
Sampai pada detik terakhir, ponsel Abram juga tak kunjung aktif. Beruntung, Zahra mengambil keputusan bijak dengan menghubungi ayahnya. Sehingga operasi dapat berjalan tepat waktu.
Mengingat Mulan mempunyai dua anak yang tidak bisa ditinggal terlalu lama, dia pamit pulang lebih dahulu. Sekarang, hanya tinggal Intan dan Dania yang masih cemas menunggu.
“Dan, kamu tidur aja gih. Matamu sayu gitu.” Intan sedikit khawatir melihat Dania yang kelelahan.
“Percuma, nanti juga gak bisa tidur. Aku khawatir banget sama dia.”
“Si Abram beneran belum bisa di hubungi?” Nada bicara Intan sedikit meninggi.
“WA belum ceklis dua. Liat aja entar, bakal ku maki-maki kalau aktif. Bisa-bisanya loh.”
“Perasaanku gak enak. Dia beneran nyleweng gak sih? Feelingku gak enak.”
Mereka berdua hanya mampu menebak-nebak. Entah itu benar atau salah. Kata orang, firasat seorang wanita itu, hampir 99 persen selalu tepat. Namun kali ini, mereka berharap di angka 1 persen.
Tak lebih dari satu jam sejak Zahra masuk ke dalan ruangan. Dua perawat mendorong hospital bed, keluar dari ruang operasi.
“Bu Zahra di bius total, jadi masih belum sadar.” Jelas perawat yang mendorong hospital bed.
“Kapan kira-kira, Sus?” Dania mencoba bertanya.
“Kalau kata dokter, setidaknya dua sampai tiga jam. Tadi sempat di tambah lagi biar pasien bisa istirahat.”
Dua wanita itu hanya manggut-manggut usai mendapat penjelasan. Setelah sampai di kamar inap VIP yang mereka pesan, perawat memberi beberapa petunjuk perihal tindakan pascaoperasi.
“Kalau ada perlu langsung pencet bel aja ya, Mbak. Saya permisi dulu.”
“Makasi, Sus.”
__ADS_1
Setelah bergulat semalaman, akhirnya Dania bisa menghela napas lega. Begitu leganya sampai langsung menjatuhkan diri di sofa.
“Aku merem dulu deh. Nanti kalau WA si Abram ceklis 2, langsung bangunin aku.” Pinta Dania.
Benar saja, belum ada lima menit setelah Dania terlelap. Intan sekuat tenaga menggoyang tubuhnya sembari berbisik lirih.
“Dan ... Dania. Abram calling, buruan angkat!”
Mendengar itu, mata Dania yang terlanjut berat tiba-tiba terbuka lebar. Ia terperanjat bangun dan langsung mengambil ponsel Zahra. Tak mau menganggu Zahra, ia memilih pergi dan mencari tempat yang kiranya sepi.
“Hei, berengseek. Selingkuh sampe lupa waktu ya kamu!” Hardik Dania mengeluarkan segala kekesalan yang semalam sudah menumpuk. Umpatan seorang wanita seperti bom tanpa waktu, radiusnya bisa bertitik hanya pada satu arena. Namun suaranya bisa mengguncang seluruh sudut. Begitu juga saat Dania tanpa henti menghardik dan mengatai Abram.
“Tau gak, telat dikit aja, kamu gak bakal bisa ketemu Zahra lagi!”
Alih-alih mendengarkan ocehan Dania dan menerima kesalahan, Abram justru memaki teman istrinya. Kesal, jengkel, merasa di rendahkan, mungkin seperti itu yang Abram rasakan.
“Bisa diem gak! Lo gak tau urusan gue sebanyak apa kan? Carger hp aja aku gak sempet. Buang air apa lagi. Loe taunya cuma ngomong gak jelas!” bentak Abram terdengar kesal.
“Tau apa sih? Ngomong asal ceplak aja. Gue ada di situ, gue gampar muka Lo! Mana Zahra, gue mau ngomong.” Nada bicara Abram terdengar sedikit berat dan galak.
“Ngapain cari Zahra? Gak telat tuh?”
“Gue gak mau urusan sama orang gak penting. Kasih hpnya ke Zahra!”
Belum cukup amarah Dania tersalurkan, meski Abram sudah di buat jengkel seperti itu. Pada akhirnya, Dania tak memberikan ponsel kepada Zahra. Ia lebih memilih mengakhiri panggilan begitu saja. Kejadian semalam membuat hatinya cukup sakit, bagaimana tidak? Ia melihat sahabat baiknya masuk ke ruang operasi, menghadapi rasa sakitnya sendirian, sedangkan suaminya ...?
Dania menghela napas panjang beberapa kali, mencoba menahan sisa amarah yang sudah sampai di ubun-ubun. Setelah perasaannya lebih baik, ia kembali ke kamar. Betapa terkejutnya dia saat melihat Zahra sudah bangun dan langsung menatap ke arahnya.
“Ra ... udah baikan?” Dania mencoba basa-basi.
__ADS_1
Zahra mengangguk pelan, tanpa bicara, tanpa berkomentar lebih panjang. Dia juga tidak menayakan keberadaan ponselnya, dan lebih memilih menonton televisi. Dania dan Intan tahu dengan baik, mata Zahra memang terlihat fokus ke layar. Namun, sebenarnya tidak sepenuhnya. Dia, melamun.
“Ra ....” Dania berjalan mendekat, lalu duduk di kursi yang ada di sebelah Zahra.
“Aku ... aku minta maaf. Aku lancang, sudah menjawab panggilan dari Abram tadi. Juga ....”
Dania menelan salivanya kasar. Mengumpulkan segenap keberanian untuk mengatakan apa yang baru saja terjadi.
“Sumpah, Ra. Aku udah gak tahan, aku gak teha liat kamu semalam. Jadi ... jadi aku memarahi Abram, aku mengatainya banyak hal.”
“Ra ... sory. Kamu boleh marah, boleh tampar aku.”
Zahra tersenyum tipis, dan memaklumi tindakan Dania. Namun karena Zahra tak ingin Abram memutuskan hubungan mereka, Zahra meminta Dania untuk meminta maaf.
“Gimana pun dia suamiku, dia imamku. Maaf udah ngrepotin kamu, udah buang waktu kamu, udah ...”
“Stop ... stop!” Potong Dania.
“Ra, kita temen, udah sepuluh tahun. Kamu ada waktu aku sakit sendirian di kosan. Kamu bantuin aku waktu aku lagi butuh. Gak masalah soal aku yang sekarang di sini.” Jelas Dania menahan air mata yang hampir tumpah.
“Aku cuma sakit hati. Kamu diperlakukan seperti itu sama Abram. Jelas-jelas dulu kamu anak semata wayang yang manja. Aku gak terima, Ra.”
Intan mencoba menenangkan Dania. Beberapa kali mengusap punggung temannya yang bicara sesengukkan.
“Minta maaf sama Abram? Aku gak bisa, maaf!”
Dania berdiri dan pergi begitu saja. Meninggalkan Zahra yang dia mematung tak ada respon. Intan yang berada di tengah suasana juga terlihat canggung.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
__ADS_1
Jangan lupa untuk meninggalkan komentar yang baik dan bijak. Jika suka, jangan lupa like dan masukkan ke daftar Favorit. Jika tidak, Anda bisa langsung meninggalkannya.