
...***Mengurus Cerai***...
Zahra Pov
Setelah memutuskan menikah, lalu bercerai, ngak segampang itu. Ada perasaan yang harus di tata lebih dulu. Situasi yang harus di kondisikan. Kesiapan mental juga batin, tak kalah pentingnya.
Nyatanya, banyak juga wanita yang bertahan meski hatinya di pecahkan oleh suami sendiri. Tidak mau munafik dan berteriak-teriak bahwa mereka cukup konyol karena mau bertahan. Karena, aku juga sempat merasakan hal yang sama.
Tidak mudah, melepaskan orang yang begitu kita cintai begitu saja. Sampai, kehidupan mengajariku banyak hal.
Kesehatan mental jauh lebih di butuhkan dari pada kesehatan hati.
“Ra ....” Panggilan Mulan menyadarkan lamunan sekilas. Membuatku sadar kembali dari kenangan buruk yang sudah terjadi.
“Aku baru tau dari Dean.”
Perkataan Mulan membuat kepalaku tegak. Menatap gadis itu dengan wajah lesu.
“Aku gak nyangka kalau Tante ....”
Ahh sepertinya aku tahu. Kemana arah pembicaraan kita kali ini.
“Cerita lama, Lan. Aku udah gak masalahin itu lagi. Terlebih, aku denger dari Dean, Tante lagi ngak baik.”
“Sory banget, Ra. Aku dulu sempet salah paham sama kamu, bahkan sampai Dean bicara soal Tante. Maaf banget ya, Ra.”
“Udah lewat kali, Lan. Aku udah lupa, lagian, sekarang udah oke kan?”
Pelukan hangat dari Mulan tiba-tiba mampir. Menyapa dengan penuh rasa bersalah. Aku gak pernah membayangkan, atau menebak tentang pikiran buruk Mulan terhadapku dulu. Satu hal yang saat itu aku pikirkan, adalah kemarahan dia saat tau aku meninggalkan Dean begitu saja.
It’s so funny. Ketika keadaan akhirnya mempertemukan kami kembali empat tahun lalu. Bahhkan waktu membuat kami menjadi teman yang cukup akrab. Selain itu, juga mempertemukan aku kembali dengan Dean. Mungkin, memang takdir kita seperti ini. Aku harus menyandang status sebagai Janda lebih dulu sebelum bisa bersamanya lagi.
__ADS_1
Setelah perbincangan yang cukup panjang, hingga memakan waktu setidaknya tiga jam. Kami ber-empat memutuskan pergi ke kantor Pengadilan Agama, hari ini juga. Menyelesaikan perceraian agar aku bisa kembali hidup dengan bebas.
Mulan terlihat cukup bersemangat diantara kami, tapi, dia harus mengurungkan niatnya saat ibu menghubunginya. Dia harus segera pulang saat itu juga, karena dua anaknya menangis merindukan ibunya.
“Sory ya gaes, aku balik dulu. Anakku lagi rewel.”
“Santai aja, besok kita main ke rumah deh. Aku juga bawa banyak oleh-oleh buat mereka.”
Perjalanan berlanjut setelah mengantarkan Mulan. Mengendarai mobil pemberian Abram, rasanya memang sedikit risih. Namun, barang yang dibeli atas namaku, juga yang sudah dia berikan, gak masalah kan kalau terus di pakai?
Selagi fungsinya masih ada.
*Mau ngomong soal g*engsi? Apa itu?
Maaf aku gak kenal!
*Selagi itu pemberian dari suami sendiri.
“Pak, saya mau daftar perceraian. Oh maaf ... maksudnya, saya mau menggugat cerai suami saya.” Kataku langsung to the poin begitu sampai di kantir Pengadilan Agama.
Sontak, dua petugas pria dihadapanku ini terbelalak. Salah satu dari mereka mengambil berkas yang aku sodorkan, sedangkan yang lain, fokus menatap kami bertiga.
“Mbak nya masih muda, kenapa main cerai sih?” Lontar seorang petugas wanita yang tiba-tiba datang entah dari mana arahnya. Seperti Jailankung yang datangnya tidak di undang.
“Iya gimana ya, Bu? Saya di tipu, waktu nikah ngakunya Jaka, ngak taunya udah nikah sirih. Belum lagi, main fisik. Kalau lakik begitu di pertahanin, bisa habis masa muda saya.”
Perkataanku seakan membungkam mulut mereka semua. Bahkan, wanita itu langsung mengambil berkas dengan kasar dan pergi begitu saja. Sedang dua lelaki di depan, justru saling pandang.
“Khilaf kali, Mbak.” Sahut salah satu dari mereka.
“Pak! Kemaren denger kasus ngak? Istri penggal kepala si burung milik suami nya, ya itu, gara-gara selingkuh. Waktu di tanya, dia jawabnya juga khilaf!” Timpal Dania yang terlihat marah.
__ADS_1
“Emm, eh iya. Berkasnya langsung kami urus ya, Mbak.” Jawab salah seorang dari mereka yang terdengar gugup.
Setengah jam duduk sembari menunggu kepastian. Akhirnya aku mendapatkan dua surat. Selain mendapatkan itu, petugas juga menjelaskan kalau surat gugatan untuk suami, akan langsung di kirim ke alamat.
"Mbak langsung urus administrasi di pojok sana. Mbak tinggal bawa berkas ini aja. Setelah selesai, tinggal tunggu tanggal sidang ya, Mbak."
"Oke, Pak. Makasih ya."
Baru berjalan beberapa langkah. Sayup-sayup aku mendengar pembicaraan dua petugas itu.
"Wedok ayu ngunu, dadi bojo enom? Edan tenan!"
(Wanita cantik begitu, jadi istri muda. Benar gilaa)
Perbincangan itu sontak membuat senyumku lepas kendali. Bahkan, Intan dan Mulan juga tak sungkan tertawa kecil.
Iya lah cantik, anaknya Pak Ahmed.
Hemmm senyumnya Mbak Zahra.
Iya iya, setelah cerai nikah sama bang Dean ya. Biar othor gak di serbu 😅😅
BTW, Othor kurang pengalaman tentang cerai gugat dan prosesnya. Jadi mohon di maklumi kalau ada bagian yang salah dalam proses penggurusan.
Othor masih flu berat, jadi belum bisa up banyak.
Tapi tenang aja, DeZa (Dean Zahra) bakal othor kawal sampai nikah, sampe malam pertama, sampe punya anak.
Jadi VOTE jangan sampe lupa. Kopi sama kembangnya juga, Likenya juga ♡♡♡♡♡
__ADS_1