
...***Penantian Dean Terjawab***...
“Maaf, klien saya belum bisa di mintai keterangan karena keadaannya.” Jelas Dean sembari merogoh ponsel. “Mungkin, ini bisa membantu.” Ia menyodorkan ponselnya kepada dua orang itu.
“A-apa ini?” Tanya bapak-bapak berkaus.
“Rekaman suara. Kebetulan, saya terus berkomunikasi dengan Ibu Zahra. Sebagian, saya juga mendengar apa yang terjdi.”
Dua orang itu mengangguk, seakan mengerti dengan situasi yang terjadi. Zahra yang mendengar itu, sontak terkejut. Ia bahkan tak percaya, kalau Dean akan merekam panggilannya.
“Baik, kalau begitu, kami bawa ini dulu sebagai bukti,” mereka memasukkan ponsel ke dalam kantong.
“Bu, Zahra, cepat sembuh ya. Kami permisi dulu.”
Dua orang itu keluar ruangan secara bergantian.
Mata Dean masih fokus menatap Zahra, yang sesekali menekan-nekan ujung kukunya. Intan melihat situasi sedang tegang, memilih untuk memberi mereka ruang. Wanita itu pergi dengan alasan membeli makanan.
Dean tanpa ragu berjalan mendekat usai ruangan menjadi sepi. Lalu, menarik tangan Zahra yang sejak tadi menekan ujung kuku, dan memeluknya.
“Ada aku, jangan khawatir.”
Sudut mata wanita itu menjadi basah. Bahkan, ia tak lagi sungkan menangis sesengukan di pelukan Dean. Lelaki yang seminggu lalu melamarnya berkali-kali, tapi Zahra belum juga memberinya jawaban. Maksud kedatangannya kali ini, sebenarnya untuk menagih hutang. Namun setelah semua yang terjadi, Dean hanya bisa menelan salivanya kasar dan menunggu.
“Aku gak membuatnya celaka. Sumpah!” Ucap Zahra sesengukan.
Dean membelai ubun-ubun wanita itu, dan terus berusaha membuatnya tenang. Hingga beberapa menit kemudian. Zahra mendorong sedikit tubuh Dean, dan mengambil beberapa lembar tisu di atas nakas, untuk mengusap sisa air mata dan ingusnya.
“Kamu denger sendiri kan? Aku nawarin dia minum, dan aku ambil botol yang masih segel di meja. Aku langsung kasih loh, dan itu masih segel!” Nada Zahra mulai meninggi. Dia sendiri seakan tidak percaya, kalau Nindira bisa melayangkan tuduhan seperti itu.
“Iya, aku tau. Kamu bukan orang yang seperti itu.” Jelas Dean sambil duduk di kursi yang berada tepat disebelah ranjang.
__ADS_1
“Gimana dia sekarang? Anaknya gimana?”
Dean tertunduk sesaat, lalu menghela napas kasar, dan menegakkan kembali kepalanya. “Mereka baik-baik saja. Dokter menangani mereka dengan cepat!”
Dia mengangkat satu tangannya, menyikap rambut Zahra yang terlihat berantakan. Sembari meyakinkan Zahra untuk tidak khawatir dan cemas akan kondisi Nindira.
Zahra menghela napas pendek, pandangannya jatuh ke depan, entah sedang menatap apa. Dean jelas bisa melihat, bahkan wanita yang sedang di kejarnya itu sedang melamun.
“Kenapa?” Tanya Dean penasaran, tentang hal yang sedang di pikirkan Zahra.
“Ngak, aku cuma ngerasa sedikit aneh.”
Perkataan ambigu Zahra, membuat Dean makin penasaran. Hal aneh apa yang di rasakan Zahra? Hingga wanita itu berpikir cukup lama.
“Dean, kamu punya nomernya Mbak Zia?” Tanya Zahra, yang tiba-tiba bertanya tentang teman sekelas Dean dulu.
“Zia? Cewek aneh bermata empat itu?”
“Iya, yang dulu naksir kamu!”
“Mana ada! Aku gak punya. Ngapain juga aku simpen nomer yang gak penting gitu?” Dean terdengar kesal.
Zahra kemudian meraih ponsel yang ada di atas nakas. Lalu, menyodorkannya pada Dean. Meminta lelaki itu membuka sandi ponselnya.
“Tanggal lahirmu!” Ucapnya masig terdengar kesal. Bahkan bicara pun, dia masih engan menatap Zahra. Zahra pun mendengus, saat melihat respon marah Dean yang justru imut di matanya.
Tidak mau berlama-lama, wanita itu langsung menghubungi Mulan, untuk meminta nomer telfon Zia. Seorang wanita yang umurnya lebih tua dua tahun, juga teman sekelas Mulan.
“Ngapain minta nomer dia?” Dean rupanya masih jengkel. Namun, kejengkelan pria itu tidak membuat Zahra mengalihkan perhatiannya.
Dia justru menghubungi Zia dengan memakai ponsel Dean. Mengingat, ponselnya telah di berikan kepada polisi untuk infestigasi.
__ADS_1
“Hallo Assalammualaikum, Dokter Zia.” Sapa Zahra penuh sopan.
“Waalaikummussalam. Maaf, dengan siapa ya?”
“Zahra, Dok. Zahra Ameera. Dulu di kelas 10 A-5, mantan osis juga. Dokter, masih inget?”
“Zahra yang rambutnya lurus, panjang, itu kah? Yang jadi primadona dulu?”
Mendengar pujian seperti itu, membuat Zahra tertawa renyah. Tidak banyak mereka berbasa-basi, sampai akhirnya, Zahra bertanya sesuatu yang terdengar cukup serius.
“Oligospermia, punya kemungkinan sekitar 20-30 persen. Tapi bisa tergantung dengan kondisi juga sih. Jadi perlu di cek dulu, itu termasuk yang parah atau gimana.” Jelas Zia yang sudah bekerja selama tiga tahun sebagai dokter kandungan.
“Ah begitu. Oke oke, Dok. Makasih buat infonya dan waktunya ya. Next time kita sambung lagi.”
“Iya, Ra. Aku safe nomer kamu ya?”
“Sebenernya, ini bukan nomerku, Dok. Kebetulan ponselku lagi rusak, kalau udah oke, aku kabarin ya. Ini aku pakai nomer calon suamiku!”
Mendengar kata ‘calon suami’, Dean langsung menoleh. Menatap Zahra yang masih berbicara dengan Zia, tapi matanya, justru melirik ke arah Dean. Perkataan itu seakan memberi Dean sebuah status, dan telah mewakili jawaban dari penantiannya selama ini.
Udah dapet jawaban, Bang Dean jangan manyun lagi dongggg. Othor bisa di timpuk readers nih 🙈🙈
Yok tebak menebak lagi.
Siapa yang kena Oligospermia?
Yang di perut Nindira, beneran anak Abram bukan?
Nb:
__ADS_1
Oligospermia adalah suatu kondisi ketika ****** dalam air mani yang dikeluarkan saat ejakulasi berjumlah sedikit. Oligospermia bisa menjadi penyebab utama ketidaksuburan pada pria. Oleh sebab itu, kondisi ini perlu diatasi guna memperbesar peluang memiliki keturunan.
Jeng jeng jeng jeng!!!!!!