Ternyata, Istri Muda

Ternyata, Istri Muda
Bab 44


__ADS_3

...***Dean Nge-gombal***...


"Kamu udah tau masalahku?” Tanya Zahra pada Dean yang sedang minum air. Dean hanya mengangguk, sambil terus meneguk air.


“Dania telfon aku tadi pagi. Dia lagi ada job, jadi Mulan pergi ke rumah secepat mungkin. Mereka coba hubungin kamu.”


Zahra diam tertunduk, bahkan memukul keningnya dengan ponsel Dean yang masih dia pegang. Bodoh, satu kata umpatan terus keluar dari bibir tipisnya. Berkali kali menghardik diri sendiri atas kecerobohannya.


“Mee ....” panggil Dean pelan. Zahra menegakkan kepalanya, menatap Dean yang berdiri di depan meja.


“Aku masih butuh hp itu. Jangan di pukul-pukul begitu!”


Zahra melihat tangannya masih mengengam ponsel Dean. Lalu melirik ke depan, menatap lelaki itu sedang tersenyum, memamerkan gigi putihnya. Dean sedang menghina dia, begitu pikirnya.


“Kamu kira kepalaku batu? Jadi bisa rusak HP mu?” Zahra meletakkan ponsel Dean ke atas meja dengan kesal.


“Aku gak bilang, kamu yang bilang sendiri!”


Rasa jengkelnya memuncak, hampir mencapai ubun-ubun. Namun, semuanya berhasil di tekan oleh rasa terima kasih. Jika bukan karena Dean, dia tidak mungkin bisa mendapatkan kabar dari orang rumah secepat menungkin.


“Dean ....”


Suasana yang sempat tegang kini berubah. Dean sudah pasang badan sejak awal. Takut kalau Zahra akan melempar bantal, atau mungkin ponselnya. Tapi yang terjadi justru berbeda. Nada panggilan Zahra terdengar lembut, sampai di indra pendengarannya.


“Terima kasih.”


Seulas simpul senyum yang terukir di wajah Zahra. Membawa kedamaian di hati Dean. Harapan lelaki itu tak banyak, dia hanya ingin Zahra terus tersenyum seperti itu. Sama seperti dulu, saat mereka masih saling berbagi kasih.

__ADS_1


“Kamu mau gimana sekarang?” tanya Dean.


“Cari cas dulu sambil liat jadwal. Baru nanti telfon mereka.” Pandangan mata Zahra berubah lagi. Perasaan cemas tak bisa dia tutupi.


“Pake HP ku aja dulu. Sambil jalan cari cas, gimana?”


“Bukannya kamu ada urusan?”


“Masalah kecil. Ayo!”


Zahra mengambil tas, lalu segera pergi mengikuti langkah Dean. Demi menghindari fitnah yang mungkin akan terjadi, Zahra mencoba untuk menjaga jarak. Bahkan dia memilih naik lift yang berbeda dengan Dean.


Dean juga tak masalah dengan itu. Sekali pun Zahra berdiri atau berjalan dengan jarak 1 meter darinya, selagi wanita itu masih dalam jangkauannya, dia merasa tak ada masalah.


“Iya, iya, gak masalah. Aku minta tolong Mulan bawa mereka ke Hotel dulu.” Jelas Zahra berbicara pada Dania di telepon.


Bertemu dengan teman-teman yang hebat, membuat Zahra terharu hingga menitihkan air mata. Dia cukup beruntung, mempunyai banyak teman yang saling mengandalkan.


Dean melirik ke samping, melihat Zahra sedang mengusap air mata yang tiba-tiba jatuh. Ia mengambil tisu, lalu memberikannya pada Zahra.


“Punya temen baik kayak mereka, harusnya bahagia. Eh, malah nangis!” Gerutu Dean.


“Ini air mata bahagia! Kamu gak tau?”


“Mana mungkin? Bahagia itu tertawa, eh malah nangis.” Ejeknya lagi sembari fokus menyetir.


“Kamu aja yang *katro*k. Ndeso! Gak tau air mata kebahagiaan itu kek apa!”

__ADS_1


Sudut-sudut bibir Dean terangkat, “Memang aku gak tau, coba kasih tau aku!”


“Gimana caranya? Kamu harus bahagia dulu, bahagia banget, sampe akhirnya netes. Tau ngak?”


“Emm, mungkin ada satu cara, gimana aku bisa rasain apa itu bahagia sampai nangis.”


Zahra melirik, menatap ketampanan Dean saat mengemudi. Ada rasa penasaran yang menyapanya. Dean, lelaki yang sejak masa SMA di kenal cuek dan dingin. Lalu, bagaimana caranya?


“Gimana caranya? Temenmu aja cuma dikit.”


“Oh, tidak! Bukan teman, tapi kamu.”


“Aku?” Zahra makin penasaran. Bagaimana dia bisa membuat Dean menangis karena bahagia?


“Iya. Aku, kamu, dan ayah. Duduk di depan penghulu mengucap Qabul.”



Kasih uwunya dikit lah yaa


Biar kagak tegang mulu 🤣


Votenya mana Vote!!!!!!


Jangan sampe ketinggalan, jangan sampe lupa.


Sajen sajen, kembang kek, kopi kek. 😆

__ADS_1


Othor jadi kang malak bentar laah 🤭


__ADS_2