Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 19


__ADS_3

“Aku ngantuk, Mas. Semalam gak bisa tidur!”


“Tapi kamu kan bisa WA aku, Bee. Aku nunggu kamu di Bandara hampir satu jam!”


“Kenapa? Aku chat kamu dari semalam juga kamu gak respon, malahan gak terkirim. Hp semgaja kami matiin, Mas? Oh ... atau lagi sibuk sama yang lain?”


Zahra baru terlelap beberapa jam usai keluar tadi pagi. Tiba-tiba saja, Abram pulang tanpa memberi kabar. Berniat meminta Zahra menjemputnya di bandara, ponsel Zahra justru di matikan dengan sengaja. Alhasil, dia pun harus naik taxi untuk pulang.


Raut wajah Abram terlihat cukup kesal dan marah. Berkali-kali di hubungi, tetapi ponsel istrinya justru di matikan begitu saja. Terlebih lagi, Zahra menuduh Abram telah sibuk dengan yang lain.


Ditendangnya koper hitam kecil yang berada di sisi Abram, hingga terlempar dan menghantam tembok.


“Ngomong apa kamu ini? Lama-lama tambah ngaco tau ngak?”


“Loh, Mas kok sewot? Memang aku bilang Mas sibuk sama wanita lain? Engak kan? Pelerjaan, proyek, bahkan mimpi ... termasuk hal lain kan? Kenapa jadi sewot sekarang?”


Abram menelan salivanya kuat-kuat. “Ya ... gimana gak sewot. Baru pulang langsung di todong pertanyaan seperti itu.”


“Memang, Mas merasa? Merasa sibuk sama cewek lain?”


Dahi Abram berkerut, lalu cepat-cepat menjawab. “Ngawur kamu!” Nada yang terdengar gugup, membuat Zahra semakin yakin kalau suaminya sedang menutupi sesuatu.


“Lalu, sibuk sama apa? Sampai WAku gak kamu balas? Di telfon aja mati loh nomer kamu? Sibuk sama apa coba? Kerjaan? Proyek? Atau sibuk tidur?”


“Yah ... yah seperti itu. Abis keja, capek terus tidur. Lagian, kamu kenapa malah matin Hp sih tadi?”


Zahra sudah cukup lelah. Tidurnya kurang, tubuhnya capek, hatinya lelah, sekarang pikiran pun bertambah banyak. Mendengar Abram yang berkelit lidah membuatnya eneg. Ia buru-buru masuk ke dalam kamar dan melanjutkan tidurnya.


“Bee ... Bee ... Mas baru pulang, buatin teh kek, kopi kek. Kamu malah tidur!”


Ia menutup telinganya dengan bantal. Tak lagi ingin mendengar suara suaminya untuk sekarang ini. Dia sudah terlalu lelah.


Zahra terbangun menjelang magrib. Matanya masih terlalu engan untuk terbuka. Namun keadaan memaksanya untuk segera bangun. Seberapa lelahnya dia, dia masih seorang istri yang harus melayani suaminya.


Baru saja berjalan ke dapur, Zahra mendengar suara suaminya sedang tertawa renyah. Rupanya, suara itu berasal dari taman yang ada di belakang rumah.


Lagi ketawa sama siapa dia?


Penasaran, Zahra mencoba mengguping pembicaraan Abram.


“Iya, minggu depan ... dua, tiga hari lah ... sama tante Ve juga ... jaga diri, ya.”


Melihat Abram mematikan ponsel, Zahra buru-buru kembali ke dapur. Lalu, mengambil panci dan pura-pura sedang masak air. Begitu Abram masuk dan melihat Zahra di dapur. Ia terkejut sesaat.


“La-lagi apa, Bee?”


Mulut Zahra seakan cekat tak dapat terbuka. Pikirannya rancau, banyak praduga yang menyapa dia.


“Buat kopi!” Serunya mencoba bicara.


“Kebetulan, Mas juga mau, ya.”


Ada perasaan aneh yang terasa begitu menyakitkan. Membuat jantungnya mengebu-gebu tak karuan. Tangannya menjadi semakin dingin dan basah.


