Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 105


__ADS_3

...***Dia sudah pergi***...


Dokter baru saja pergi, saat seorang perawat keluar dengan raut wajah panik sambil mencari Zahra. Beruntunh, pada saat itu, Zahra dan Dean baru saja sampai di sana untuk melihat kondisi Jordhan.


"Saya Zahra, sus!" Teriaknya dari kejauhan saat mendengar suster menyebutkan namanya.


"Mbak masuk sebentar ya," ucap suster sembari membuka pintu.


Wanita itu seperti tak berpikir panjang, dan langsung saja masuk ke ruangan yang di tunjuk perawat. Di sana, dia melihat Jordhan sudah di infus, dengan hidung yang terus mengeluarkan darah. Zahra terlihat shock saat mengetahui kondisi Jordhan yang nampak parah.


"Jo ...."


Zahra ingin bertanya banyak hal tentang kondisi dan apa yang telah di alami Jordhan. Namun, mulutnya terlalu rapat untuk bertanya banyak hal, dan hanya mampu memanggil nama lelaki itu. Jordhan membuka matanya yang di rasa cukup berat.


"Mereka bebasin kamu?" tanyanya begitu netra matanya melihat Zahra.


"Iya. Dean langsung urus berkas, jadi gak bisa anterin kamu ke rumah sakit."


Jordhan mengangkat dua sudut bibirnya sedikit sambil menutup mata. Wajah tampan itu terlihat semakin pucat, bahkan tak lagi berwarna.


"Kayaknya, aku bakal ingar satu janji sama kamu. Aku harap, kamu bisa maafin aku," ucapnya lirih.


Zahra pun memiringkan kepalanya. Berpikir tentang janji lain yang di ucapkan Jordhan. "Janji apa sih, Jo. Kamu udah bantu aku bebas. Kamu udah tepatin janji!"

__ADS_1


Jordhan menggeleng pelan, "Bukan, janji untuk membawamu ke KUA, kalau dia gak buat kamu ...." Perkataan Jordhan terpotong, oleh batuk yang tak kunjung mereda. Sampai-sampai, darah segar menyembur dari mulutnya.


Zahra makin shock dan panik. Suster yang berada di sekitar langsung memberi pertolongan. Sedangkan suster yang lain, berlari secepat mungkin memanggil dokter.


Air mata Zahra tumpah, melihat banyak perawat dan dokter mengerumuni Jordhan. Sendi lututnya lemas, tangannya bahkan giginya gemetar. Seorang suster berjalan mendekati Zahra, tiba-tiba berkata.


"Masnya di bantu ya, Mbak."


Degh


Jantung Zahra seakan di lepas secara paksa. Terlebih saat ia melihat dokter saling memandang dan menggelengkan kepala. Dua suster masih fokus menghentikan darah yang keluar dari hidung Jordhan. Sedangkan tubuh lelaki itu, terus mengejang. Hingga, satu tarikan napas pendeknya, menghentikan detak jantung yang sedari tadi mulai melemah.


TIT ....


"Jo! Jo! Bangun!" Tangis wanita itu pecah, menatap lelaki yang tak henti-hentinya berkorban meski sudah di tolak, terbaring dengan kaki yang sudah dingin.


"Aku belum ngucapin makasih sama kamu! Aku belum ngucapin, Jo! Bangun, please!"


Dean dan Pak Gun yang mendengar teriakan Zahra, bergegas masuk ke dalam. Melihat Zahra menangis histeris di samping tubuh Jordhan, seakan memberi tahu mereka. Jika, lelaki bertubuh kekar dengan lesung pipi itu, telah pergi untuk selamanya.


Dean mencoba menenangkan Zahra dengan memeluk tubuhnya. Namun Zahra masih cukup histeris, karena dialah yang berada di samping lelaki itu di detik-detik terakhirnya.


"Aku belum bilang makasih sama dia, Dean! Aku belum bilang makasih!" Ratapannya semakin pilu, saat Zahra memegang jemari Jordhan yang lecet.

__ADS_1


Dia bahkan tak menyadari, saat lelaki itu masuk ke ruangan Pak Gun beberapa jam yang lalu.Semua seakan baik-baik saja meski dia merasa Jordhan sedikit pucat. Dia bahkan tak memperhatikan, jika tubuh lelaki itu penuh luka dan sengaja disembunyikan.


Sampai saat kain menutupi kepala Jordhan, Zahra masih belum mengetahui. Jika lelaki berlesung pipi itu, sempat mengalami kecelakaan sebelum pergi menyerahkan bukti yang membuatnya bebas dari segala tuduhan.


"Pak, Jo kecelakaan gimana sih tadi?" tanya seorang pria yang menunggu di depan ruangan.


"Ada mobil pic up yang remnya blong, terus nabrak mobilnya Pak Jo. Posisinya, Pak Jo ada di samping mobil mau nyebrang." Jelas salah seorang yang mendapat kabar dari grub whatsapp.


"Kata orang yang nolong, Pak Jo sempet pingsan setelah terpelanting. Tapi ajaibnya, dia langsung bangun, bahkan sempet munggut berkas."


Tanpa mereka sadari, pembicaraan itu sampi di telinga Zahra yang baru keluar dengan mata sembab. Mendengar kronologi itu, seakan rasa bersalah yang mendadak hadir dalam benaknya. Hingga, membuat air mata yang sempat ia seka, kembali menetes.


"Sudah jalannya begini, ini bukan salah kamu, Mee." Dean mencoba menenangkan perasaan Zahra yang berkecambuk.


Namun, sekeras apa pun dia berusaha menenangkan diri. Rasa bersalah tetap saja menggacak-acak pikirannya.


Jika ada kata seandainya, Jo. Hanya saja, waktu terlalu kejam bagi kita. Dia tidak mau ditawar untuk mundur beberapa detik saja.



Kanebo mana kanebo!!!!


Ngetiknya sambil mewek 😭

__ADS_1


__ADS_2