
...***Menikmati Senja Bersamamu***...
Dania dan Dean dibuat melonggo dengan ucapan Zahra. Tak percaya, heran, itu pasti. Kelas-jelas beberapa hari yang lalu sudah visum untuk mengugat cerai Abram. Tapi kenapa sekarang berubah?
“Kamu gak lagi bercanda kan, Ra?” Dania pun bertanya berkali kali hanya untuk memastikan, bahwa pendengarannya masih baik-baik saja. Meski saat itu dia berharap, pendengarannya bermasalah.
“Aku tetep bakal cerai, tapi gak sekarang. Kalau aku setuju cerai, otomatis aku mengakui kalau aku pelakor dong?”
“Kamu gak harus korbanin diri juga, Mee.” Dean ikut mengutarakan protes. Menututnya, Zahra terlalu berlebihan dalam mengambil keputusan. Bukan masalah cerai, namun dia tidak ingin Zahra berlama-lama hidup dengan Abram.
“Aku gak ada cara lain. Kalian paham dikit dong. Memangnya ada cara lain?”
Mereka bertiga saling memandang bergantian. Mencoba berpikir cepat dan mencari solusi yang lain. Namun pada akhirnya juga nihil.
“Terus kamu mau gimana sekarang?” tanya Dania penasaran dengan tindakan Zahra selanjutnya.
“Aku tetep di Jakarta. Kamu bisa balik duluan, Nia.” Penjelasan Zahra membuat Dania menggeleng pelan, ingin mengatakan ketidak setujuannya.
“Aku perlu bawa orang tuaku ke sini. Mengajak mereka berkunjung ke rumah besan. Aku ingin tahu, apa mereka tau kalau anaknya punya istri lain?” Zahra tersenyum licik.
"Aku perlu membalikkan keadaan dulu, sebelum mengakhiri semuanya. Lagi pula, aku bilang gak mau cerai kalau dia talak aku. Bukan berarti aku gak bisa gugat cerai dia dong."
Keputusan Zahra sudah bulat. Tiket Zahra di batalkan dan Dania kembali lebih dulu ke Malang. Setelah mengantar Dania ke bandara. Zahra memutuskan untuk pindah apartemen, mengingat Abram yang tahu tempat tinggalnya sementara.
“Gak usah sewa, aku ada satu apartemen deket Blok M. Kamu bisa stay di situ.” Dean menawarkan dengan cuma-cuma.
__ADS_1
“Tinggal sama kamu maksudnya?”
Pertanyaan Zahra membuat Dean tertawa lepas. Dean tak menyangka, kalau mantan kekasihnya ternyata bisa punya pemikiran luar biasa dalam keadaan apa pun.
“Kamu berharap begitu, Mee?”
Zahra menaikkan satu alisnya ke atas. Menatap Dean yang sibuk menyetir dengan wajah serius. Dia bahkan tak bisa membedakan, wajah yang serius itu saat dia berbicara, atau menyetir.
“You joking me?” Pekik Zahra kembali menatap jalanan ibu kota di depannya.
“Aku serius. Aku berharap bisa stay di sampingmu. Tapi dengan ikatan pernikahan.”
Bunga yang mekarang terlihat indah saat musim semi. Namun ketika mekar di musim dingin, itu terlihat aneh. Sama seperti ucapan Dean yang baru saja terselenting di telinga Zahra.
Perkataan itu akan terasa indah dan romantis, jika saja Zahra bukan istri orang.
“Kamu hobi bercanda sekarang.” Zahra mencoba mengalihkan pembicaraan. Takut, jika hatinya goyah dan menimbulkan dosa.
“Oke!”
Zahra tak mau berpikir banyak hal. Terutama tentang dirinya dan Dean, karena dia merasa, hubungannya terlalu rumit di jelaskan. Alih-alih menolak dan meninggikan gengsi, Zahra justru bersikap jujur. Lagi pula, gak ada yang salah hanya karena Zahra tinggal sementara di apartemen Dean yang gak terpakai.
Satu jam berkendara dari terminal 3 bandara Soekarno-Hatta. Mobil yang mereka naiki masuk ke kasawan apartemen. Gedung-gedung tinggi berjejer dengan gagah. Zahra hampir tak bisa mengira, berapa harga satu apartemen di sana.
Dean membawa Zahra naik ke lantai 20. Lantai yang paling spesial karena memiliki luas ruangan yang berbeda. Selain itu, dalam satu lantai hanya ada empat dan punya balkon lebih luas.
Barang-barang di sana rupanya sudah terisi dengan rapi. Dua kamar, dua kamar mandi, ruang tamu, televisi, kitchen set, semuanya lengkap. Bahkan, pengorengan dan mesin cuci pun tersedia.
__ADS_1
“Barang di sini udah lengkap. Kenapa gak di tempatin?”
“Terlalu besar kalau buat sendiri, aku lebih suka kontrakan satu petak.”
“Terus? Kenapa gak di sewain aja?” Zahra berdiri tegak, memandangi pintu balkon yang baru saja di buka Dean. Semilir angin masuk, mengibas rambut panjangnya.
Dean mundur beberapa langkah dan berdiri di belakang Zahra. Menatap gadis yang pernah berbagi kenangan manis dari belakang, di temani semburan cahaya matahari yang terbenam.
...Kamu tau, Mee?...
...Aku dulu pernah punya mimpi sederhana....
...Berdiri di belakangmu seperti ini sambil memelukmu....
...Menikmati senja dengan secangkir teh panas...
...Sederhana, Mee....
...Tapi itu dulu....
...Sekarang, rasanya bukan sederhana lagi....
“Aku beli karna kekasihku dulu suka. Dia suka melihat senja dari ketinggian. Katanya, dia seperti punya kekuatan super, yang bisa menggapai matahari.”
Zahra menoleh, ke belakang. Kontras cahaya senja yang berasal dari luar, seakan memantulkan kecantikan Zahra. Rudup, namun terlihat cantik, aesthetic.
__ADS_1
Udah berapa bab hari ini?
Jangan lupa Vote, biar othor makik semangat.