Satu cangkir kopi telah selesai di sedu. Zahra membawanya ke ruang tengah, dimana Abram sedang menikmati laga sepak bola. Hati-hati ia menaruh di atas meja. Selesai itu, ia pun berajak pergi. Namun, tangannya di cekal Abram. Ia menarik tangan Zahra, membuatnya duduk di sampingnya.


“Aku mau mandi!” Zahra berusaha melepaskan diri, tetapi Abram tak mau.


“Nanti aja. Kamu masih wanggi kok.”


“Kamu pake parfun baru ya?”


Pertanyaan Abram yang tiba-tiba membuat Zahra terheran. Jelas-jelas Zahra memakai parfum yang sudah lama ia kenakan. Kenapa bisa Abram bilang parfum baru?

__ADS_1


Zahra cepat-cepat menepis tangan Abram, lalu berdiri dan langsung pergi.


Kecurigaan Zahra semakin menjadi, setelah mendengar Abram bertanya tentang parfum. Dia ingin sekali menghubungi Dean dan meminta bantuannya. Namun, menghubungi Dean saat Abram ada di rumah, sangat tidak nyaman.


Pada akhirnya, Zahra mencari ide agar bisa keluar dari rumah dan menghubungi Dean. Usai Solat magrib, ia langsung mengambil kunci sepeda motor dan hendak pergi. Abram yang melihat langsung melepar pertanyaan.


“Mau ke Indimart sebentar.”


Zahra segera memacu gas dan pergi. Ia berhenti di sebuah taman yang ada di depan kompleks. Lalu, menghubungi Dean. Zahra ingin memberi tahu Dean tentang keputusannya.


“Iya, aku siap dengan resiko apa pun. Please, bantu aku!”


“Ngak perlu memohon. Aku bantu kamu, kok.”


Dean meminta beberapa petunjuk agar dia bisa mencari beberapa bukti. Juga mencari wanita itu. Zahra pelan-pelan menyebutkan kejanggalan-kejanggalan yang terjadi.


“Kamu awasi dia. Terutama saat dia pergi bisnis. Mungkin, kamu bisa mendapatkan kontak di ponselnya?”


“Kalau itu, aku pikirin caranya.”



Waktu berjalan seperti biasanya. Selama tiga hari ini, Abram bersikap normal layaknya suami yang setia. Dia bahkan membantu Zahra mengerjakan pekerjaan rumah. Meski, sesekali ia harus menghadap laptop untuk bekerja. Namun, waktunya banyak di habiskan bersama istrinya.


Bahkan, kemarin ia sempat ajak Zahra pergi ke taman bermain untuk jalan-jalan. Hampir tidak ada celah yang dapat di temukan Zahra. Semua tampak normal, bahkan saat mereka berhubungan seperti biasanya.


“Tumben, cepet banget keluarnya, Mas?”


“Kamu makin hebat, Bee.”


Lima hari berjalan seperti biasanya. Pertahanan Zahra perlahan kendor. Banyak kemungkinan yang ia yakini saat ini. Terutama, kemungkinan jika kecurigaannya selama ini salah. Sampai suatu pagi sesudah adzan subuh berkumandang.


Ponsel Abram berdering beberapa kali. Nomer cantik yang tak tersimpan di kontak, beberapa kali menghubungi Abram. Lelah dengan bunyi dering, Zahra mengambil ponsel dan bertanya pada Abram yang sedang mandi.


“Siapa?” Teriak Abram dari dalam.


“Gak ada di kontak. Nomernya cantik, 991111 ...”


Abram seketika membuka pintu kamar mandi, lalu mengambil ponsel dari tangan Zahra. Melihat respon sang suami, Zahra lancang menguping.


“Kok bisa? Aku kesana!”


Teriakan dari dalam terdengar jelas meski Zahra tak menempelkan telingganya di pintu. Ia masih bertanya-tanya, siapa kiranya yang menghubungi Abram?


