
...Zahra Pov...
Dia tertunduk sangat dalam, bahkan saat pengacaranya datang dan menepuk pundak, dia sama sekali tak bereaksi. Mungkin, ini menjadi satu pukulan hebat dari mama yang langsung mengenai hati juga pikirannya.
Aku pula tak menyangka, tindakan mertuaku akan sekeras ini. Padahal dulu aku pernah berpikir, ia mungkin akan menyalahkan aku atas ketidak becusan dalam menggurus suami.
Yeah, karena banyak kasus, perempuan lah yang menjadi target amukan mertua jika suaminya salah.
“Mama denger dari Mbokijum, kamu sekarang tinggal di ruko, bener itu?” Bu Syam masih menggandeng Zahra keluar dari pengadilan agama.
“Kamu juga menolak stand di Malang Square?” Lanjutnya terus mencercaku dengan banyak pertanyaan.
“Maaf, Ma.”
Aku tak berani menatap ekspresi muka mama saat mendengar jawabanku. Namun, tangan yang sudah mulai keriput itu masih melingkar di lengan dengan cukup erat.
“Zahra marah sama mama ya?”
Apa itu sebuah pertanyaan?
Kenapa aku merasa tersudut dengan itu?
“Ma, banyak pasang mata dan telinga yang sedang fokus kepada masalah kami. Zahra cuma ngak mau, Mama ikut jadi bahan perbincangan.”
Mama menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu, lalu menatapku dengan senyum yang menawan. Pelan-pelan, mengambil ke dua tanganku dan mengengamnya erat.
“Zahra memang paling pengertian. Terima kasih, Nak.”
Mama baru mengucapkan beberapa kata, beberapa wartawan sudah datang berkerumun. Banyak yang menanyakan tentang hasil mediasi. Namun banyak juga yang bertanya hubungan antara aku dan keluarga Mas Abram.
“Bunda, sedikit komentarnya tentang menantunya dong?”
“Apa Bunda juga tau hubungan antara anak Bunda dan Mbak Model?”
Sorot mataku langsung tergokus pada Mama. Melihat sosok wanita yang umurnya hampir setengah abad, tapi masih terlihat cantik. Mama berdiri tanpa raut wajah cemas, begitu tenang, dengan senyum tipis yang mempesona.
__ADS_1
“Aku cuma tau dia!” Mama menepuk tanganku. “Dari awal sampai akhir, aku cuma tau, dia lah menantuku. Yang paling baik, yang paling sabar, yang paling cantik.” Lanjutnya sembari menatapku.
“Jadi Bunda tidak mengakui (istri pertama)?”
“Nikahnya mereka saja, saya tidak tau kapan, dan dimana. Gimana mau mengakui?”
Perkataan terakhir mama, menjadi trending di berbagai media. Semua orang terlihat fokus, menyudutkan sepasang suami istri yang sedang berbahagia menantikan kelahiran anak mereka. Sedangkan berita tentangku, perlahan surut.
Berita itu makin heboh setelah media tahu, bahwa Nindira telah hamil. Juga, tentang bocornya form donor darahku bulan lalu.
...Gak tau kenapa, Gue lebih dukung tim Istri Muda. ...
...Fix, kali ini gue belain istri kedua. Gila bener itu si suami....
Beranda sosial mediaku pun penuh dengan dukungan. Bahkan tak sedikit orang yang mengirimiku pesan dan memberiku suport. Mental yang kemarin sempat down, sekarang mulai berangsur pulih.
Dua hari berlalu setelah mediasi yang gagal. Mama yang masih ada di Malang, pagi ini tiba-tiba menghubungiku. Menyuruhku untuk segera ke rumah lama, karena ada hal yang ingin ia bicarakan.
Mobil baru berjalan masuk melewati pos penjagaan. Dari jauh, aku melihat dua mobil terparkir di halaman depan rumah.
Siapa kiranya?
“Assalammualaikum.”
“Waalaikum’mussalam. Sini, Nak. Duduk sini.” Mama melambai dengan senyum riang.
“Kenapa ada Pak RT sama Pak RW, Ma?”
“Jadi gini, ini Bapak dan Ibu Tio, yang akan membeli rumah ini. Kebetulan, hari ini mereka langsung transaksi, katanya udah cocok. Jadi pak RT dan Pak RW jadi saksi.”
Jadi rumahnya laku?
Bagus deh.
Mereka tampaknya tak mau menunggu lama dan langsung setuju dengan harga. Setelah beberapa saat melihat berkas. Mereka pun langsung membayar untuk uang muka.
__ADS_1
“Bu, ini cek lima ratus. Untuk lima ratus lagi, saya transfer ya,” ucap seorang lelaki berkemeja batik sembari menyodorkan selembar cek.
Mama pun langsung menaruh cek di hadapanku. Lalu, meletakkan ponselnya di hadapan mereka. Tak sampai limac menit, seulas senyum pun terukir di wajah mereka semua.
“Bu, saya kirim di lima rekening ya. Dengan nominal seratus. Coba ibu cek dulu,” kata pria muda yang usianya mungkin sama dengan Abram.
“Coba di cek rekeningnya, Nak. Kamu ada mbanking kan?” Seru mama menoleh ke arahku.
Aku gak salah denger?
Mama suruh aku cek rekening?
Kemarin aku mengira, mama mungkin hanya ingin menyenangkan aku sesaat. Mengingat perlakuan yang di lakukan anaknya. Namun saat aku membuka mbanking, betapa terkejutnya aku. Melihat angka nol berjejer cukup banyak.
“Ma, kenapa gak di kirim di rekening Mama aja?” Bisikku lirih.
Namun, mama tidak memberiku jawaban. Ia hanya tersenyum, lalu menjelaskan pada notaris. Bahwa uang tanda jadi sudah di terima.
“Cek ini biar menantu saya yang urus. Kalau sudah cair, saya akan suruh Bu Manda untuk datang ke rumah Ibu dan Bapak.”
Seperti itulah penjualan berakhir. Setelah semua orang pulang, Mama pun langsung memberikan cek senilai 500 juta padaku.
“Zahra yang urus sendiri bisa kan? Mama nanti sore harus pulang. Uangnya langsung masukkan ke rekening Zahra aja.”
“Tapi ini kebanyakan, Ma.”
“Zahra, selama Abram menikah, dia belum bisa memberikanmu tempat tinggal. Tanah yang seharusnya di bangun rumah, justru ia jual untuk modal. Cuma ini, yang mama bisa kasih, jadi jangan menolak.”
Mulutku tak mampu lagi berkata-kata. Aku langsung memeluk mama, mengucapkan banyak terima kasih atas kasih sayang yang ia curahkan.
Satu hal yang aku bisa syukuri dari pernikahan ini, adalah memiliki mertua yang sangat baik. Yang mau menganggap menantunya seperti anak sendiri.
...☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘...
Hari ini agak telat UP.
__ADS_1
Othor lagi sibuk di RL 😪
Dah lah, othor kasih selinggan sebentar sebelum mereka cerai. Jangan lupa sajennya ♡♡♡♡