
...***Rekam Medis Nindira***...
Suasana di dalam ruangan menjadi lebih sunyi. Sampai-sampai, deting jam dapat terdengar jelas di pendengaran mereka. Perawat baru selesai mengambil beberapa tetes darah Abram, dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua di sana.
Jordhan memincingkan mata, raut wajahnya semakin menunjukkan ketidak sukaan. Namun Abram masih terlihat duduk dengan tenang, sembari memegangi kapas di lipatan tangan.
"Rasanya agak menjengkelkan, ketika menikahi seorang wanita yang belum menyelesaikan masa lalunya," ucap Abram tanpa memandang Jordhan.
"Terus, kenapa masih menikah?" Jordhan mencoba memancing Abram, meski ia sendiri tak paham, siapa yang dimaksud.
"Cinta, katanya bisa tumbuh seiring dengan berjalannya waktu, hanya dengan terbiasa bersama seseorang." Abram berdiri, berjalan menghampiri Jordhan. "Ya ... itu aja udah cukup jadi alasan kan? Tapi kenyataannya, cinta cuma kelihatan di mata, bukan di hati. So, melepaskan termasuk cara yang bijak."
Jordhan semakin tidak memahami arah pembicaraan Abram. Siapa sebenarnya yang dia maksud? Istri Tua, atau Istri Muda?
Dia terbengong untuk sesaat, mencoba mencari jawaban menurut analisanya sendiri. Sampai tidak menyadari, Abram sudah membuka daun pintu dan bersiap pergi.
"Ingat, kabari aku saat kau tau, siapa bapak dari janin itu!" ucap Abram sebelum dirinya menghilang di antara pintu yang tertutup.
Jordhan masih berdiri di posisinya, kepalanya semakin pening, saat mencoba mencari jawabannya sendiri. Terlebih, ucapan Abram yang seakan membawa beberapa ton beton, dan diletakkan begitu saja di atas kepalanya.
__ADS_1
"Ahh sial, sial!" umpatnya sembari mengacak acak rambut.
Dua belas jam berlalu begitu saja sejak Zahra di bawa ke kantor polisi. Jordhan pun masih duduk di mobil yang terparkir di depan rumah sakit. Ia bersandar sambil melipat kedua tangannya, dengan mata yang masih terjaga, meski waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
Hampir semalam penuh dia berpikir tentang banyak hal. Namun, dari banyak hal itu, tak ada satu masalah yang menyangkut tentang dirinya. Semua tentang Zahra, wanita yang setengah tahun lalu membuat hatinya bergetar.
Pengacara itu, apa ada kaitannya juga?
Kalau yang dia maksud itu Zahra, lalu 'kisah masa lalu' yang dimaksud pasti 'mantan'kan?
Jordhan tiba-tiba menarik garis diantara praduga yang dia pikirkan, menyambungkannya ke salah satu nama yang terlihat perhatian dengan Zahra.
Di tengah pergulatan antara batin dan pikirannya, ia dikagetkan oleh dering ponsel. Jordhan buru-buru merogoh saku, takut jika ada panggilan yang penting.
"Gile, Bro. Gue hampir di tolak rumah sakit!" suara seorang lelaki terdengar saat Jordhan baru saja menggeset tombol hijau di layar.
Mendengar perkataan rekannya yang ambigu, kepalanya bertambah pening. Dia bahkan memijat keningnya sambil mengumpat rekan seprofesi itu.
"Ngomong yang jelas!"
__ADS_1
"Lo kenapa sih, Jo? Abis makan bon cabe? Sensi amat tengah malem!"
Hela napas Jordhan terdengar semakin berat. Jelas-jelas itu hanya sebuah candaan, tapi terasa menjengkelkan baginya. Bahkan, ia bersiap menekan tombol merah, dan mengakhiri panggilan. Namun, kabar bagus membuatnya mengurungkan niat secepat mungkin. Dia bahkan refleks menegakkan tubuhnya.
"Previa, dokter bilang sih gitu. Gue hampir gila pas gak dapet surat perintah. Untung aja Pak Gun mau bantu. Laporan udah gue kirim lewat Fax!"
Dua sudut bibir Jordhan terangkat, menunjukkan simpul senyum dan dua lesung pipinya. "Thanks, Bro. Gue traktir kalau pulang besok!" ucapnya langsung mengakhiri panggilan.
Senyum masih terukir di wajahnya, saat tangan itu dengan tangkas membuka laptop dan memeriksa Fax yang di kirim rekannya. Mata itu terlihat fokus, memeriksa rekam medis dari Nindira. Mencoba memahami meski pada akhirnya harus meminta bantuan *google.
Plasenta previa adalah kondisi ketika ari-ari atau plasenta berada di bagian bawah rahim, sehingga menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir. Selain menutupi jalan lahir, plasenta previa dapat menyebabkan perdarahan hebat, baik sebelum maupun saat persalinan*. (Dikutip dari Alodokter)
Bagus, hasil yang bagus.
Rekam medis itu harusnya sudah cukup bagi Jordhan untuk bisa membebaskan Zahra. Namun, karena takut ditolak lagi, dia lebih memilih menunggu hasil laporan DNA, agar Zahra bisa menuntut balik jika itu memang terbukti jebakan.
Bab selanjutnya segera meluncur ....
__ADS_1