
"Sudah puas nangisnya?” Jordhan menyodorkan beberapa lembar tisu yang dia ambil dari mobil, lalu menyodorkan pada Zahra.
“Sory, udah buat kamu liat semua ini.” Zahra mengambil tisu, dan mengusap air matanya.
“Mau jalan? Nenangin pikiran?”
Zahra menggeleng. Ia lebih memilih menemani Dean yang masih mendonorkan darahnya. Jordhan tak memaksanya, ia bahkan membantu Zahra mendorong kursi roda dan kembali ke ruang IGD.
“Thanks, ya. Aku gak tau harus berterima kasih kek apa sama kamu,” ucap Zahra saat membawanya masuk ke IGD.
“Kenapa kamu bantu mereka? Ah ... sory, aku gak ada maksud ikut campur.”
“It’s oke. Kamu juga udah ngerti sebagian kan.” Zahra tertunduk, melihat botol isotonic yang di berikan Jordhan tadi.
“Apa aku terlihat bodoh? Disakiti begitu tapi masih mau donorin darah.”
“Aku pikir, kamu punya alasan.” Jordhan terlihat santai menanggapi Zahra.
“Dia hamil, ada nyawa yang gak bersalah di dalam rahimnya. Aku gak bisa kalau udah menyangkut soal anak. Lagi pula, karena kejadian ini aku jadi tau siapa yang dia cintai.”
“Selalu ada pelajaran di setiap tindakan, begitu kah?”
Zahra terkekeh pelan. Tak terasa, mereka sudah sampai di depan ranjang Dean. Tepat saat mereka tiba, perawat baru saja melepas jarum yang ada di tubuh Dean.
“Sudah selesai bicara sama dia? Dia gak ngapa-ngapain kamu kan?” Tanya Dean saat melihat Zahra ada di hadapannya.
Zahra menggelengkan kepalanya. “Besok, aku mau pergi ke rumah orang tua Mas Abram. Mau jelasin situasi yang terjadi, juga ....”
Perkataan Zahra terputus sejenak.
“Bahas soal perceraian.”
__ADS_1
Kebahagiaan Dean tak dapat di tutupi. Beberapa kali senyumnya lepas tanpa kendali. Zahra terlihat tak keberatan dengan kelakuan konyol Dean. Bahkan dia juga ikut tersenyum, seakan melepas beban yang selama ini ada di pundaknya.
“Kamu bahagia, Dean?” tanya Zahra.
“Sory, sory. Aku cuma senang kamu bisa lepas darinya. Setidaknya, aku gak liat kamu nangis lagi.”
“Kamu tau dari mana aku di sini?”
“Dania yang kasih tau. Dia baca pesanmu.”
“Sudahlah, ayo pulang. Aku lapar.” Ajak Zahra.
Dia terlihat jauh lebih tenang dari biasanya. Meski kata cerai baru saja di ucapkan suaminya, sepertinya hal itu tidak mempengaruhi moodnya. Jordhan menawarkan diri mengantar mereka, mengingat tubuh Dean yang masih lemah. Pada awalnya, Dean menolak. Namun saat melihat Zahra yang sudah lelah. Keputusannya akhirnya berubah.
“Aku langsung balik dulu,” ucap Jordhan begitu mobil yang ia kendarai sampai di depan lobi apartemen.
“Ngak mau ngopi dulu?”
Dean terlihat tak suka, saat melihat Zahra terlalu akrab dengan orang lain, terutama lelaki. Namun, kabar tentang perceraian Zahra, mampu menekan segala mood jeleknya.
“Kenapa mau diantar dia?” tanya Dean saat mereka berjalan.
“Posesifmu kambuh lagi? Kenapa kamu susul aku? Aku udah bohong tentang mama kamu!”
“Aku udah bicara sama mama.”
Kaki Zahra seakan lemas tak bertenaga. Seperti tersengat listrik, hingga membuat tubuhnya kelu. Ia melirik, menatap Dean seakan tanpa ekspresi kesal atau kecewa.
“Mama gak sehat kayak dulu lagi. Dia juga mau minta maaf sama kamu.”
Perasaan Zahra makin kacau mendengar penjelasan Dean. Banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan. Semua berkumpul dalam mulut, hingga binggung, pertanyaan mana yang keluar lebih dulu.
__ADS_1
“Kamu maukan, maafin mama aku?” Dean menoleh, memandang Zahra di bawah sinar lampu di dalam lift yang cukup terang.
“A-aku gak tau. Aku gak paham ucapanmu.”
“Kabar tentang kakakku yang kawin lari, membuat mama shock, dan terkena stroke. Mungkin, mama udah dapet pelajaran dari sana.”
Raut wajah Dean seakan tanpa beban, menceritakan kisah yang bahkan Zahra sendiri cukup terharu mendengarnya.
“Sekarang, gimana?”
“Jauh lebih baik. Mbak Sera udah pulang, pelan-pelan mama juga membaik. Sekarang udah bisa ngobrol meski kadang gak jelas.” Senyum Dean terukir jelas. Ada wajah bahagia di sana. Entah karena salah paham diantara mereka telah selesai. Atau, kabar tentang mamanya yang mungkin sudah memberi mereka restu.
“Kamu mau ketemu sama mama?”
Tanpa terasa pembicaraan tentang keadaan Dean, mengantar mereka sampai ke depan pintu. Zahra tersenyum, sembari membuka pintu.
“Aku selesaiin masalahku dulu, boleh?”
“Eem, iya.” Dean mengangguk dengan cepat. Seperti anak kecil yang di beri janji manis.
“Mau makan gak? Aku lapar."
Cinta, perasaan yang sukar di jabarkan, yang tidak tahu tempat untuk singah. Beruntung, kalau mencintai seseorang yang masih sendiri. Tapi bagaimana jika kamu mencintai seseorang yang salah. Istri orang misalnya?
Cie Cie, yang udah dapet sinyal dari Zahra
Senyummu membunuhku bang Den 🤣🤣🤣🤣
Vote jangan lupa. Kembang dan Sajen apa lagi
__ADS_1
Othor otw semedi lagi nih.