Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 36


__ADS_3

...****Nindira, Istri Pertama****...


Banyak langkah untuk menyelesaikan masalah, tapi intinya hanya ada dua. Hadapi, atau lari. Persoalan tentang step by step, tergantung personalnya, bukan. Sama juga saat harus berhadapan dengan istri lain suamimu.


📳 Aku ngak begitu paham Jakarta. Waktu dan tempat bisa di sesuaikan.


Pada akhirnya, yang di pilih Zahra sebagai istri muda, adalah menghadapinya. Entah endingnya akan berakhir baik, atau makin menyesakkan dada. Itu masalah belakang.


📳 Besok pagi jam 10. Starbuck di daerang kuningan baru buka. Apa kamu mau coba?”


Undangan secara resmi di terima Zahra. Alih-alih membicarakan dengan Dania, ia lebih memilih untuk bungkam, dan menghadapinya sendiri.


Dean kembali lagi ketika matahari mulai sedikit tenggelam. Hanya datang untuk menaruh beberapa cemilan dan makan malam. Kali ini, dia tak mau berlama-lama, ia masihada urusan yang harus diselesaikan secepatnya.


Alangkah baiknya itu, pikir Zahra. Dia masih terlalu kaget dengan perlakuan Dean tadi pagi. Malu, mungkin satu kata dapat mengambarkan apa yang dia rasakan jika bertemu Dean.



Keesokan harinya. Zahra bangun cukup pagi. Rasa sakit di badannya sudah sedikit mereda. Bahkan ruam-ruam perlahan menyamar dengan kulit putihnya. Bagian sensitifnya juga sudah membaik, tak begitu perih meski masih bengkak sedikit.


Dia langsung pergi mandi dan berdandan. Semua itu demi terlihat segar saat bertemu istri pertama suaminya. Mencatok rambut, memakai lipstik matte yang di obree warna merah bata. Bahkan, dia perlu setengah jam hanya untuk memilih pakaian. Harus terlihat fress dan cantik, itu ingginnya.


“Mau kemana, Ra?” Tanya Dania saat melihatnya berdandan.


“Oh, aku mau ketemu sama teman lama dulu sebelum balik ke Malang.”


“Dimana? Siapa?”


“Ada lah, seseorang. Kamu tenang aja, aku udah lebih baik kok.” Zahra berdiri, menepuk pundak Dania beberapa kali. Berusaha menenangkan temannya yang nampak cemas.

__ADS_1


“Kamu familiar daerah sini, Ra? Kalau diculik gimana?”


“Aku janji cuma dua jam. Tiap jam bakal WA kamu deh. Kalau gak bales, langsung call Dean.”


Dania tak bisa berkata apa pun. Seberapa keras dia mencoba membujuk Zahra untuk tetap tinggal, itu tak akan berhasil. Zahra bahkan menolak untuk mengajak Dania dengan berbagai alasan. Dan akhirnya, Zahra tetap pergi sendri menemui istri tua sang suami.


Jarak dari apartemen lumayan jauh. Perlu setidaknya setengah jam perjalanan dengan taxi online. Padahal, jalanan tak begitu padat saat itu. Zahra pikir, dia sudah cukup terlambat saat sampai disana. Namun kenyataannya sebaliknya. Dia datang lebih dulu dari pada Nindira, istri pertama Abram.


Beruntung, dia tidak menunggu terlalu lama. Hanya sepuluh menit sejak dia menerima secangkir latte dengan banyak wipcream.


“Maaf, tadi agak macet di jalan.” Nindira meletakkan tas kecil keluaran brand ternama di atas meja.


“Aku juga baru dateng.”


Pembicaraan mereka mulai serius saat Nindira selesai pesan minum dan sepotong kue.


“Apa kita bisa membicarakan suami kita, sekarang?”


“Aku pikir, kamu datang sama dia.” Zahra sedikit kehilangan fokus usai Nindira berkata tentang status mereka berdua.


“Ngak baik bicarain orang di belakang.” Lanjutnya berusaha tenang.


“Bukan begitu. Aku cuma ngak mau kamu salah paham. Sebenarnya ... aku tahu kalau dia sudah menikah lagi.”


Degh!


Zahra mengeratkan tangannya rapat-rapat. Dia merasa sangat konyol saat itu. Seperti badut yang sedang menghibur banyak orang. Di anggap lucu, padahal cukup menyakitkan.


“Sejak awal, dia udah bilang kalau gak cinta. Jadi sepakat buat pisah dalam satu tahun. Tapi ayahku masih sering tanya soal dia, jadi kami coba memperpanjang kesepakatan.” Nindira menjelaskan perlahan.

__ADS_1


“Setengah tahun lewat, dia bilang mau nikah. Dia cinta sama calon istrinya, jadi aku gak bisa maksa. Aku pikir umur ayah cuma bisa bertahan beberapa tahun, tapi aku gak nyangka dia bertahan selama tiga tahun.”


“Jadi sekarang?” Tanya Zahra penasaran keadaan ayah Nindira.


“Dia pergi empat bulan lalu.” Nindira terlihat menyeka air matanya. Dan tiba-tiba saja, dia bangkit berdiri lalu berlutut di hadapan Zahra.


“Mbak, dari awal aku cinta sama dia. Meski aku tau dia cinta sama Mbak Zahra. Tapi aku lagi hamil.” Ucapnya tersedu-sedu.


“Bangun! Kamu ngapain begitu?”


“Tolong, Mbak. Tinggalin Mas Abram!”


Zahra setengah mati berusaha membuat Nindira bangun. Namun wanita itu tetap berlutut. Tak perduli tatapan orang-orang yang tertuju padanya.


“Bangun dulu, Mbak. Ayo bangun!”


Nindira akhirnya bangkit berdiri setelah Zahra menarik tangannya. Ia kembali duduk dengan air mata yang masih mengalir. Zahra mengambil tisu dari tas, lalu memberikannya pada Nindira.


“Aku memang ada niat menceraikannya, kamu gak usah khawatir.” Jelas Zahra usai menghela napas panjang.


“Kamu lagi hamil, alangkah baiknya cepat-cepat di sahkan secara hukum.” Ia bangkit berdiri dan pamit pulang lebih dulu, karena masih ada urusan.


Begitu dia melewati pintu kaca tinggi nan lebar itu, dia bertemu Dean dan Dania. Berdiri seperti bodyguard di depan pintu.


“Ka-kalian ngapain disini?”



Pada ikhlas gak si Abram buat Nindira?

__ADS_1


Votenya jangan sampai lupa.


Sajen juga ya.


__ADS_2