Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 106


__ADS_3

...***Dean bertemu Pak Gun***...


Tidak ada yang pernah tahu tentang maut. Tentang hari yang akan mereka lalui, karena terkadang, duka tak melulu di iringi hujan. Patah hati tak selalu di iringi mendung. Sama seperti hari itu, saat mereka kehilangan sosok pria yang humoris dan baik hati.


Zahra masih mengunci dirinya di dalan ruko. Sesekali memandang desain yang masih setengah jadi, pesanan Jordhan. Rasa bersalah dan duka, rupanya masih berselimut dalam hati Zahra, meski sudah satu seminggu berlalu usai pemakaman Jordhan.


Hari ini, Dean datang seperti biasa. Membawa beberapa makanan, juga cemilan. Zahra pun masih menyambut kedatangan lelaki itu, meski dengan senyum yang hambar tanpa warna.


"Sampai kapan kamu kayak gini?" tanyanya Dean saat Zahra membuka pintu. Wanita itu justru mengangkat alis, seakan tidak mengerti perkataan yang di maksud oleh Dean.


"Ngomong apa sih?" celetuknya tak mengerti.


"Gak perlu menghancurkan dirimu, Mee!" Terlihat ada sedikit kekesalan yang tergambar jelas di wajah Dean. Meski Zahra menyadari hal itu, dia masih bersikap acuh tak acuh.


Dean bertambah kesal melihat sikap Zahra, pun langsung menarik tangannya, "Kamu juga tetap harus hidup, bahagia! Atau, semua pengorbanan dia selama ini sia-sia!"


Perkataan Dean membuat Zahra menelan salivanya kasar. Perkataan Dean memang benar, menurutnya. Dia tetap harus hidup bahagia, agar pengorbanan Jordhan tidak sia-sia.

__ADS_1


"Gugatanku, gimana?" Zahra menepis cengraman tangan Dean.


"Udah di proses. Hari ini, mantan suamimu di periksa sebagai saksi."


"Terus, Nindira?"


Dean menarik napas panjang, lalu mengeluarkan udara yang membuat dadanya sesak dari mulut. Dirinya pun resah, memikirkan jawaban yang akan dia berikan. Mengingat, Nindira belum menjadi tersangka meski buktinya sudah kuat.


"Dia juga di proses. Aku masih ada urusan, kamu makan dulu!" ucapnya yang langsung berbalik dan pergi begitu saja.


Entah kenapa, ada hal ganjal yang tiba-tiba melintas di kepala Dean saat menjawab pertanyaan Zahra. Seperti ada sebuah skema besar yang mungkin terjadi saat proses pelaporannya. Dua hal yang mungkin bisa terjadi, karena terlapor adalah public figur, atau karena orang dalam.


"Wanita licik itu punya beking. Kamu bisa cari atasanku kalau butuh apa-apa."


Kalimat itu satu persatu keluar melewati bibit tipisnya. Seakan sengaja dilafalkan, agar dia bisa mengingat setiap kata yang tertulis pada pesan terakhir Jordhan.


Hari masih cukup pagi, tapi awan pekat sudah menyelimuti hampir setengah kota Malang. Melihat awan yang sudah menutup sinar mentari, Dean pun buru-buru keluar dari mobil setelah sampai di Polsek. Pak Gun, adalah salah satu orang yang ingin dia temui.

__ADS_1


"Sebenernya aku gak mau terlibat lagi," jelas Pak Gun usai mendengar pertanyaan Dean. "Cuman karena dia, jadi jangan lupa ucapin terima kasih padanya!" Lanjut Pak Gun yang kemudian mengambil dokumen di lemari penyimpanannya.


Satu map berwarna biru yang tak terlihat cukup tebal, ditaruh ke atas meja dengan kasar. "Baca itu, itu senjata terakhir yang dia tinggalkan untuk kalian. Pergunakan dengan baik!" Lanjutnya masih engan menatap Dean.


Rupanya, Pak Gun masih berduka. Namun dirinya tak mau terus terperangkap dalam kehilangan. Apa lagi harus melimpahkan kecelakaan itu pada Zahra. Terlepas dari kata 'takdir' yang memang menjadi suratan bagi anak buah terbaiknya.


"Terima kasih, Pak Gun. Terima kasih," ucap Dean berkali kali membungkuk.


"Ingat, bawa mereka kemari. Kalau kamu gak bisa, mending lepasin wanita itu!"


Perkataan pria paruh baya itu seperti pisau kecil yang tajam, tetapi tidak di peruntukkan untuk menggoreskan luka. Melainkan untuk meruncingkan ujung bambu, agar bisa membunuh musuh dalam sekali serang.



Nih, buat yang nungguin karma.


Bab selanjutnya meluncur.

__ADS_1


Vote dan hadiah jangan sampe ketinggalan yee ♡♡


__ADS_2