
...****Dania****...
Satu jam berlalu, akhirnya sesi tanya jawab berakhir. Mereka berhasil mendapatkan surat rujukan untuk melakukan visum di rumah sakit terdekat. Zahra berterima kasih pada Jordhan, karena telah membantunya.
“Kamu harus buru-buru ke rumah sakit. Bekas seperti ini bisa cepat pudar.”
“Thanks, Mas, Bang ....”
“Next time panggil Jo, udah cukup.”
Perjalanan Zahra masih panjang. Keputusan yang ia tempuh adalah garis startnya, dan dia harus terus berjalan sampai di garis finis jika ingin menang.
Dean kembali melajukan kendaraannya, menyusuri kota Jalarta yang sudah gelap. Pergi ke rumah sakit yang sedikit jauh dari kantor kepolisian, mulai menjalani pemeriksaan bersama dokter ahli, hingga tiga jam lamanya.
Wajah Zahra terlihat cukup lelah begitu keluar dari ruang pemeriksaan. Dania bahkan terlihat membopong tubuh sahabatnya itu.
“Ayo cari makan dulu, kamu belum makan apa pun sejak pagi.” Ajak Dean.
Dia tak punya tenaga untuk menjawab, hanya mengangguk beberapa kali. Melihat Zahra seperti itu, Dean tak tega. Ia berniat menggendong Zahra, tapi dia menolak dengan tegas.
“Cukup, Dean! Jangan kelewat batas! Aku masih istri orang!”
Hatinya bergetar mendengar ucapan Zahra. Perlahan ia berbalik, lalu melangkah pergi. Meninggalkan dua orang yang masih berdiri.
“Ra, dia cuma bantuin kamu.”
__ADS_1
“Aku tau, tapi aku gak bisa. Aku takut jatuh lagi, takut gak bisa bangun. Kamu tau sendiri, dulu secinta apa aku sama dia.”
Dania mengangguk, kemudian memeluk Zahra. Mencoba menenangkan perasaan sahabatnya. “Aku ngerti, Ra. Aku ngerti.”
Dania
Dia wanita yang kuat dari dulu. Meski terlihat manja, dia tidak pernah mengeluh tentang apa pun. Bahkan, orang tuanya mengajarinya menjadi putri yang pantang menyerah dan gigih. Kelemahannya hanya satu, dia ... takut sendirian.
Sama seperti dulu, saat masih bersama Dean.
Sekarang, semua seolah kembali kebeberapa tahun silam. Saat dua insan saling jatuh cinta, saling menjaga dan mencintai dengan sepenuh hati. Namun pada akhirnya terpisah karena kesibukan masing-masing.
Ahh ... menjadi bagian dari sejarah mereka, rasanya cukup menyenangkan, juga ... miris.
"Duduk yang baik. Kita udah lapar, jangan mengulur waktu."
Dean selalu punya alasan konyol dan memanfaatkan orang lain sebagai tameng. Namun juga bagus, dengan begitu, sikap egois Zahra bisa dia kendalikan dengan baik. Mereka selalu begitu sejak dulu, bertengkar hanya karena masalah sepele, kemudian baikan juga karena hal sederhana.
Hal yang menjadi penyesesalan hanya satu. Aku tidak bisa melihat mereka menikah dulu. Tapi, masa depan siapa yang bisa menebaknya?
Bahkan malaikat saja tidak tau takdir seseorang. Bukankah begitu?
Kami kembali ke apartemen usai makan malam. Dan, hal yang tak terduga terjadi. Abram rupanya sudah menunggu kami di lobi bawah. Raut wajahnya yang gelisah, kening yang berkerut, bahkan kaki yang tak hentinga mondar-mandir.
__ADS_1
Begitu dia melihat Zahra. Boom, dia langsung bersimpuh memohon maaf. Tanpa kenal gengsi atau malu. Setiap katanya terdengar menyedihkan di telinga orang lain. Namun di telinga kami, sangat memuakkan.
"Bee, aku minta maaf. Aku khilaf."
"Tau aku disini dari siapa?"
"Apa itu penting, Bee?"
"JAWAB!"
Teriakan Zahra menggema, membuat orang sekitar menjadikan kami pusat perhatian.
"Sabar, Ra. Kita omongin di kamar aja yuk"
Zahra menghela napas panjang, lalu memutuskan mengundang Abram naik ke atas. Ketika hendak masuk ke dalam lift, Abram sempat mencekal Dean untuk tidak ikut naik.
"Maaf, kami butuh ruang untuk menyelesaikan masalah."
Dean menatap Zahra yang hanya diam membisu. Pada akhirnya, begitulah cara Zahra mengusir Dean dengan meminjam status sang suami.
Vote mana Vote
Othor butuh asupan Vote
__ADS_1
Like juga jangan lupa 👍👍