
...*****Cinta Tak Berbalas*****...
Dean
Dia dulu sangat periang. Tertawa lepas seolah tak punya beban. Rambutnya cantiknya, selalu terurai panjang, sesekali berkibas tertiup angin. Mengingat kembali masa-masa itu, meluapkan rindu yang lama terpendam.
Namun kini, dia berbeda. Seulas senyum tak pernah terlihat dari awal bertemu, hingga sekarang. Seperti raga kehilangan seluruh jiwanya. Sorot matanya pun selalu kosong. Entah, melayang kemana.
Ingin, sangat ingin menghentikan langkahnya sekarang. Lalu, menyuruhnya berbalik arah. Memberitahunya bahwa ada lelaki di belakang yang siap menerima segala rasa sakitnya.
Sampai, perkataan itu keluar dari bibirnya.
“Aku mau visum.”
Ada perasaan gembira, bahagia, senang. Entah dia memilih bercerai atau tidak, harapan terbesar hanya ingin dia bahagia. Melakukan apa yang dia suka tanpa menyakiti diri sendiri dan orang lain.
“Oke, kita kerumah sakit sekarang!”
Baru menjawab, Dania datang dengan sekantong es batu. Waktu yang tepat, untuk tancap gas dan mengantarnya visum.
“Kompres dulu, Ra.” Dania membelitkan potongan es batu ke dalam tumpukan beberapa lembar tisu.
“Ngak. Aku mau visum!”
Perkataan Zahra tentu membuat kita semu terkejut. Begitu juga Dania, teman masa sekolahnya dulu.
“Udah yakin, Ra? Kamu bakal menjarain Abram?”
__ADS_1
Zahra terlihat menggeleng pelan, lalu tertunduk dan mengambil napas panjang. “Untuk jaga-jaga, kalau dia gak mau ceraiin aku.”
“Tapi gak semudah itu. Kamu perlu lapor ke pihak berwajib dulu. Hanya mereka yang bisa mengeluarkan surat rujukan untuk Visum.”
“Benarkah itu ... Dean?”
“Iya. Kita perlu membuat laporan, bahwa kamu mengalami KDRT. Setelah itu, polisi baru bertindak dengan visum.”
Zahra menarik ujung lengan bajunya. Seolah menyembunyikan bekas cengkraman tangan Abram yang begitu kuat. “Kalau gitu, kita ke kantor polisi dulu.”
Hari yang cukup panjang dan melelahkan. Rasanya lelah, tapi saat mendengar dia mengatakan demikian. Seolah ada gelora api yang membara, menyulut, membakar, tapi tak sampai membuatnya hangus.
“Ada yang bisa kami bantu, Kak?” tanya salah satu anggota berseragam yang duduk di bagian penerimaan tamu.
“Mau buat laporan. Kasus KDRt.”
“Lewat sana, Mas. Lurus, belok ke kiri.”
“Selamat sore Pak.”
“Selamat sore.”
“Kami mau buat laporan.”
Setiap hal memerlukan proses yang begitu panjang. Begitu juga proses dari keputusan yang telah dia ambil. Zahra mulai menceritakan setiap kejadian yang dia alami hari ini. Cengkraman tangan juga tamparan.
“Aku ingin bercerai, tapi dia tidak mau.”
__ADS_1
Polisi itu terlihat ragu. Mungkin, kekerasan yang di alami Zahra terlalu sedikit, dan itu hanya di alami satu kali. Langkah kita kali ini, mungkin terlalu mendadak.
“Begini, Bu. Mungkin suami ibu sedang khilaf. Alangkah baiknya ....”
Brak!
Zahra memukul meja cukup keras. Membuat semua orang memandang ke arahnya. “Khilaf, Pak?”
Wuah, dia bakal emosi lagi nih.
“Clam down, Mee.”
“Setiap tindakan kekerasan, baik itu sadar atau tidak. Dalam kondisi marah atau khilaf, semuanya tidak bisa di benarkan. Undang-undang juga telah mengatur tentang KDRT. Kekerasan tetap tidak di benarkan walau cuma sekali."
“Maaf, Anda ini siapa?”
“Dean Alfian, pengacara Ibu Zahra Ameera.”
Sudah Like belum?
Sudah di jadikan Favorit belum?
Sudah Vote belum?
Buruan!!!
__ADS_1
Semuanya GRATIS tanpa dipunggut biaya!
Bilang sama admin kalau di punggut biaya!!