
...***Beradu dengan nasip***...
"Dania, aku udah bicara semuanya ke Dean,” ucap Zahra berbicara di telefon.
“Maksudnya, Ra?”
“Alasan kenapa aku minta putus dari dia.” Zahra menengelamkan kepalanya diantara lututnya.
“Kok ... kok bisa sih? Terus, respon dia gimana?”
“Dia gak percaya. Dia pikir aku bohong. Semua cuma karanganku aja biar menjauh dari dia.”
“Oke, oke. Kamu tenang dulu, relax, oke.” Dania mencoba menenangkan Zahra. Mendengar suaranya sedikit berat dan serah, membuatnya sedikit khawatir.
“Aku baru sampe hotel, kamu mau ngobrol sama mereka?” Lanjutnya.
Zahra berpikir sedikit lama. Hatinya terlalu berat untuk mendengarkan suara mereka. Dia terlalu malu, karena melibatkan ayah dan ibu yang sudah tua. Pada akhirnya, dia menolak.
“Aku titip mereka dulu ya. Besok aku cerita semuanya. Uang tiket udah aku transfer. Aku juga titip beberapa buat ayah.”
“Kita temen, Ra. Aku udah anggap kamu saudara, juga angap mereka orang tuaku.”
“Makasih, Nia.”
Jawaban Dania membuat Zahra menghela napas lega. Dia memang orang asing, tapi seperti keluarga bagi Zahra, bahkan orang tua Zahra juga menganggap Dania seperti anak sendiri.
__ADS_1
Jam dinding sudah berada di angka dua. Namun mata Zahra tak kunjung meredup. Di ponselnya ada banyak sekali pesan yang dia abaikan. Dari Abram, Dean, bahkan beberapa teman yang sudah lama tak menghubunginya.
Sampai tiba-tiba, ada sebuah panggilan masuk. Zahra hanya menoleh, menatap layar ponselnya yang menyala, memperlihatkan nama Abram di sana.
Dua panggilan terlewat, tiga panggilan, empat panggilan. Zahra sudah terlalu lelah, akhirnya menjawan panggilan dari Abram.
“Bee, halo, Assalammualaikum.”
Dada Zahra bergejolak. Mendengar suara lembut Abram yang tiba-tiba mampir di indra pendengarannya.
“Waalaikum’mussalam.” Jawab Zahra singkat.
“Bee, kamu masih di Jakarta kan?” tanyanya tiba-tiba.
Ada apa?
“Kenapa?”
“Bee, kamu bisa dateng ke rumah sakit ngak. Di Siloam lebak bulus. Tolong, Bee.”
Nada bicara Abram terdengar cemas. Seperti ada hal serius yang terjadi pada lelaki yang masih bergelar suami.
“Halo, Bee. Kamu masih di Jakarta kan?” tanyanya lagi.
“Iya masih.”
__ADS_1
“Tolong, Bee. Nindira butuh darah, dia pendarahan. Stok darah di rumah sakit kosong, mas udah telfon pihak PMI, area Jakarta juga kosong. Please, Bee.”
Seperti ada sengatan listrik dalam hatinya. Entah senang, sedih, atau iba. Mendengar musibah itu, hati Zahra memang sedikit teriris. Bagaimana pun, istri tua suaminya sedang mengandung.
“Kenapa cari aku?”
“A-aku gak kepikiran yang lain. Darah kamu O, jadi ....” Belum sempat Abram meneruskan kalimatnya, Zahra buru-buru menyela.
“Tante Ve juga O. Kenapa gak minta dia?”
“Tante Ve punya hipertensi. Bee, tolong bantu mas sekali aja, mas mohon.”
Zahra tak menggubris. Dia langsung mengakhiri panggilan begitu saja. Hatinya terasa cukup sakit, dadanya terlalu sesak. Mendengar suaminya sendiri memohon seperti itu demi seorang wanita, wanita yang dulu tidak cintainya.
Sebelumnya, lelaki itu sama sekali tidak pernah memohon padanya. Entah saat Zahra sedang marah, atau Abram melakukan kesalahan. Seperti sebuah pantangan bagi seorang lelaki mengiba pada istri sendiri. Namun sekarang, Zahra seperti tidak mengenali Abram lagi.
Namun, tiba-tiba pikirannya berubah. Ia meraih lipstik yang ada di meja, mengoleskan ke bibirnya sedikit tebal. Lalu mengambil bedak dan blush on.
Dengan santai berjalan keluar sambil memesan taxi online.
“Ayo lihat. Pada siapa nasip berkehendak?”
Lanjut gak Lanjut gak?
__ADS_1
Udah Vote dulu lah
Sajen juga jangan sampe lupa.