
...***Perbincangan Panjang***...
Tangannya mengepal kuat, mendengar semua cemooh, dan juga tuduhan, yang berbeda dengan kenyataan. Sekarang, ia menyadari, seberapa kuatnya media sosial, yang mampu mengerakkan pandangan orang hanya dengan sepengal kisah.
Aku, salah di bagian mana?
Detak jantungnya memburu. Marah, kesal, jengkel, semua berkutat dan bercampur menjadi satu. Hingga, air matanya tak sengaja jatuh, langsung menghantam lantai.
“Ada yang mau di tambah, Kak?” tanya petugas kasir saat Jordhan meletakkan beberapa kantong ice cream.
“Mau tambah sesuatu?” Jordhan melirik menatap Zahra. Namun wanita di sampingnya hanya menunduk sembari menggeleng.
“Totalnya 35.500 ya, Kak.”
Zahra segera menyodorkan selembar uang lima puluh ribu. Lalu, cepat-cepat pergi tanpa mengambil uang kembalian.
“Kak, kembaliannya.” Teriak petugas kasir.
Jordhan buru-buru mengambil kantong keresek, dan buru-buru mengejar Zahra. Dia bahkan berteriak pada petugas kasih untuk mengambil kembalian.
Langkah kaki Jordhan ternyata cukup cepat. Hanya beberapa langkah sebelum Zahra masuk ke lobi, Jordhan berhasil menangkap tangannya.
“Kenapa kamu lari?”
Gerakan tangan Jordhan yang gesit saat menangkap tangan Zahra, membuat wanita itu berputar arah. Sehingga, Jordhan bisa melihat dengan jelas, sorot mata Zahra yang sendu dan basah.
“Aku masih ada urusan, maaf.”
Alibi Zahra tak membuat Jordhan melapaskan tangannya. Dia justru menarik tangan Zahra, berjalan dengan langkah kaki tegas, ke sisi samping gedung dengan lantai empat puluh.
__ADS_1
“Mau kemana? Tunggu! Aku beneran ada urusan!”
Teriakan Zahra tak di gubris. Dia tetap menarik tangan wanita itu, hingga sampai ke sebuah taman. Rumput yang luas, dengan air mancur mini dan juga beberapa permainan anak kecil.
Jordhan melepaskan tangan Zahra begitu sampai di sebuah gazebo kecil.
“Disini sepi, juga tenang. Ayo duduk!” Ajak Jordhan.
Zahra terdiam sesaat, tak tau harus berbuat apa pada saat itu. Dia hanya melirik sekitar, melihat taman yang cukup luas itu terlihat sepi, bahkan hanya ada mereka berdua.
“Gak tau masalahmu apa, tapi tempat ini cukup enak untuk merenung.”
Perkataan Jordhan tak bisa di sangkal. Taman yang sepi, dengan angin semilir yang menyenangkan. Terlebih, dia bisa melihat jalanan kota yang lalu lalang tanpa mendengar kebisingan karena jaraknya cukup jauh.
Jordhan membuka satu ice cream, lalu menyodorkannya pada Zahra. “Ice Cream dan Coklat, katanya bisa balikin mood.”
Melihat Zahra sedikit lebih tenang, hati Jordhan merasa lega. Ia mengambil satu ice cream lagi, dan menemani Zahra menikmati suasana yang menenangkan.
“Menurutmu ....” Di tengah suasana hening dan tenang, Zahra tiba-tiba berbicara.
“Berita di sosial media itu bagaimana? Apa bisa di percaya?”
Jordhan menarik napas dalam-dalam, kemudian tersenyum tipis. Memperlihatkan kedua lesung pipi yang terlihat cukup manis.
“Entahlah. Jaman sekarang, banyak media yang memelintir berita. Melebih-lebihkan judul hanya untuk menarik minat pembaca. Seakan ngak perduli keadaan yang sebenarnya.”
Zahra mengangguk-angguk. Menyamakan dengan apa yang terjadi pada dirinya.
“Lalu, bagaimana dengan ini? Seorang lelaki menikah dengan perempuan karena paksaan, secara sirih. Dia sama sekali gak cinta gitu, terus, dia nikah lagi. Istri pertamanya tau, tapi istri ke duanya gak tau. Menurutmu, istri ke dua ini perusak rumah tangga atau dia hanya korban?”
__ADS_1
Zahra memandang serius, menatap Jordhan yang terlihat santai setelah mendengar ucapannya.
“Kamu ... bicara tentang dirimu sendiri?”
Zahra terdiam. Dia sama sekali tidak menyangka, kalau orang yang di hadapannya begitu pintar, hingga bisa menebak tentang dirinya.
“Ke-kenapa bisa aku? Aku lagi cerita soal berita yang lagi viral, kok.” Zahra berkelit dengan cepat. Ia bahkan tidak berani lagi menatap Jordhan.
“Dia korban.”
Jawaban Jordhan seperti burung merpati yang menyampaikan batalnya eksekusi mati. Zahra langsung menoleh, menatap Jordhan yang tiba-tiba berdiri.
“Dia korban, dia juga korban. Maksudku, istri pertama dan kedua, adalah korban keegoisan suami.”
Kenapa? Kenapa bisa mereka bedua korban?
“Jujur, aku tipe orang yang mendukung poligami. Hanya saja, poligami yang aku dukung bukan poligami yang sekarang. Zaman dulu, Rasulullah poligami hanya untuk memberi tempat ternyaman bagi para janda yang gak mampu. Tapi sekarang berbeda, hakikat poligami seakan tercoreng, alih-alih bisa bersikap adil dengan ke dua, ke tiga atau bahkan ke empat istrinya. Dia bahkan membuat hati istri lain terluka demi kepuasan mereka tersendiri.”
Zahra tertunduk, tak menyangka, penjelasan Jordhan mampu mengguncang perasaannya. Bahkan, air matanya pun menetes tanpa kendali.
“Banyak yang salah mengira, ‘Adil’ hanya berlaku untuk finasial dan kebutuhan di atas ranjang. Mereka seakan lupa, Adil yang paling berat adalah perasaan.”
Penjelasan tentang poligami murni pandangan Othor yaa. Ingat, setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda-beda.
vote jangan sampai lupa
Bab selanjutnya segera meluncur ....
__ADS_1