Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 16


__ADS_3

Hari berjalan seperti biasanya bagi orang lain. Namun bagi Zahra, setiap menit yang terlewat bagai belati tajam yang di lempar tanpa tahu arah. Satu-persatu, mata pisau menyayatnya hingga habis tak tersisa.


Pada malam setelah genap seminggu Abram pergi. Zahra tertuduk memandang sajadah yang baru saja di gelar. Tanpa ia sadari, air matanya tumpah.


Selama hampir sebulan, dirinya selalu berhushudzon kepada suaminya. Berpikir bahwa lelaki itu setia kepadanya. Namun satu minggu terakhir, harapan tentang kesetiaan itu pupus sedikit demi sedikit.


Abram berubah, dulu hampir tiap jam selalu memberi kabar. Melakukan panggilan vidio call agar istrinya tahu jika dia sibuk bekerja. Namun sekarang, Abram selalu berkelit setiap Zahra meminta Vidio Call.


Aku berharap setiap pradugaku salah, berharap Allah tak memberiku banyak petunjuk tentang dirimu. Tapi bagaimana pun bangkai di sembunyikan, juga pasti akan tercium.


Sudah selama ini, apakah hal kemarin menjadi jawaban dari-Mu?


Zahra menengadahkan kedua tangannya, menampung bulir air mata yang jatuh. Hatinya hancur, perasaannya terluka.


Setelah berpikir semalam suntuk, Zahra akhirnya mengambil keputusan terbesarnya. Keputusan yang mungkin akan merubah hidup, juga pernikahannya. Usai menunaikan solat tahajud, ia mengambil ponsel. Memberitahu Mulan bahwa dia setuju meminta bantuan Dean.


Mereka bertiga cepat-cepat datang usai mentari menyingsing hampir di atas kepal. Beruntung, saat itu tanggal merah. Sehingga Dania bisa datang dan turut membantu Zahra menyusun rencana.


Intan sudah diberitahu sebelumnya oleh Mulan. Kali ini, dia harus berpura-pura menyamar sebagai Zahra yang punya masalah.


“Kamu udah mantep kan, Ra?” tanya Dania.


“Insya Allah. Kita lihat aja alurnya gimana. Aku capek harus soudzon terus sama Mas Abram.”


“Aku udah info Dean. Dia minta vidio call, gimana?” Mulan menunjukkan pesan whatsapp dari Dean.


Mendengar itu, Zahra buru-buru beralih posisi. “Ya udah, Intan duduk di tengah, aku nguping di samping.”


Tempat duduk sudah di atur. Intan diapit Mulan dan Dania. Sedangkan Zahra, duduk di depan mereka. Memastikan kalau Dean bertanya sesuatu yang lebih detail.


...Memanggil Dean ..........


“Hai gils, What can i help you?” Sapa Dean.

__ADS_1


“Udah ngak perlu basa-basi. Jadi gini nih, ini temenku, Intan.” Mulan memperkenalkan intan kepada sepupu jauhnya Dean.


Usai berkenalan, Intan mencoba menceritakan apa yang di alami Zahra. Benar, Intan berpura-pura sebagai Zahra dan menceritakan apa yang dia alami beberapa hari ini.


Dua puluh menit berlalu, cerita Intan berakhir pada moment satu minggu belakangan ini. Dean mengangguk-angguk sembari bermain pena. Seolah sudah mengerti masalah apa yang merka hadapi.


“Aku bisa bantu kalian. Cari bukti perselingkuhan itu gampang, cuman ....” Perkataan Dean terpotong, sedangkan raut wajah mereka terlihat tegang.


“Zahra, aku tau kamu mendengarku!” Lanjut Dean dengan tatapan tajam melihat ke kamera yang menyala.


Degh!


Jantung mereka berhenti untuk sesaat bersamaan. Bagaimana mungkin dia tahu kalau Zahra bersama mereka? Jelas-jelas Zahra sudah bersembunyi dengan baik.


Seperti itulah, berbagai pertanyaan yang ada di kepala mereka.


“Kamu ngaco. Mana ada Zahra? Di sini cuma ada kita bertiga.” Mulan mencoba mengelak.


“Bohong mau sampai kapan? Dibelakang kalian ada foto pernikahan Zahra!”


“Iya, kita ada di rumah Zahra sekarang, tapi Zahra gak di sini. Dia ... baru aja keluar, beli makan!”


Dean seperti acuh saat mendengar pembelaan Dania. Ia menggeleng sambil tersenyum. Mengingat bertapa lucunya mereka dulu saat SMA.


“Dan, hal yang aku gak nyangka sampe sekarang, kamu masih aja belain Zahra. Mau sampe kapan sih?”


“Gini, aku gak nolak buat bantu kalian. Aku tetep akan maju, cuman ... aku gak mau punya klien yang pandai berbohong!”


Mereka semua diam membisu. Tak ada alasan yang mampu mereka ucap untuk membela Zahra. Sekarang, keputusan sepenuhnya ada di tangan Zahra.


Lanjut, atau sudahi cukup sampai di sini.


“Aku tahu masalahmu, Ra. Aku mau bantu kamu.” Dean melanjutkan pembicaraan saat mereka semua masih terdiam.

__ADS_1


“Nomerku masih sama, seperti yang dulu. Kamu bisa menghubungiku kapan pun. Sampai jumpa!”


Panggilannya di akhiri begitu saja oleh Dean. Kini, mereka bertiga fokus menatap Zahra. Menunggu wanita itu memberi jawaban.


Zahra menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya sesegera mungkin. Sekarang bukan hatinya yang berat, pikirannya pun juga terasa berat. Memikirkan banyak hal yang mungkin akan dia hadapi.


Melihat Zahra makin termenung, Dania berdiri dari duduknya. Perlahan-lahan menghampiri Zahra lalu memeluknya.


“Ada aku, Ra. Ada kita.”


Pelukan hangat dari Dania rupanya mampu membuat hati Zahra sedikit lega. Terutama saat Mulan berkata, bahwa dia akan selalu siap membantunya sampai akhir.



Simpul senyum yang hampir satu bulan ini tak pernah terlihat, perlahan terukir di wajah cantiknya. Memudarkan beberapa kecemasan dan kegundahan.


Sehari penuh Zahra menenangkan diri dan merenung di kamar. Ia sudah mengambil keputusan usai solat magrib. Keputusan bulat yang tidak bisa di tawar lagi.


Zahra mengambil ponsel, mencoba mengingat beberapa angka yang masih membekas di hatinya. Nomer telepon couple yang pernah mereka pakai dulu, dan hanya berbeda satu angka di tengah.


Setelah ini, Ra. Kamu gak akan bisa balik badan lagi, dan gak boleh menyesali keputusanmu.


“Dean ... ini aku, Zahra.”


...☘☘☘☘☘☘☘☘☘...


Sudah Like belum?


Sudah di jadikan Favorit belum?


Sudah Vote belum?


Semuanya GRATIS tanpa dipunggut biaya!

__ADS_1


Bilang sama admin kalau di punggut biaya nanti.


__ADS_2