
...Zahra Pov...
“Waalaikum’mussalam, iya, Ma?”
“Zahra ada di mana?”
“Lagi cari ruko. Kenapa, Ma?”
“Loh, loh, ruko apa, Nak? Buat apa?”
Bisa ditebak dengan baik, mama mertua memang selalu cerewet dalam segala hal. Namun, dia cukup baik dari berbagai sudut. Bahkan sampai detik ini, saat surat gugat sudah keluar, dia masih begitu baik.
“Mau cari buat buka kantor, Ma. Zahra mau coba buka kantor desain interior kecil-kecilan gitu. Sekalian buat tempat tinggal.”
“Kenapa ngak bilang dari awal? Mama ada satu toko di Malang Square, Zahra pakai aja.”
Baik banget, gila!
Terlalu baik sampai aku sendiri speechless
“Ngak perlu, Ma.”
“Gak boleh nolak. Nanti mama telfon Pak Rudi, biar dia yang nganterin kamu buat liat-liat. Oh, mama sampe lupa, tadi mama udah telfon agen penjualan, kemungkinan besok atau lusa bakal ke rumah, kamu ada waktu kan, Nak?”
Mama kenapa cepet banget sih geraknya?
Aku belum sempet bernapas loh, belum sempet pindahan juga.
“Zahra, hallo ... hallo?"
“Oh, iya iya. Zahra bisa kok, Ma."
“Ya udah, kalau gitu, mama telfon Pak Rudi dulu ya.”
Seperti itulah, panggilan di antara kami berakhir. Meninggalkan beban sebesar gunung, juga pikiran yang makin kusut mirip kain baru keluar dari mesin pengering.
Argh! Aku kudu pie?
(Aku harus gimana?)
Mau ambil, muka taruh di mana?
Ngak diambil, juga gimana?
“Kenapa? Wajahmu bete begitu?”
Terlalu frustasi sampai lupa, kalau aku masih ada di mobil Dean. Bahkan orangnya pun masih duduk manis di sebelahku. Entah, dia mendengar atau tidak. Aku harap sih engak.
“Ada masalah?”
“Ngak. Mama cuma kasih tahu, kalau besok atau lusa, orang dari agen perumahan bakal lihat rumah.”
“Secepet itu? Kenapa dia gak kasih waktu buat kamu pindah dulu? Sekarang, ruko pun belum dapat.”
Jangan bilang kalau dia salah paham.
“Mama pengen jual, trus uang hasil penjualannya di kasih ke aku, buat beli rumah. Gak usah salah paham gitu deh.”
__ADS_1
“Ra, ini udah 2022. Bulan January aja belum lewat, tapi kamu masih ada di mimpi yang sama.”
Ngomong apa sih dia?
“Omongan orang, jangan mudah di percaya. Pagi kedelai, sore bisa jadi tempe. Iya kalau di kasih ke kamu? Kalau engak? Kamu mengharap gitu?”
Great! Bener juga yang dia bilang.
Ini sudah zaman 2022, siapa orang yang bisa memegang janjinya dengan baik. Terlebih, aku sudah mengugat cerai anaknya.
Tapi, mama ....
Ah, sudahlah.
Yang terpenting sekarang cari ruko.
“Ayo, masih ada satu ruko yang belum di lihat!” Ajakku.
Jarak dari ruko yang keempat menuju ke lokasi kelima, rupanya tak terlalu jauh. Aku pun tak sadar, sudah berapa lama berkendara. Rasanya, aku baru minta pendapat pada Dania lewat pesan whatsapp, tapi mobil sudah berhenti begitu saja.
Harapanku tak banyak di tempat yang ke lima ini. Dari segi lokasi sih cukup baik, dekat kota dan jalanan cukup ramai. Bangunan juga terlihat masih baru. Dari semua itu, aku bisa tebak kalau harganya pasti lebih mahal dari sebelumnya.
“Sudah lah, kita balik aja ke kos.” Ajakku yang sudah mulai bad mood.
“Kenapa? Gak cocok? Tempatnya kurang oke?”
“Bukan. Justru karna semuanya oke, aku khawatir tentang harganya. Pasti bakal lebih mahal.”
