Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 40


__ADS_3

Zahra


Dia tidak pernah meminta permintaan yang berlebihan sebelumnya. Dua tahun lebih pernikahan kami, semua serba sederhana. Kopi atau teh setelah bangun tidur, sarapan di atas jam delapan pagi. Semua tertanam dengan baik dalam memoriku.


Dia tidak pernah melarangku bermain dengan teman-temen. Bahkan selalu menambah uang jajan saat dia pergi keluar kota.


Tidak ada yang aneh.


Sampai ... masa itu datang.


Dia datang dengan permintaan konyol. Memohon dengan sunguh-sunguh hanya untuk wanita itu. Seorang wanita yang tiga tahun menikah dengannya, yang di rahimnya tumbuh benih darinya.


Aarrgghh!!!!!!


Mengingatnya saja membuat bulu kudu berdiri.


“Ra ....” Sapa Dania yang baru saja keluar membeli beberapa keperluan pribadi. “Kenapa? Moodmu gak baik?”


“Mas Abram baru saja dari sini.”


Dania baru saja melepas sepatu sambil membungkuk, sontak mendongak ke atas menatapku yang duduk memojok sambil *******-***** bantal.


“A-apa? Kok bisa? Kamu biarin dia masuk? Terus, gimana, kamu gak kenapa-kenapa kan?” Dania terus mencerca berbagai pertanyaan, tak membiarkan ku menjawab lebih dulu.


Alih-alih menjawab pertanyaannya. Pikiranku justru kembali mengingat adegan dengan istri tua suamiku. Jelas-jelas banyak hal yang terjadi dalam setengah jam. Kenapa yang viral cuma sepenggal?


“Menurutmu, video viral kemarin, gimana? Maksudnya, ada yang aneh ngak?”


Dania meletakkan kantong kresek putih ke atas meja. Lalu duduk di sebelahku. Wajahnya terlihat serius, sepertinya, dia juga merasa ada yang ganjal.


“Coba sih, kamu cerita detailnya dulu.”


“Kalian ngobrolin apa?”


Entah berapa lama waktu yang terlewat. Setelah ceritaku selesai, Dean datang langsung membuka pintu yang memang belum sempat di kunci Dania.

__ADS_1


“Jadi gitu. Gimana menurutmu?” tanyaku tak memperdulikan kedatangan Dean.


“Aku baca berita viral kalian di sosmed kemarin.” Dean menyela pembicaraan serius kami, membuatku sedikit jengkel.


“Diem dulu, oke! Kita lagi bahas hal serius!”


“Okey okey! Tapi jangan lama-lama.”


Pandanganku masih fokus menatap Dania dengan wajah seriusnya. Tak pernah ada kecurigaan pada Nindira sebelumnya, karena wajah yang terlihat polos, aku pikir dia ngak mungkin menceranakan hal buruk.


Benar, lagi pula, dia hanya ingin aku cerai.


“Gak tau deh, Ra. Kalau kamu gak cerita, aku ngira kamu pelakor. Tapi setelah denger semuanya ....” Perkataannya tertahan beberapa saat.


“Seperti di sengaja. Gimana menurutmu, Dean?”


“Soal apa? Video Zahra yang viral kemarin?”


Kami mengangguk kompak. Menunggu Dean yang bekerja sebagai pengacara angkat bicara.


“Entahlah. Tapi aku ngerasa memang ada yang ganjal. Lama aku kenal kamu, jahatnya kamu juga gak bakal mau jadi selingkuhan.”


“Menurutmu, Nindira sengaja merekam itu?” tanya Dania.


“Gak bisa bilang iya, tapi arah pemikiranku kesana.”


“Potongan video itu bisa merubah pandangan orang awam. Tujuannya sudah terlihat, dia ingin membuat Zahra mendapatkan citra buruk.” Tambah Dean menguatkan analisaku.


Dipikir-pikir, kenapa?


Apa untungnya?


“Wait! Kamu belum cerita, kenapa Mas Abram kesini?”


“Apa? Abram datang ke sini?” Dean buru-buru mendekat. Menyentuh dagu, menatap wajahku dengan serius. Kemudian mengangkat tangan, seakan sedang memeriksa sesuatu.

__ADS_1


“Kamu gak papa kan? Dia gak main tangan kan?”


Segera ku hempas tangannya begitu saja. “Ngak, aku ngak kenapa-kenapa. Dia datang baik-baik kok.”


Dania sontak berdiri sambil berteriak, “Baik-baik, are you seriously, Ra?”


Kenyataan memang tak bisa ku sangkal dengan mudah. Sejak aku operasi bulan kemarin, kamu memang tidak baik-baik saja. Apa lagi setelah aku mengetahui semua rahasia besarnya.


“Dia minta aku membersihkan nama istrinya. Mengakui yang sebenarnya, kalau Nindira istri pertamanya.”


Istri?


Cih!


Menyebut wanita lain sebagai ‘istri’ dari suamiku, rasanya cukup mengelikan.


“Gila, dia benar-benar gila! Dia gak tau apa imbasnya ke kamu? Hah?” Dania terlihat marah. Ia berjalan mondar-mandi sembari memegangi keningnya. Tak habis pikir, mungkin seperti itu komentar yang ingin di sampaikan.


Iya, tak habis pikir. Aku juga tak habis pikir saat mendengar ucapannya. Alasan kehamilan, selalu membuat orang lain lemah. Seolah sedang mempermainkan keadaan dengan sesuka hati.


“Nindira lagi hamil, ibu hamil gak boleh stres ... gitu katanya.”


“Terus? Kamu setuju?”


“Syarat agar dia setuju untuk cerai.”


Umpatan demi umpatan keluar dari mulut Dania. Hampir seisi kebun binatang dia sebutkan satu per satu. Jika itu dulu, mungkin aku sudah marah. Namun untuk sekarang, rasanya memang pantas.


“Aku bilang padanya, aku gak mau cerai!”


“Apa?!”



Udah ngak usah tebak tebak. Nantikan kejutan dari othor. Pokoknya jangan lupa sajen dan Vote.

__ADS_1


Cerai gak yaaaaa ....


Zahra udah pantes sama Mantan belom nih??


__ADS_2