Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 27


__ADS_3

Zahra Pov


Sempat berpikir untuk kabur. Melarikan diri dari kenyataan yang ada. Menghilang atau sembunyi untuk selamanya. Namun, saat dia memangginya ‘Sayang’ hatiku kembali lebur.


Setidaknya, sebelum aku pergi dari kehidupan mereka yang bahagia. Aku ingin mendengar secuil alibinya. Meski, pada akhirnya dia menapik semuanya. Selain itu, ingin menagih hutang mereka semua.


“Zahra, kamu gila!”


Melihat dia melindungi wanita itu dengan baik, membuat hatiku semakin kacau. Dan sekarang ... dia mengataiku gila.


HAHAHA!


Aku ingin mempermalukan diriku sendiri sekarang. Mencabik-cabik wajahku, dan melemparkannya. Betapa bodoh dan naifnya aku.


“Iya aku gila, kamu baru tau?”


Sial! Mereka cukup beruntung. Pisau yang aku lempar, justru menancap ke sofa. Lemparanku ternyata meleset


“Zahra, kamu tenang dulu ya. Duduk dulu.”


Wanita yang selama ini aku baiki, sekarang mencoba menenangkan. Berpura-pura menjadi tente yang baik hati dan mengerti situasi.


Tengang, cih. Mudah sekali dia bicara. Setelah semua drama persengkongkolan kalian, gimana aku bisa tenang?


Melihat acting mereka, membuatku bertepuk tangan. Bahkan, memberi mereka penghormatan.


“Wah ... selamat! Kalian bisa membodohiku dan keluargaku. Selamat ya, Mas Abram?”


Abram berdiri, mencoba menenangkanku dan mendekat. Sedang tante Ve, dia sibuk menenangkan istri pertama.


“Aku bisa jelasin, Be. Kamu tenang dulu bisa ngak?”


“Oke, kamu ngomong.”


Abram terlihat menoleh ke belakang. Seakan memberi kode untuk Tante Ve. Dan benar saja, Tante Ve langsung berdiri membawa istri pertama yang entah siapa itu namanya, pergi begitu saja. Namun, tidak semudah itu.


“Kenapa pergi, Te? Aku masih perlu menangih hutang.”


“Zahra, Diam! Kamu makin lama makin keterlaluan!”


“Aku, keterlaluan? Hei, pria bernama Abram. Sebutkan, dari mana yang kamu sebut keterlaluan? Sebutkan di bagian mana?”


“Aku, di bandingkan sama kamu, keterlaluan siapa? Siapa, hah?”


“Kalian berdua menipuku. Menipu ayah dan ibuku. Selama dua tahun, Mas. Siapa yang keterlaluan?”


Rasa sakit yang semula terfokus pada dada, kini mulai menjalar. Merambat perlahan hingga membuat kaki dan tanganku lunglai tak berdaya. Air mata yang beberapa kalo menetes pelan, kini terkucur deras.

__ADS_1


Melihatnya mendekat, tubuhku seakan terkunci. Ada paku besar, yang menancap di kedua kaki. Membuatku susah untuk bergerak. Ia mengulurkan tangan, perlahan mendekap tubuhku. Wangi parfum ini, aku mengenalnya dengan baik, cukup baik.


“Tenang ya, Bee. Aku bakal jelasin pelan-pelan. Tapi please, biarin dia ke kamar.”


Lagi dan lagi. Dia masih melindungi istri pertamanya. Kenapa? Jelas-jelas aku datang menagih hutang.


“Bee, please ngertiin aku ya. Dia hampir keguguran kemarin.”


DEGH!



Dunia wanita mana yang tidak hancur. Mendengar berita kehamilan istri lain suaminya. Istri yang baru saja dia ketahui setelah dua tahun menikah. Merasa di tipu, itu pasti.


Sekujur tubuh Zahra membeku. Air matanya terus menetes, jatuh di pundak Abram. Seperti di tikam dari berbagai sudut. Rasa amarah yang besar, cemburu, kekecewaan ... melebur menghancurkan asa.


Zahra berteriak dan mendorong tubuh Abram. Berlari menarik pisau yang menancap di sofa. Abram, Dean, juga Dania yang melihat, langsung mencoba menghentikan Zahra.


“Bee ... tenang. Clam down, Bee!”


“Ya Allah, Zahra. Jangan bodoh!”


“DIAM! DIAM!” Teriakan Zahra melengking. Mundur ke belakang, berusaha menghindari siapa pun yang mencoba mendekatinya, dengan mengangkat pisau ke depan.


“Please, Bee! Jangan nekat, taruh pisaunya.” Abram berusaha menenagkan Zahra. Namun teriakan Zahra seperti orang gila.


Dania dan Abram menjaga jarak. Memastikan agar Zahra tidak bertindak nekat. Namun, Dean berbeda. Ia mendekat perlahan, tak memperdulikan pisau yang di ayun ke sembarang arah. Terus memandangi mata Zahra yang basah, penuh kekecewaan dan rasa sakit.