Dia membuka pintu, berjalan dengan santai memutar dan kemudian membuka pintu ku.
“Ngak! Aku gak mau kecewa.”
Tanpa basa basi, dia menarik tanganku begitu saja. Memaksaku turun dan masuk ke dalam. Baru saja turun, tiba-tiba seorang lelaki muda datang mendekat.
“Mas Dean ya?” Sapanya.
“Oh iya. Dengan mas siapa ya?”
Seperti biasa, dia selalu ramah dengan siapa pun. Aku tak berpikir banyak, mungkin lelaki itu salah satu teman atau kenalannya.
Rasanya aku ingin kabur, tapi, dia memegang tanganku cukup erat.
“Oh, ini punya Mas nya? Aku dapet info dari Bu Rahma.”
“Iya, itu kakak saya. Ngomong-ngomong, makasih sudah mau bantu kakak saya ya, Mas. Eh, mau lihat-lihat dulu?”
“Boleh-boleh!”
Tanpa bertanya, dia kembali menarik tanganku untuk masuk ke dalam. Melihat suasana yang terlihat cukup rapih, membuat moodku seakan kembali seketika.
“Ini kenapa masih ada meja dan kursi, Mas?” Tanyaku penasaran melihat dua meja kerja lengkap dengan kursi yang terlihat baru. Bahkan, kursinya masih terbungkus plastik.
“Oh, ini dulu bekas kantor Ikatan Dokter Indonesia. Kebetulan, kakak saya yang mengurus.”
“Kok di tinggal, Mas?”
“Sengaja, Mbak. Kakak pindah ke Medan. Kebetulan ini barang kakak sendiri yang beli. Jadi sengaja di tinggal.”
__ADS_1
Wah, mantap nih kalau boleh di sewa dengam mejanya sekalian. Uangku mungkin bisa di hemat.
Eit ... harganya berapa dulu tapi?
“Berapa pertahunnya, Mas?”
“Saya sih ngak ambil banyak ya, Mbak. Tiga puluh lah, tapi kalau mbak mau langsung sewa 5 tahun, saya kasih seratus.”
Degh!
Tawarannya ajib banget!
Tapi di rate segitu, uang tabunganku ngak cukup.
“Gak bisa kurang nih?”
“Dua tahun 50 deh, Mbak. Di atas juga masih ada beberapa perabotan lagi soalnya. Ngak banyak sih.”
“Oh, ya?”
Karena penasaran, kami pun naik ke lantai dua. Ke dua lantainya memiliki kamar mandi sendiri, tapi di lantai ke dua ini terlihat agak spesial. Kamar mandinya terlihat lebih luas, bahkan ada kitchen set pula.
Sebenernya, ini dulu bekas apa?
“Dulu saya bikin ini rencana memang buat tempat tinggal sama bisnis gitu, Mbak. Jadi ada banyak barang rumah tangga di sini. Jalan setahun, bisnis berjalan pesat, jadi cari tempat yang luas."
“Harga segitu bisa sewa plus perabot juga?”
“Boleh kalau Mbaknya mau. Lagi pula, saya juga ngak ada tempat buat nyimpen barang-barang.”
Wah, aku nemu emas nih?
Ruko dua lantai plus rooftop, luasnya saja udah oke banget. Belum lagi, tempat yang stategis.
“Empat puluh, saya ambil dua tahun, langsung bayar hari ini. Gimana, Mas?”
“Ahh itu ....”
Sepertinya tawaranku agak keterlaluan. Kalau misalnya dia menolak, mungkin aku bisa tambah lima juta lagi.
“Oke deh, Mbak.”
Serius?
Ini beneran?
Aku bisa dapet harga segitu!
“Kalau gitu, aku bikin kontrak sewa dulu ya, Mbak,” ucapnya lalu pergi keluar.
“Dia lepas harga murah, menurutmu, yang punya ini agak gila gak sih? Dia gak mau duit.” Tanya ku pada Dean yang hanya nyengir kuda dengan ekspresi datar.
Vote Vote Vote
Jangan sampai lupa
__ADS_1