
...***Penolakan Zahra***...
Zahra menggaruk kening yang sebenarnya tak terasa gatal. Bingung, mungkin satu kata itu dapat menggambarkan ekspresi raut wajahnya.
“Emm ... aku .....”
Belum selesai ia berkata, Jordhan sudah menghentikan dengan mengangkat tangan besarnya. Lelaki itu sepertinya tahu, jika dia akan mendapatkan penolakan dari Zahra. Alih-alih menunggu jawaban menyakitkan, ia berinisiatif untuk mundur selangkah.
“Aku udah telat ya?” Jordhan tersenyum getir, pandangan matanya berubah, menatap Dean yang berdiri di sebrang dengan wajah cemas.
“Sorry, Jo. Aku ....”
“Iya, paham. Aku yang geraknya kurang cepet. Harusnya dari dulu udah kasih sinyal kalau naksir, eh malah ... hahaha.” Jordhan tertawa renyah, sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya.
“Dia!” Ia menunjuk Dean, lelaki dengan tampang sinis di sebrang jalan. “Harus buat kamu bahagia, kalau engak? Aku bakal nyulik kamu, langsung ajak kamu ke KUA.” Nada lelaki itu terdengar sedikit ketus.
Hujan yang sudah mereda sejak tadi, menyisakan sayup-sayup angin yang membawa udara dingin. Mengibaskan rambut panjang Zahra yang tergerai, bersamaan dengan senyum manis yang lepas dari bibirnya, kala mendengar ucapan yang dianggapnya sebagai candaan dari Jordhan.
“Jangan senyum! Aku serius!” Jordhan berkacak pinggang, wajahnya terlihat serius. Namun Zahra, masih menganggap hal itu sebagai candaan belaka.
“Iya, iya, maaf,” ucapnya, tapi masih tersenyum. “Thanks, Jo. Untuk semuanya. Kita, masih bisa berteman kan?"
__ADS_1
Dua pasang mata itu saling memandang untuk sesaat. Tiba-tiba, ada getaran aneh yang muncul di dada Jordhan. Membawa udara hangat yang menjalar melalui peredaran darah.
“Teman? Hengh!" Dengusnya kesal. Namun seulas simpul senyum masih terlihat jelas di wajah wanuta cantik itu.
"Hentikan! Jangan senyum lagi!" Jordhan memegangi dada sambil membuang muka. Memandang senyum Zahra, bagai narkotika baginya. Candu, tapi jika di teruskan, akan menyakiti tubuhnya . Namun, dibalik sikap sok acuh, dia masih meliriknya. Senyum manis di wajah Zahra, yang mungkin tak dapat ia miliki.
“Pulang, pulang dan istirahatlah. Masalah ini, jangan di pikirin, aku yang urus.” Lanjutnya masih membuang muka.
“Sory, Jo. Aku doakan semoga ....” Belum selesai ia berbicara, Jordhan buru-buru mencekal kalimatnya sembari menutup telinganya.
“AH! Jangan ngomong lagi! Percuma, aku gak denger!” Dia pun berbalik, melangkah pergi dengan telinga yang masih ia tutup. Namun, saat berada di ambang pintu, dia berbalik ke belakang.
“Zahra! Inget ucapanku tadi! Aku serius!” Teriaknya sambil menutup satu telinganya, dan tangan yang lain menunjuk Zahra. "Janur kuning belum melengkung, sekali pun melengkung, aku bisa membuatnya lurus lagi!" Lanjutnya sambil melangkah pergi.
“Kenapa? Nyesel gak terima dia?”
Telinga Zahra dapat mendengar dengan jelas. Suara berat yang begitu akrab, membuatnya langsung menoleh. Memandang Dean yang entah sejak kapan berdiri di sampingnya.
"Harusnya gitu, yah gimana lagi. Ada mantan yang baeknya kebangeten, bikin susah move on!" Zahra dengan sengaja mengibaskan rambutnya, hingga mengenai wajah Dean. Lalu, bersikap seakan acuh dan pergi begitu saja.
......Rumah Sakit......
__ADS_1
Seorang elaki dengan kaos dan celana Jeans, berjalan dengan langkah panjang, masuk ke sebuah ruang rawat inap. Kedatangannya yang tiba-tiba, membuat seorang wanita hamil yang tengah terbaring, terperanjat kaget.
"Sejak kapan kamu senekat ini?!" Bentak lelaki itu, dengan ekspresi wajah yang menunjukkan kemarahan.
"Apanya? Aku gak paham kamu ngomong apa?" Ia membuang muka, seakan tak perduli dengan kedatangan lelaki yang masih berstatus sebagai suami.
Abram melemparkan dua amplop berwarna putih dan coklat, hingga jatuh tepat di atas paha Nindira. Dengan wajah merah dan tangan kiri yang mengepal kuat, dia berkata, "Lihat, aku dapat surat panggilan dari kepolisian! Jadi istri jangan nyusahin, bisa gak sih?"
"Istri? Masih inget kalau aku istrimu?" Nada Nindira sedikit meninggi membuat Abram tersudut.
Meski sempat tersudut, Abram tak habis akal untuk menyudutkan Nindira. Menyalahkannya karena tak becus menjaga janin yang masih berusia 32 minggu, hingga membuatnya hampir lahir prematur. Nindira pun tak mau kalah, dia kembali melimpahkan selurub kesalahan kepada Abram. Lelaki yang tiba-tiba menalaknya dan pergi begitu saja tanpa kabar.
...🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿...
Bang Jo jadi sad boy?
Tenang, banyak reader Jomblo yang bisa nampung kok🤭🤭🤭
Yang nunggu karma buat Tante Ve, Om Pras dan para dedenglot laennya ...
Harap bersabar, karma gak seinstan mie gelas yang tinggal di sedu 3 menit.
Bentar lagi bakal terkuak kooo 🤭🤭
__ADS_1
Jangan lupa VOTE!!!!!!! ♡♡♡♡♡♡