Pikirannya masih mencari, saat tiba-tiba pintu kamar mandi itu di buka. Abram terkejut melihat istrinya masih berdiri di sana, dan reflek berteriak.


“Lancang!”


Teriakan Abram membuat tubuh Zahra seperti di pukul mundur kawanan gajah. Dia benar-benar tidak menyangka, Abram akan membentaknya begitu keras, hanya karena dia mengguping.


Melihat Zahra ketakutan sampai air mata keluar dari sudut mata, Abram merasa bersalah. Ia cepat-cepat memeluk istrinya dan meminta maaf.


“Maaf, maaf. Mas kaget banget liat kamu pake mukena berdiri di depan pintu begitu.”


Hati Zahra terlanjur remuk. Dia tak mau mendengar segala pembelaan Abram, dan pergi begitu saja, masuk ke dalam kamar. Selesai menunaikan solat subuh, Zahra melihat Abram berkemas lagi. Dia engan untuk bertanya, lalu pergi ke dapur membuat teh.


“Bee, Rolan jatuh dari tangga. Aku ke Jakarta, ya?”


“Oke.” Jawabku singkat.


“Kamu ... gak tanya gitu?”


“Tanya apa? Tanya kenapa bisa jatuh? Atau ... kenapa ke Jakarta? Rolan selama ini tinggal sama mama di Bandung kan?”

__ADS_1


Bibir Abram menciut seketika. Keningnya berkerut, tetapi dengan santainya ia membuat alibi.


“Dia jatuh di rumah tante Ve. Udah seminggu main di sana, nemenin om jaga toko.”


“Oh ....” jawab Zahra singkat sambil sibuk menggoreng ayam.


Zahra menaruh teh di atas meja, lalu mengambil nasi dan mulai menikmati sarapnnya. Abram yang sudah siap dengan koper, datang menghampiri Zahra. Melihat Zahra makan dengan lahap, Abram pun bertanya.


“Goreng cuma satu aja, Bee? Buat mas mana?”


Zahra seketika meletakkan sendoknya dengan kasar. “Minggu lalu kamu bilang gak bisa makan terlalu pagi kan? Ya aku masak sendiri lah mas. Nanti di masakin gak di makan, mubadzir!”


Abram tak dapat mengelak usai mendengar pembelaan Zahra. Ia mengambil teh yang masih panas lalu menyeruputnya cepat-cepat. Seketika, lidahnya melepuh.


“Bikin teh panas banget sih?”


Amarah Zahra terukir jelas di keningnya. Sontak ia bangkit berdiri dari kursi.


“Serba salah ya, Mas? Selama ini kamu selalu minta di bikinin teh panas. Panas-nas.”


“Iya itu kalau dirumah, ini kan mas buru-buru kejar penerbangan. Masa iya kamu gak peka?”


“Aku, gak peka? Lagi pula, siapa yang tiba-tiba bilang mau pergi mendadak? Siapa juga yang gak kasih tau pesawatnya jam berapa? Siapa coba?”


Abram mengambil air putih, meneguknya cepat-cepat lalu meletakkan gelas dengan kasar.


“Kamu kenapa sih? Ngajak ribut mulu tiap mas berangkat kerja? Aku cari duit ya buat kamu!”


Zahra memutar mata kesal. “Oh, jadi kamu merasa berat? Aku beban buat kamu mas?”


“Ngawur! Terus aja ngomong ngawur. Lama-lama aku pulangin kamu!”



Abram


Leo, 31 Tahun


Bos Kontraktor yang sering keluar kota


Suami Zahra


...☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘...


Sudah Like belum?


Sudah di jadikan Favorit belum?


Sudah Vote belum?


Buruan!!!


Semuanya GRATIS tanpa dipunggut biaya!


Bilang sama admin kalau di punggut biaya!!


Gimana-gimana?


Kalau tiba-tiba doi bilang begitu?


Othor jadi pengen nyanyi ....


Pulangkan saja .... aku pada ibuku .... wouwooo ...

__ADS_1


Lanjut gak nih? lanjut ngak?????


__ADS_2