Perlahan, mendekat, kemudian menangkap tangan Zahra yang memegang pisau. Bermaksud membuatnya melepas pisau, tapi tenaga Zahra terlalu kuat. Hingga ... ia tak sengaja menggores dada Dean.


Cresss


Zahra melonggo terkejut dan langsung melepas pisaunya. Takut Zahra makin kacau. Dean memeluk mantan kekasihnya itu. Berbisik lirih di telinganya, meyakinkan dia bahwa dirinya tidaj terluka.


“It’s oke. Jangan menangis, oke!”


Zahra memeluk Dean, memeluk dengan erat sampai Dean tak mampu untuk bergerak. Amarahnya rupanya belum padam. Dia terus memukul-mukul kepalanya. Menggatai diri sendiri sebagai orang ‘bodoh’. Dean cukup tangap menghadapi tempramen Zahra. Dia memegang tangan yang berusaha menyakiti diri sendiri.


Abram merasa cemburu. Langsung menarik kemeja Dean hingga membuatnya mundur. “Dania, kamu bisa obati luka tamu ini kan?” Seru Abram yang melihat wajah asing memeluk Zahra.


Dean tak bisa berkutik, menyadari bahwa dia memang orang asing. Memeluk istri orang di depan suaminya, sungguh berani.


Abram buru-buru mengambil segelas air, lalu membantu Zahra untuk minum. Berharap menjadi padam api yang ada di hati Zahra.


“Tenang ya, Bee.”


Abram membantu Zahra duduk di sofa. Melihat istri ke duanya itu menangis sesengukan dengan tatapan mata kosong.

__ADS_1


“Dia begitu cantik. Kenapa kamu mau menikah denganku?” Kurang apa istri pertamamu itu?” Tatapan mata Zahra bergeming. Lurus ke depan, menatap bayang semu.


“Ngak gitu, Bee. Aku sama dia tuh ... gimana aku jelasinnya ya?” Abram menelan salivanya kasar.


“Aku dan dia di jodohkan sejak kecil. Aku sudah anggap dia adik. Mau nolak juga gak bisa. Ayah dia memaksaku saat kritis. Membawa penghulu dan menikahkan kami. Saat itu, karir modelnya lagi bagus, jadi gak bisa nikah mendadak. Akhirnya kita berdua sepakat ... tidak perlu mendaftar di KUA.”


Zahra masih sesengukan mendengar perkataan Abram. Namun matanya jauh lebih tenang. Sesekali melirik ke samping. Melihat Dania mengobati Dean yang sempat terluka karenanya.


“Aku dan kamu, semua berawal dari cinta. Sumpah, Bee. Aku sayang banget sama kamu, aku nyaman, aku cocok sama kamu.” Lanjutnya.


“Jadi, kamu gak cinta sama dia? Gak cinta bisa sampai hamil, ya? Hahaha kamu lucu ya, Mas.”


“Ngak gitu, Bee. Aku juga gak tau gimana ngomongnya. Dia selalu ada, lama-lama aku ...”


“Selalu ada?” Berarti, aku selama ini gak ada dong?”


“Waktu kamu sakit, satu minggu di rumah sakit, itu bukan aku ya? Waktu kamu di tipu, sempat masuk ke penjara, yang menjaminmu bukan aku ya? Alasanmu clasik banget sih?” Zahra menoleh, menatap mata Abram yang terlihat cukup bersalah.


“Kalau kamu sudah merasa nyaman dengan dia, ceraikan aku dong mas. Kamu juga jangan egois. Menahan kebahagiaanku demi kebahagiaanmu.”


“Aku sayang sama kamu, Bee. Aku gak bisa.” Abram meraih tangan Zahra, tapi di tepis begitu saja.


“Kalau begitu ceraikan dia!”


Abram langsung menegakkan punggungnya. Permintaan Zahra terdengar egois baginya. Bagaimana pun, wanita itu istri pertamanya, meski dia menikah siri.


“Bee, dia lagi hamil. Kamu jangan egois gitu dong.”


Mendengar Abram mengatainya ‘egois’ Zahra jadi tersenyum licik. Menyadari sesosok suami yang dia pikir, dulu sangat bijaksana. Namun nyatanya, penuh tipu daya.


“Hamil! Wah selamat, kamu bakal segera jadi ayah.” Zahra tersenyum, bahkan bertepuk tangan.


“Aku gak lagi hamil nih. Jadi bisa lah ya, aku mengugat cerai suamiku?” Ia menoleh melihat Dean, lalu sengaja meninggikan suaranya dan berkata, “Bener gak, Mas Pengacara?”


Abram seketika berdiri dari kursinya. Memandangi Zahra dengan amarah yang terukir jelas di wajahnya.



Alibinya Abram bisa di terima gak nih??


Hari ini satu bab dulu lah ya.


Tapi kalau othor dapet sajen kopi, Vote, atau kembang, bisa lah di lanjut 🤭🤣🤣


Buat yang baru ngikutin othor, jangan kaget kalau othor suka semedi dan ngepet buat bisa UP banyak.


Jadi jangan heran kalau suka malak minta sajen 🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2