Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 107


__ADS_3

...***Beking Nindira***...


Rintik hujan mulai jatuh, membasahi tanah dan juga dedaunan yang hampir dua minggu kehausan. Beberapa pengguna jalan, terlihat menepi untuk sekedar berteduh atau memakai mantel.


Dean yang baru saja keluar dari ruangan Pak Gun, pun langsunh menyelipkan map biru ke dalam jaket kulit. Lalu, berlari menuju mobil. Rasa penasaran sejak tafi sudah menganggu pikirannya. Ingin segera membuka map dan membaca semua isinya. Namun, lelaki itu lebih memilih menaruhnya ke atas kursi penumpang di sebelahnya.


Cukup lama dia memilih tempat nyaman untuk membaca semua berkas-berkas yang ada di map. Pada akhirnya, pilihan dia jatuh ke sebuah Kafe yang berada tak jauh dari posisinya.


"Americano one shot, please!" Ucapnya saat memesan secangkir kopi kepada barista.


"Di tunggu ya, Mas!"


Dean memilih kursi paling ujung, dekat dengan jendela kaca yang cukup lebar. Setelah memastikan posisi duduknya sudah nyaman, ia pun segera mengeluarkan map yang dia simpan di dalam jaket.


Begitu ia membuka map biru, Dean sedikit terkejut. Ada beberapa foto, yang langsung menyapa indra pengelihatannya. Dimana foto-foto itu menunjukkan lokasi, nomer plat mobil, juga dua orang yang turun dari dalam mobil sedan.


Rasa penasaran semakin mengelitik, membuat Dean menarik selembar kertas dari sana. Rupanya, itu adalah bukti pemesanan tiket oleh seseorang.


Abimabyu Yanuar, salah satu nama yang dia baca pertama kali sebelum nama Nindira.


Dean menarik napas panjang. Baginya, teka-teki soal beking Nindira lebih menantang dari pada kasus Binary Options, yang saat ini sedang ramai di perbincangkan.


Dean mencoba menghubungkan beberapa bukti yang dikumpulkan Jordhan. Hingga akhirnya, dia bisa menarik satu kesimpulan. Senyum licik, tiba-tiba saja terukir dengan jelas, saat mata berwarna coklat itu menatap layar ponsel.


Jujur, aku harus mengakui kinerjamu yang benar-benar hebat, Jo. Terima kasih, kamu masih membantu kami meski ragamu sudah tidur dengan tenang.

__ADS_1


Dean menyecap kopi yang hampir setengah jam berada di atas mejanya. Lalu, mencari nomer Zahra dan menghubunginya.


"Kamu udah makan?" Dean memandang keluar, menatap hujan yang sudah mulai reda.


"Iya, baru selesai makan. Kamu dimana? Udah makan?"


Alih-alih memberi kabar Zahra, bahwa dia sudah mengumpulkan bukti. Dean justru berbasa-basi layaknya pasangan yang sedang kasmaran. Saling menggoda hanya untuk membuat pasangannya terhibur. Rupanya, dia lebih memilih memberitau Zahra secara langsung.


Suara ketukan terdengar jelas, saat Zahra baru saja selesai menunaikan solat Ashar. Dia buru-buru turun, untuk membuka pintu.


"Katanya setengah jam," ucap wanita yang masih memakai mukena, ketika melihat Dean berdiri di pintu.


"Jalannya ngak macet, jadi bisa cepet. Kenapa, udah kangen?"


"Kamu suka menghindar sekarang, Mee?"


"Belum muhrim!"


Dean terkekeh sesaat mendengar jawaban Zahra yang acuh, tetapi benar adanya. Ia akhirnya terpikirkan satu ide brilian, yang bisa membuat Zahra setuju untuk segera menikah dengannya.


"Hemm, aku bawa kabar." Dean menjatuhkan diri di sofa, tepat di depan Zahra.


"Apa?" Rasa penasaran tak terlihat di wajah Zahra. Namun dia masih memandang Dean dengan serius.


"Kamu beneran mau bawa dia ke penjara kan, Mee?"

__ADS_1


"Iya dong. Aku udah bantu dia dulu, eh malah gitu balasannya. Sekarang, aku gak mikirin anaknya lagi. Bodo amat lah!"


"Ya bagus. Kebetulan aku juga udah kumpulin banyak bukti buat bawa dia kesana, tapi ...." Dean menatap Zahra, wajahnya menjadi lebih serius dari sebelumnya.


"Tapi apa?"


"Setelah semua selesai. Aku mau ke rumahmu secara resmi!"


Degh


Tidak kah perkataan itu terlalu mendadak? Dia baru bercerai beberapa bulan yang lalu. Hal itu jelas terlalu mendadak bagi dia dan keluarganya untuk melakukan pernikahan.


"Aku mau minta izin keluargamu, Mee. Untuk mencintaimu, melindungimu, dan memberimu kebahagiaan."


Zahra tertunduk beberapa saat, seulas simpul senyum lepas dari bibirnya. Ada perasaan takut, tetapi juga ada rasa bahagia yang menekan semua itu.


"Insya Allah, kalau ayah ngizinin, ya."



Masih lanjut gak nih?


Yang penasaran siapa beking Nindira, dan bapak dari anaknya, tetep pantau terus.


Jangan lupa sama sajennya.

__ADS_1


__ADS_2