justru memukul dada anak lelakinya sembari mengumpat.


"Kamu pikir semudah itu? Bertanggung jawablah atas perbuatanmu! Pahami dimana letak kesalahanmu!"


Mereka semua satu persatu meninggalkan Abram, yang diam mematung dan tam berdaya. Sosok ibu bagi Abram adalah wanita yang paling ia muliakam. Sejak dulu, ia tak pernah membantah perkataan sang ibu. Sekarang, Bu Syam sendiri tak sudi mengakui dia anak, bahkan, maaf pun tak di terimanya.


Dunia Abram seketika hancur. Keluarganya sendiri kecewa, bahkan istri yang di cintainya pun sebentar lagi menceraikan dirinya. Belum lagi, beberapa proyek yang tiba-tiba batal karena gosip.


Katanya, dunia lelaki bisa hancur ketika kehilangan, Ibu, Istri, dan pekerjaannya. Tidak perlu semua, tapi salah satu saja sudah membuat setengah dunianya runtuh. Sedangkan Abram, ia membuat ketiganya pergi akibat keegoisan dan ketamakannya.


__ADS_1


Othor butuh sajen ....


Kembang dong se kebon 🙈🙈


__ADS_2