
...***Penyesalan terbesar seorang Ayah***...
Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas. Sudah waktunya Dean pergi menjemput orang tua Zahra. Sebelum pergi, ia tak lupa menyiapkan sarapan, juga meninggalkan note kecil di atas meja.
“Assalammualaikum, Om, Tante.” Sapa Dean saat melihat orang tua Zahra keluar dari pintu kedatangan.
“Waalaikum’musaalam. Ini, siapa?” Tanya ibu Zahra terlihat penasaran.
“Ibu lupa?” Dania mencoba mengingatkan. “Ini kakak kelas kita di SMA, Bu. Dulu sering ke rumah, dia bantu kita ngerjain tugas.” Lanjutnya.
Ibu Zahra menoleh, menatap suaminya yang juga tidak mengingatnya dengan baik. Alih-alih membiarkan orang tua menebak. Dean langsung mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri.
“Dean, Tante.”
Wanita tua berkepala empat itu, akhirnya mengingat sosok Dean. Lelaki yang dulu sering bertamu ke rumah dengan sopan.
“Masya Allah.” Ia memukul lengan Dean dengan pelan. “Tante pangling loh. Kamu udah gede, agak gemuk dikit ya.”
Dean hanya tersenyum malu. Melihat orang tua Zahra masih mengingat tentang dirinya, membuat hati Dean cukup lega. Setidaknya, lampu kuning masih menyala meskipun redup.
Mereka banyak mengobrol di dalam mobil. Tentang banyak hal. Mulai dari bertanya kabar, hingga status Dean.
“Yah gimana dong, Te. Yang di tungguin malah nikah sama yang lain.” Godaan Dean mampu membuat Ibu Zahra dan Dania tertawa. Tapi tidak dengan sang ayah.
Dia bahkan berdehem untuk menghentikan lelucon yang sama sekali tak terdengar lucu. Bahkan membuat Dean meminta maaf karena sudah bercanda dengan keterlaluan.
Tak sampai satu jam, mereka pun sampai di apartemen mewah milik Dean. Dania bahkan tertegun saat masuk ke dalam.
“Zahra mana?” tanya Ibu.
“Mungkin di kamar, Te. Masih tidur.”
__ADS_1
Tak mau menganggu momen, Dean akhirnya pamit untuk undur diri. Pekerjaan menjadi alasan yang cukup klasik untuk pergi.
Saat Dean menutup pintu, Zahra membuka pintu kamarnya. Ia langsung berlari memeluk sang ibu, yang sudah lama tak berjumpa.
“Bu ....” Tanpa sengaja, air mata Zahra tumpah. Kerinduan yang hampir setengah tahun terkumpul, akhirnya bisa ia curahkan.
“Kenapa nangis sih, Nduk?” Ibu buru-buru menyeka air mata Zahra dengan tangannya. Zahra menggeleng, seakan mengatakan bahwa dia tidak bersedih.
“Ayah sama Ibu udah makan? Zahra udah masak nasi, tadi juga pesen lauk, sebentar lagi mungkin dateng.” Zahra melepas mukena yang sejak tadi melekat di tubuhnya.
“Dean tadi siapa?”
Pertanyaan Ayah seperti todongan senjata laras panjang, yang langsung di arahkan tepat ke kepala. Namun, kali ini Zahra bersikap lebih tenang saat menghadapi sang Ayah.
“Yah, kita makan dulu ya. Setelah itu Zahra cerita semuanya.”
Sang ibu terlihat mencupit paha sang suami, dan memberikan lirikan tajam. Sinyal perang dari sang istri sudah menyala, alih-alih meneruskan, Pak Ahmed lebih memilih untuk diam.
“Kamu bisa cerita sekarang.” Kata Pak Ahmed saat Zahra meletakkan gelas kopi di hadapannya.
Zahra menghela napas panjang. Lalu, duduk dan mulai bercerita. Kisah yang begitu panjang, berawal dari sebuah status di sosial media, lalu merambat sampai dia bisa bertemu Dean, juga Nindira.
“Gak usah cemas, Bu. Insya Allah, Zahra ikhlas.” Zahra meremas tangan sang Ibu, berharap penyakit jantungnya tidak kambuh.
“Zahra bahagia sekarang. Meski gak sama Mas Abram. Ada banyak yang sayang sama Zahra. Ibu gak usah mikir aneh-aneh.”
Mata Bu Ahmed yang sejak tadi penuh air mata, kini satu persatu menetes. Seolah sedang menguras semua sumber air yang ada di pelupuk mata.
“Jangan nangis dong, Bu. Udah ya, Zahra bahagia cerai sama Mas Abram. Biar dia sama istri pertamanya.”
Tanggis Bu Ahmed semakin menjadi. Ia bahkab memukul-mukul dadanya yang terasa cukup sesak. Zahra segera menyuruh Dania mengambil obat untuk sang ibu.
__ADS_1
“Minum, minum obat dulu, Bu.”
Tidak memakan waktu lama, Zahra akhirnya berhasil menenangkan ibunya. Ketika keadaan sudah jauh lebih tenang. Tiba-tiba, Bu Ahmed menaruh tangannya di ubun-ubun Zahra.
“Asal kamu bahagia, Nduk. Jadi janda pun, ayah sama ibu masih bisa hidupin kamu.”
“Dania, kamu tau juga masalah ini?” Pak Ahmed menatap tajam ke arah Dania. Membuat gadis muda itu gemetar takut.
“I-iya, Pak.”
Seketika, wajah Pak Ahmed memerah. Ia bangkit berdiri dan masuk ke dalam kamar. Zahra buru-buru menyuruh Dania menenangkan ibunya, lalu menyusul ayah masuk ke dalam kamar.
“Ayah, jangan marah sama Dania. Dania udah bantu banyak.” Zahra bersimpuh di kaki Pak Ahmed yang sedang duduk.
“Ayah gak marah. Ayah cuma kecewa sama diri sendiri. Ayah bodoh, mau-maunya nikahin kamu sama lelaki kayak Abram.”
Zahra menggeleng, sambil terisak, ia memeluk kaki sang Ayah. Meminta ayah tercintanya untuk tidak menyalahkan diri sendiri.
Cinta seorang ayah sebesar apa?
Dia merelakan anak gadisnya kepada orang lain begitu saja. Namun, siapa yang menyangka kalau anak gadis kesayangannya itu tidak bahagia dalam pernikahannya.?
Bahkan, dia harus menelan pil pahit saat anaknya ternyata menjadi Istri Muda.
Sabar ya Neng. Bentar lagi bahagia kok
Like jangan ketinggalan. Vote juga jangan lupa.
Di lanjut agak sorean yaaa
__ADS_1